Semangat Gie, yang Tak Pernah Mati

Sebagian peserta sudah pulang :) (koleksi foto milik Mas Rob)


Saya acap merasa terlambat mengenal sosok Gie. Bahkan amat sangat terlambat. Zaman sekolah, sempat tertanya-tanya sendiri melihat orang banyak membicarakan sosok Gie. Terutama sekali ketika film Gie baru beredar. Baca bukunya tidak, menontonnya pun apalagi. Jadilah saya remaja adalah orang yang tak mengenal Gie sama sekali. 

Lalu kini ketika menuju tua, sedikit demi sedikit saya mengenal sedikit tentang Gie. Dari gambar-gambar yang beredar di media sosial dengan quotenya, dari tulisan-tulisan teman yang dipublish atau tulisan-tulisan user Indonesiana yang saya baca.Lalu soalan yang menggelitik saya adalah, "Membaca apa saja saya selama ini?" Ah! Tapi tak perlu menyesali nasib. Toh, mungkin lingkaran pertemanan saya ketika remaja dulu tak ada juga yang mengenali Gie. 

Sejak Majalah Tempo mengeluarkan Edisi Khusus (Edsus) Gie, iseng-iseng saya mulai membaca tentang Gie. nah, ini yang saya rasa hadiah paling mahal ketika terdampar bekerja di tempo Media. Saya bisa mengenal lebih banyak sosok-sosok yang jarang sekali saya ketahui. Siapa-siapanya nanti menyusullah, ya... ^_^ semoga saya tetap konsisten menulis.

Lalu, muncullah ide untuk Nonton Bareng Gie dari Mbak Vema. Karena saya tahu Gie lahir pada tanggal 17 Desember 1942 dan meninggal pada 16 Desember 1969, akhirnya dipilih tanggal 16 Desember sebagai Nobar Gie bertempat di Kantor Tempo. Rencana yang awalnya hanya nobar dengan teman-teman dekat saja, menjadi berubah  sedikit besar ketika pihak Kompas Gramediaturt serta mendukung. Ya, ini karena KPG menerbitkan edisi khusus Tempo, Catatan-catatan Gie.  

Disusunlah segala rencana. Termasuk ketika Mbak Isti mengusulkan mengundang sahabat-sahabatnya Gie seperti Herman Lantang, Aristides, Yopi Lasut juga beberapa teman-teman dekat perempuan Gie. Saya mendapat tugas mengetik surat-surat Gie yang tidak pernah terpublish. Dibagi dua dengan Mas Rob tentu saja. Rasanya, menyenangkan sekali mengerjakan menyalin surat ini. Saya seperti berada di jarak yang sangat dekat dengan Gie. Padahal hanya membaca surat-suratnya saja.

Mengetik satu persatu kalimat ejaan lama yang harus saya sesuaikan dengan ejaan sekarang sedikit rumit. Surat yang ditulis menggunakan mesin ketik ini warnanya tentu saja sudah berubah. Kuning. Saya sempat tertawa-tawa ketika tahu beberapa typo yang kemudian disilang itu ternyata sebuah kalimat yang salah. Itu pun setelah dikasih tahu oleh Mas Rob. Menyalin surat pertama saya langsung disadarkan beberapa hal. Betapa sejarah yang lama terus berulang. Sara menjadi isu utama yang mudah sekali diadu domba. 

Surat-surat Gie yang tidak pernah terpublikasi merupakan surat yang dikumpulkan oleh rakan-rakan Gie sendiri. Ini salah satu cuplikan Surat Gie untuk Boediono:

Jakarta 28 Juni 1969

Boedi yang baik,

Gue udah lama bener nggak ketemu sama lu. Seingat gue kita bertemu terakhir bulan September tahun yang lalu. Waktu itu lu mau kawin sedangkan gue ke Amerika. Jadi kita nggak ketemu waktu hari perkawinan lu. Lalu lu tulis surat sama gue dan gue nggak balas sampai sekarang. Tiba-tiba gue ingin tulis surat sama lu, jadinya gue tulis sekarang.

Gue nggak tahu apakah surat ini gue kirim perpos atau gue titip sama teman gue yang mau ke Rumbai. namanya Kartini Panjaitan. Kalau lu ada kesempatan lu temui die, dan lu bisa dengar banyak tentang teman-teman yang lain. Dia anak sastra. Terakhir gue naik gunung sama dia ke Cermai. Lu bisa cocok sama gue (kenapa yaa?- barangkali kita sama-sama sinting: ya), sedangkan gue cocok sama die, jadi gue pikir kalian juga bisa sama-sama pasang orong-orong yang panjang. Rini lu juga cocok, abis dia juga tukang guyon sih. Nah kalau kalian bertiga bertemu, tukang-tukang guyon, gue pikir rame deh, atau rusak barangkali. Dia akan di Rumbai Selasa bulan Juli. Kalau ada waktu temui deh.

Saya sekarang telah selesai dan kerja di FSUI. Rasanya gue nggak punya tujuan hidup. Gue dapat kamar kerja, dapat meja dan dapat jabatan. Jadi birokrat perguruan tinggi. Rasanya aneh sekali.... "Jadi bapak dosen yang terhormat". Kursi tempat gue duduk rasanya ada pakunya. Kalau gue uduk setengah jam saja, pantat gue rasanya panas. Rasanya mau pergi aja. Ke warung beli es atau makan gado-gado. Kalau gue terima tamu gue lebih senang duduk di tempat lain. Kalau tamunya mahasiswa rasanya lebih enak duduk di ubin dekat phon-pohon pisang. Dan gue gelisah , mondar-mandir seperti cacing kepanasan.

Satu hari gue datang ke rapat pemilihan dekan yang dipimpin oleh rektor. Gue datang pakai blue jeans. Ketua jurusan Jepang datang, "selamat ya, sudah lulus. Jij sekarang bukan mahasiswa lagi. Napa pakai blue jeans kaya kwayongan", katanya tertawa. Padahal gue mau naik gunung sama Kartini waktu itu. Pokoknya jadi sarjana susah deh. Gue inget pengalaman lu waktu lu ajak kuli-kuli makan. Rupanya kalau jadi sarjana kita musti sok gaya (tai kucing semuanya-gue lebih senang jadi orang bebas)

Kehidupan menjadi tenang kembali. Orang-orang berpikir tentang kerja-kerja rutin dan rencana-rencana kecil yang mau dilakukan. Sebelum saya lulus tujuan "tujuan hidup" adalah bikin skripsi yang baik. Setelah itu selesai ternyata gue nggak punya lagi gantinya (katakanlah sementara). Hidup gue dirutin. Bangun pagi, pergi ke kantor, lalu ngomong-ngomong atau bikin lelucon, pulang, kadang-kadang bikin karangan atau nonton. Lalu tidur. Kadang-kadang terima tamu dari luar negeri. jadi diplomat sebentar. Untuk saya keadaan ini tidak menarik. 



16 Desember lalu banyak yang datang. Orang-orang yang sudah sepuh, orang-orang muda juga para remaja. Kawan-kawan Gie, jangan ditanya. Mereka juga turut serta. Kadang saya membatin sendiri, yang kemudian diobrolkan dengan teman.Gie, seperti manusia yang diselamatkan oleh zaman. Ia mati muda, tapi semangat dan idealismenya masih menyala. 

4 komentar:

  1. Saya kenal Gie juga jaman masuk kuliah mbak. Senior di Persma njejelin buku Catatan Harian Seorang Demonstran, terus mereka pada ngefans dengan sosok Gie. Akhirnya jadi baca-baca deh. Terus ikutan ngefans, apalagi dia juga anak PA ahahahaha. Btw edsus Gie daku nggak dapat hiks :(

    BalasHapus
  2. Wow! Saya malah baru tau surat Soe Hok-gie ini. :O

    BalasHapus
  3. Saya gak terlalu mengikuti sosok Gie. Termasuk ketika difilmkan. Tetapi memang kalau saya perhatikan, semangat Gie ini banyak mengisnpirasi banyak orang

    BalasHapus
  4. Belum kenal Gie. Blom pernah baca. tapi denger lagunya, itu soundtrack film Gie, saya seneng.
    Surat si Gie keren ya, lumer gitu bahasanya...

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P