Mudahnya Kini Menyalurkan Zakat Profesi

Sumber gambar, ahbaburrosul.com

“Wahai orang-orang yang beriman! Infakanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruh untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” QS Al-Baqarah: 267.
Ayat di atas adalah sebagai pengingat tentang kewajiban zakat. Sebagai muslim, peraturan berbagai macam zakat itu ketentuannya sudah ditetapkan. Baik dari zakat hasil bumi, peternakan, perdagangan juga emas. Jadi, kalau memiliki emas tidak dipakai dan sudah sampai pada nisabnya, maka wajib dikenai zakat. Berbeda dengan semua zakat yang sudah dituliskan ketentuannya sejak berzaman lalu, maka zakat profesi adalah “sesuatu yang baru”. Baru dalam ranah zakat yang pada generasi terdahulu belum ada.
Zakat Profesi adalah zakat  yang dikeluarkan dari penghasilan profesi (hasil profesi) bila telah mencapai nisab. Profesi tersebut misalnya pegawai negeri atau swasta, konsultan, dokter, notaris, akuntan, artis, dan wiraswasta. Ini pengertian yang saya kutip dari wikipedia.
Lalu, bagaimana penghitungan zakat profesi ketika sejak dahulunya tidak ada ketentuannya? Dan bagaimana pendapat para ulama fiqih dalam menetukan kadar nisab zakat profesi ini?
Nisab zakat profesi mengambil rujukan kepada nisab hasil tanaman, setara dengan 522 kg beras. Contoh sederhana penghitungan zakat profesi adalah sebagai berikut,
Ramdan adalah seorang karyawan Swasta yang tinggal di Depok. Ia sudah menikah dan memiliki dua orang anak yang masih kecil. Penghasilannya setiap bulan adalah Rp. 5.000.000
  1. Pendapatan gaji perbulan Rp. 5.000.000
  2. Nisab 522 kg beras @ Rp. 7000 (relatif) Rp. 3.654.000-
  3. Rumus zakat (2,5% x besar gaji perbulan)-
  4. Zakat yang harus ditunaikan Rp. 125.000- zakat profesi juga bisa diakumulasikan selama satu tahun. Caranya, dengan menghitung jumlah bonus dan pemasukan lainnya kemudian dikalikan satu tahun. Lalu saat hasilnya mencapai nisab, dikalikan dengan kadar zakat 2,5%.
  5. Jadi, Rp. 5.000.000 x 12= Rp. 65.000.000
  6. Jumlah zakatnya adalah 65.000.000 x 2,5%= Rp. 1.625.000. Itu nisab zakat yang harus dikeluarkan oleh Ramdan.
Lantas, mengenai pendapat ulama fiqih mengenai zakat ini adalah sebagai berikut,
  1. Pendapat As-Syafi'i dan Ahmad mensyaratkan haul (sudah cukup setahun) terhitung dari kekayaan itu didapat
  2. Pendapat Abu Hanifah, Malik dan ulama modern, seperti Muh Abu Zahrah dan Abdul Wahab Khalaf mensyaratkah haul tetapi terhitung dari awal dan akhir harta itu diperoleh, kemudian pada masa setahun tersebut harta dijumlahkan dan kalau sudah sampai nisabnya maka wajib mengeluarkan zakat.
  3. Pendapat ulama modern seperti Yusuf Qardhawi tidak mensyaratkan haul, tetapi zakat dikeluarkan langsung ketika mendapatkan harta tersebut. Mereka mengqiyaskan dengan zakat pertanian yang dibayar pada setiap waktu panen. (haul:lama pengendapan harta)

Perbedaan pendapat para ulama fiqih ini tentu saja bukan untuk diperdebatkan. Tapi yang pasti wajib untuk dilaksanakan.
Eh, terus kira-kira kalau pendapatan blogger ada zakatnya, nggak, kalau nggak mencapai nisab? Jika dihitung-hitung pendapatan total sepenuhnya sampai satu tahun dari job blogger, saya yakin ia mencapai nisab untuk dikeluarkan zakatnya. Pun seandainya tak mencapai nisab, saya secara pribadi akan langsung menyisihkan 2,5% dari zakat penghasilan yang didapat. Biasanya, saya akan mengutamakan orang-orang terdekat yang lebih membutuhkan. Misalnya, Bude saya yang seorang janda juga tak mempunyai anak.
Yang pasti, uang zakat penghasilan itu tidak saya berikan kepada ibu sendiri. Loh, kenapa? Lah iya, menurut hukum syara yang berhak menerima zakat ada 8 orang, yaitu orang-orang fakir, miskin, amil, mu`allafatu qulubuhum (orang yang perlu dilunakkan hatinya kepada Islam), budak-budak yang dalam proses memerdekan diri, orang-orang yang berhutang, orang yang sedang menuntut ilmu (fi sabilillah), dan orang yang dalam perjalanan. Ini seperti termaktub dalam Al Quran Surat At-Taubah:9.

Era digital, tentunya memudahkan banyak hal. Zakat kini tak hanya bisa dilakukan secara offline dengan bertemu langsung kepada si penerima. Tapi juga bisa disampaikan melalui lembaga-lembaga zakat yang sudah banyak didirikan di Indonesia. Tapi, tak melulu lembaga zakat, bahkan kini matahari mall pun menyediakan langsung portal zakat profesi di laman webnya. Memudahkan para muzzaki (orang yang mengeluarkan zakat) untuk menyalurkan langsung zakat profesinya melalui portal online tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P