Dua Kuli Kardus Cantik

3 April lalu, saya menuliskan tentang Jeni, seorang teman kuli kardus dari Satu Juta Buku untuk Indonesia (Sajubu). Kuli kardus? Maksudnya apa, sih? Di antara teman-teman pegiat literasi, kami acap menyebut diri kuli kardus. Orang-orang yang sering bersentuhan dengan kardus saat mengemas buku. Baik ketika sortir mau pun packing. Lalu besoknya, tanggal 4 April melihat kenangan di facebook rupanya dua tahun sebelumnya saya pernah menuliskan tentang Diaz, yang notabene sama-sama kuli kardus dari Sajubu. Hahahaha... Selang dua tahun, saya menuliskan dua orang dari komunitas yang sama.

Kenapa, sih, saya suka iseng menuliskan teman-teman? Apakah saya akan menuliskan tentang semua teman-teman saya? Saya suka memerhatikan tindak tanduk teman-teman yang kerap saya temui. Dari cerita mereka, melihat cara mereka saya selalu berusaha untuk selalu belajar. Dari hal baiknya, pun ketika ada yang buruknya. Di antara lingkaran pegiat literasi, saya banyak belajar dari mereka. Saya orang yang tersesat di dunia antah berantah ini dengan nol pengalaman sedikit-sedikit jadi tahu. Dengan melihat mereka sortir buku, input data dan sebagainya.

Kawan-kawan Sajubu ini menarik. Mereka, sudah mengirim lebih dari 30 ribu buku ke hampir 800 jejaring yang terdaftar di sisfo sajubu di seluruh Indonesia. Ini data tahun lalu, belum ditambah tahun ini di mana mereka menerima sumbangan buku hampir lima ton dari Australia. Ya, lima ton. Jangan bayangkan buku itu sebanyak mana. Terima kasih kepada kalian yang acap mengajari jalan senyap. Barangkali, setelah ini nanti saya bisa menuliskan tentang Nopi. Karena setidaknya, azam saya sebelum mati itu menuliskan tentang orang-orang terdekat hehehehehe...

Nah, dua tulisan ini saya copy paste dari instagram tanpa edit. Tentang Jeni dan Diaz.

Jeni Fajarnisfi, ditulis pada 3 April 2017

Ikutan narsis :D


Saya tak akan lupa, ketika seorang kawan karib berujar di depan saya demi menceramahi saya yang kadang nggak bisa mikir, "Dia bisa memilih berteman dengan siapa saja, tapi dia tidak bisa memilih akan ditemukan dengan siapa. Kehendak-Nya, ketika ia selalu ditemukan dengan orang-orang baik di dalam lingkarannya." Waktu itu, jam mendekati pukul dua pagi. Saya terdiam. Menyimak kalimat demi kalimat yang disampaikan kawan karib saya tersebut. 

Mengingat kalimat di atas, saya jadi ingin bercerita salah satu teman yang ditemukan dengan saya. Di sebelah saya ini namanya Jeni. Jeni Fajarnisfi. Entah benar, entah tidak. Saya pun tak pernah menanyakan nama penuhnya.


Jeni, saya kenali sebagai sesama kuli kardus. Dia, aktif di komunitas Satu Juta Buku untuk Indonesia (sajubu) bertemu Jeni, karena ia kerap terlihat bersama dengan Novita.
.

Keakraban kami menjadi tiba-tiba saat saya mulai sering menginap di kosannya seusai kegiatan Berbagi Nasi Bogor.

Ya, selain aktif sebagai kuli kardus, Jeni pun aktif di Bernas Bogor. Jeni, bukanlah orang yang mudah akrab dengan teman baru. Hati-hati ketika bicara, dan tertutup di cerita lainnya. 
.
Alumni Sekolah Menengah Atas Kimia Bogor (SMAKBO) ini tah hanya piawai memegang bahan-bahan kimia. Selain cepat ketika mengemas kardus, teliti dalam menghitung uang, ia juga pandai memasak dan membuat kue. Satu hal yang saya tak tahu dari Jeni sebelumnya.

Pun tak lama saya baru tahu, jika selain bekerja sebagai karyawan, Jeni juga mempunyai usaha sendiri. Saya, seperti orang yang baru mengenalnya.
Mengenali Jeni, adalah mengenal seorang yang bekerja untuk komunitas dengan dasar ketulusan. Di saat lelah, tak ada kesah. Ia tak menyukai segala kesulitan untuk sebuah keperluan.


"Kalau mau bantu, kenapa harus pakai proposal, sih?" Protesnya suatu hari. Yang kemudian saya tertawakan. Saya bilang, tak semua orang berprinsip sama dengan Jeni, yang acap memudahkan segala urusan.


Lalu betulah kalimat kawan karib saya tersebut. Saya bisa memilih berteman dengan siapa, tapi saya tak bisa memilih ditemukan dengan siapa.
.

Terima kasih, Pemilik bumi Penggenggam matahari yang selalu menemukan saya dengan orang-orang tak sederhana.

Diaz Kiral, tulisan ini diunggah pada 4 April 2015

Diaz


"Nama saya Diaz, saya adik angkat Kanaz. Tapi nggak tahu, Kanaz mau ngakuin atau enggak,"

Prolog Diaz ketika di Cirebon Sabtu lalu saat mengenalkan dirinya pada sesi Ngobrol Bareng Komunitas.

Diaz...

Saya bertemu dengannya akhir tahun 2013 lalu di Perpustakaan Museum Bank Mandiri. Saat itu kami sama-sama mengemas buku yang menggunung, kami tak banyak berbincang karena tak begitu kenal.

Beberapa kali kemudian, saya acap bertemu dengannya di Perpus MBM. Satu hal yang saya suka dari dia pertama kali adalah saat melihat dia makan. Dia, pekerja keras dan ringan tangan.

Berbulan kemudian saya tak lagi bertemu dengannya. Hingga suatu hari, di sebuah acara Ayo Bantu Sekolah di sebuah mall di daerah Jakarta Barat, ada seorang anak perempuan berjilbab mendekati saya yang sedang bt karena kesalahan banner.

"Kanaz, Kanaz. Kamu pasti lupa sama saya."

Saya melihatnya sekilas. Tersenyum. Kemudian mengingat-ingat siapa dia. Malangnya, otak celeron saya terlalu lemot untuk mengingat dia.

"Sebentar-sebentar. Kanaz buka group, Kanaz lupa namanya," sekrollah saya pada sebuah group di whatsapp.

"Ah, Kanaz mah pasti sudah lupa sama saya."

"Diaz. Kanaz inget! Diaz, kan?"

Kemudian kami sama-sama tertawa. Dan Diaz, tentunya lebih banyak mentertawakan saya terbahak-bahak saat tahu banner saya salah.

"Eh, Kanaz, kamu mau jadi Kakak aku, gak? Aku, kan, anak pertama. Aku pengen punya kakak perempuan...." Dan bla... Bla...

Saya nyengir melihat Diaz ngoceh.

Waktu berlalu. Kemudian saya semakin mengenalnya. Mengenal Diaz yang acap jungkir balik mengemas buku, memilah, memilih dan sebagainya. Termasuk ketika dia membuat kue, menjualnya dan keuntungannya untuk biaya pengiriman buku.

Bertemu dengan Diaz, saya acap dibuat tertawa 24 milyar watt. Meski tak jarang Diaz kena marah juga. Tapi saya percaya, Diaz memiliki kelapangan hati yang luas. Dan saya akan selalu ingat ketika melihat dia makan di warteg selepas mengemas buku.

Diaz Setia Wahyuni
Mahasiswi Universitas Pancasila, semester 3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Alumni Lulusan Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor (SMAKBo). Katanya belajar kimia dari muka cakep, ampe muka jelek kayak sekarang




4 komentar:

  1. selalu ngiri sm komunitas mba anaaaz

    BalasHapus
  2. Hanya senyum2 saja membacanya. Yah semoga sehat selalu dan banyak menginspirasi generasi muda sekarang. 🙏

    BalasHapus
  3. ah... beruntung sekali saya dipertemukan dengan kanaz dan kadiaz, apalagi kalo ketemu kajeni juga.

    BalasHapus
  4. mengirim lebih dari 30 ribu buku ke hampir 800 jejaring yang terdaftar

    Waw ... ini luar bisa!
    tetap semangat! (walaupun kadang harus pakai propposal)

    salam saya

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P