Dalam setiap pergantian zaman, selalu ada pahlawan-pahlawan kemaslahatan. Yang berjuang untuk orang lain, tanpa dikenali, tanpa diketahui. Maka saya menganggap mereka, orang-orang yang berhempas pulas di sini, membangun Mass Rapid Transit (MRT) adalah salah satu pahlawan. Rasanya, beruntung ketika hari Kamis lalu, saya bisa ikut berkunjung melihat pembangunan MRT di Jakarta. Pembangunan yang bagi saya adalah bagian dari sejarah.

Jakarta, ibu kota yang penuh dengan segala kepadatan ini memulai pembangunan MRT di tahun 2013. Pembangunan yang amat sangat lambat menurut saya karena Jakarta sudah begitu padat, bangunan sudah begitu banyak. Tapi, tak mengapa. Tak ada yang terlambat untuk sebuah kebaikan. 

Atasnya

Lalu ini di bawahnya


Bersama Mas Akbar, kami diajak masuk ke “perut” Jakarta. Siapa menyangka, di antara hiruk-pikuk kemacetan jalan, di bawahnya sedalam 20-25 meter pembangunan dan gorong-gorong terbentang dari Lebak Bulus sampai Bundaran-HI. Yang kami datangi minggu lalu adalah salah satu stasiun yang kelak berada di Setiabudi. Dari Mas Akbar juga, ia banyak menjelaskan seluk-beluk pembangunan MRT ini. Saya, sebagai pengguna commuterline antusias sekali mendengarkan ini.

Di jam-jam kerja padat pagi dan petang, Commuterline yang selama ini menjadi transportasi warga Jabodetabek lalu lintasnya setiap 7 menit sekali. Kenapa tidak 5 menit sekali? Kata Bang Eja, orang yang kerja di KAI kalau commuterline lalu lalangnya setiap 5 menit sekali, beberapa ruas jalan di Jakarta bakalan mati nggak bergerak. Macet total. Wajar jika itu terjadi di tengah kesesakan kota.

Mass Rapid Transit (MRT) yang dibangun di bawah kedalaman 20 meter perut Jakarta ini kelak akan berlalu lalang setiap lima menit sekali. Dengan ketersediaan 16 kereta (dioperasikan 14 kereta 2 sisanya adalah cadangan), masing-masing kereta berisi 6 gerbong diharapkan mampu mengurai kemacetan Jakarta. 
Wacana dan keinginan MRT tentunya sangat muluk. Menjadikan transportasi yang lebih manusiawi. Dalam standar normal jumlah penumpang, setiap kereta bisa diisi 200 orang dengan kondisi nyaman. Berarti, tiap gerbong berisi sekitar 30-40 orang. Nyaman di sini, tidak berdesakkan, masih bisa bergerak dan bisa berdiri sambil baca buku. Meski mungkin, akan lebih banyak yang memegang android. Yah nggak masalah, sih. Kan sudah peralihan ke zaman digital :D

Muluk-muluk? Pastinya iya. Tapi, belajar dari commuterline yang sungguh tak manusiawi di jam-jam padat, rasanya wacana MRT sungguh diimpi bagi pengguna transportasi umum Jakarta. Saya juga baru tahu, jika nanti akan dibangun juga Light Rail Transit (LRT). Nantinya, ini juga akan terintegrasi dengan MRT di stasiun Dukuh Atas. Ah! Saya merasa begitu senang. Meski, di tahun-tahun yang akan datang saya sudah tak lagi menjadi penghuni Jakarta. Tapi rasanya, begitu bahagia. Saya jadi terbayang beberapa transportasi umum yang ada di Malaysia yang satu dengan lainnya saling terintegrasi, Commuterline, monorail juga LRT.

Jakarta kelak, berharap transportasinya akan semakin bagus. Meski saya tak yakin kemacetan di jalan raya akan terurai. Karena bukan tidak mungkin, orang-orang yang memiliki kendaraan dua tahun ke depan ini semakin banyak.

MRT, direncanakan akan beroperasi pada awal Maret 2019. Semoga dapat terlaksana dengan baik ^_^


Foto-foto lainnya bisa dilihat di sini 
Target bulan Maret ini baru dibaca 9 buku

Semua berawal dari tulisan-tulisannya Pak Dian Basuki di Indonesia. Salah satu user aktif yang merupakan eks wartawan senior Tempo ini kerap sekali menuliskan mengenai pentingnya membaca buku. Di awal tahun, beliau beberapa kali menulis tentang berapa banyak buku yang dibaca tahun lalu, juga ajakan untuk lebih banyak membaca di tahun ini. Membacanya, saya jadi ikut tertantang. Meski sejak tiga bulan akhir tahun lalu saya mulai aktif membaca, tapi intensitasnya tidak begitu kerap. Tak sesering ketika masih remaja dulu. Tentunya, saya tak mau menyalahkan faktor U telah memengaruhi saya. Ini lebih ke kemalasan saya saja.

Tahun ini, Bacalah Lebih Banyak Buku betul-betul menjadi pelecut saya. Bulan lalu, sedikit demi sedikit saya mulai membaca dengan baik. Mengisi waktu-waktu luang saya di sela-sela kerjaan kantor dengan membaca buku. Hasilnya, alhamdulillah meski tidak begitu banyak buku yang dibaca, bulan Februari saya berhasil menghabiskan lima buku bacaan. Sayangnya, bulan Januari adalah kesuraman. Saya hanya menyelesaikan satu buku. Alasannya, selama dua minggu di Bima saya tak banyak membawa buku. Satu buku mengenai Oprah yang saya bawa tak berhasil saya selesaikan. Buku terjemahan yang sangat payah saya rasa. Membacanya jadi enggan. Jadi, bulan Januari saya hanya membaca Wiji Thukul.

Bacaan Februari


Jika semangat membaca saya perolehi dari Pak Dian Basuki, lalu menuliskannya saya dapatkan dari Pak Handoko Widagdo. Melalui tulisan-tulisan beliau, saya mulai belajar mereview buku yang sudah saya baca. Belum sepenuhnya sempurna memang, tapi sedikit demi sedikit saya mulai belajar. Saya baru sebatas menuliskannya sedikit di instagram. Akhir-akhir ini, saya memang begitu malas membuka dashboard blog. Jadi, pelampiasannya adalah instagram. Merasa begitu malas dan tak ada kalimat saat menghadap komputer di kantor atau laptop di rumah. Saya merasa jengah setiap hari menghadapi dan membaca tulisan di Indonesiana. Tapi, sepertinya ini hanya alasan saja :(

Kembali mengenai buku, bulan Maret ini saya menantang diri sendiri untuk lebih banyak membaca buku. Berawal dari masa rehat saya selama satu minggu full di rumah, tak banyak aktivitas yang saya lakukan selain pekerjaan. Lalu, saya mulai melirik buku-buku yang belum dibaca. Tak sampai satu minggu menghabiskan tiga buku adalah prestasi. Itu masih awal bulan, saya merasa menang melawan diri. Jadi, setelah itu beruntun lebih banyak yang dibaca. Sampai akhirnya saya membuat tantangan untuk diri sendiri bahwa bulan ini saya mengharuskan diri sendiri membaca 12 buku. Dem! Setelah posting di instagram, saya nggak yakin dengan tantangan diri sendiri. Hahahahaha... Meski hadiahnya membeli buku, saya nggak ngoyo menghabiskan 12 buku. Eh, tapi beruntungnya, gara-gara postingan tersebut Mbak Winda menawari saya untuk memboyong buku-buku di rumahnya semaunya saya. Wogh!!! Saya jadi semangat empat limaaaaa... Saya batal menghadiahi beli buku untuk sendiri, tapi saya bakalan menghadiahi buku gratisan dari Mbak Winda! Hahahahaha....

Semangat membaca! ^_^


Dulu, pertama pakai handphone pas sudah lulus SMA. Itu pun bukan handphone sendiri, hanya diperbolehkan pakai. Waktu itu masih menggunakan handphone sejuta umat. Nggak ada kamera, tapi sudah senang banget rasanya. Terus, pas ke Malaysia saya dibekali handphone oleh Kakak saya. Lagi-lagi, bukan handphone sendiri ahahahaha. Sampai kemudian, handphonenya rusak begitu saja. Tahun 2009 alhamdulillah bisa membeli handphone sendiri. Masih menggunakan handphone sejuta umat dengan kamera yang entah berapa mega pixel karena saya tidak pernah menggunakannya.

Pulang ke Indonesia pada tahun 2012, saya baru melihat bahwa begitu bermacam-macamnya orang menggunakan handphone. Eyaaaa... Ketahuan selama di Malaysia ngerem di rumah saja :D. Smartphone, begitu khalayak menyebutnya. Handphone pintar yang bertebaran saat itu belum begitu ramai seperti sekarang. Teman-teman di Indonesia pun pada nggak percaya kalau saya masih pakai handphone jadul :D.
Saya menggunakkan smartphone tergolong masih belum begitu lama. Belum genap lima tahun. Itu pun bermula dari pemberian seorang kawan. Baik sekali bukan teman saya ini? ^_^

Satu hal yang saya sukai dengan smartphne setelah memegangnya ini adalah fasilitas kamera. Ya! Kamera. Karena saya merupakan makhluk yang menyukai dunia fotografi meski amat sangat amatiran sekali. Sebelumnya, saya selalu menggunakkan DSLR untuk memotret. Tapi, setelah memegang smartphone saya seperti “memuseumkan” kamera DSLR. Duh....

Sederhana, sih, masa peralihan dan meninggalkan DSLR ini. Dengan mengunakan kamera handphone, memotret lebih mudah dan yang paling penting seklai lebih mudah lagi mengunggahnya di media sosial. Hahahaha... Apalagi, sejak aktif menggunakan instagram. Rasanya, seperti etalase pajang foto di media sosial kini.

Dengan latar belakang menyukai dunia fotografi, ketika membeli handphone salah satu pertimbangan saya adalah kamera yang ada di dalamnya. Mega pixel masih dijadikan tolok ukur, meski saya masih melihat MP yang di belakang, bukan MP kamera depan. Soalnya, saya jarang sekali selfie :D wehehehe... Mau selfie kalau pas barengan sama teman-teman saja ^_^

Nah, hari Jumat lalu, saya berkesempatan menghadiri launching handphone Vivo5Plus di The Ritz Carlton. Bersama dengan teman-teman dari detik.com, kami diajak mencoba dan explore lebih jauh kamera terbaru Vivo. Acara yang dimulai jam 09.00 ini menghadirkan media, blogger juga para Vivo Fans yang datang dari berbagai kota. Sepertinya, Vivo begitu menjaga sekali para user experiencenya. Para Vivo Fans didatangkan dari luar kota, bahkan luar pulau Jawa. Lalu, apa kelebihan Vivo dibanding smartphone-smartphone lainnya?

Vivo5Plus, hadir dengan dual kamera depan. Yang menarik, mega pixel kamera depan adalah 20. Ya, 20 MP. Konon, ini yang terbaru dan satu-satunya di dunia. Dual kamera depan Vivo5Plus satu lagi sebesar 8 MP. Didesain dengan dual kamera untuk membedakan hasil foto. Dengan menggunakkan kamera 20 MP, bisa menghasilkan foto yang lebih bokeh. Menurut edi Kusuma, Brand Manajer dari Vivo, Vivo didesain dengan kebutuhan kekinian pengguna smartphone. Di mana kini banyak orang yang begitu gemar selfie dan groupie kemudian diunggah di media sosial.

Waini jerawat sampai bekas-bekasnya kelihatan semua :D hahahahaha


Sementara menurut Product Manager Vivo Indonesia Kenny Chandra, dengan sensor 20 MP diharapkan kualitas gambar akan semakin baik. Lalu, berapa MP kamera belakangnya? Kamera belakang VivoPlus lebih kecil berbanding kamera depannya, yaitu 16 MP. Ini, tentu saja lebih besar pixelnya dibanding kamera SLR saya. Upgrade eui, upgradeee :D


Lalu, bagaimana spesifikasi yang lain dari kamera Vivo? Memori internal 64 GB, 4 GB RAM. Batreai, 3160 mAH, bisalah ya ini buat 24 jam? ^_^ Dan masih banyak fitur-fitur baru yang nggak kalah menariknya di Vivo5Plus ini. Tagline Perfect Selfie, sepertinya memenuhi dual kamera 20 MP di Vivo5Plus ini. Selamat buat Vivo atas produk barunya. Owh ya, bandrol yang dijual di pasaran adalah Rp. 5.499.000. Dan dua brand ambasador terbaru Vivo Afghan dan Pevita Pearce.

Senengnya bisa ketemu teman-teman :)

Ini ada yang udah lama banget nggak ketemu (Koleksi foto milik Mbak Elisa)

Ketemu sama Om Cumi ^_^

Sebagian peserta sudah pulang :) (koleksi foto milik Mas Rob)


Saya acap merasa terlambat mengenal sosok Gie. Bahkan amat sangat terlambat. Zaman sekolah, sempat tertanya-tanya sendiri melihat orang banyak membicarakan sosok Gie. Terutama sekali ketika film Gie baru beredar. Baca bukunya tidak, menontonnya pun apalagi. Jadilah saya remaja adalah orang yang tak mengenal Gie sama sekali. 

Lalu kini ketika menuju tua, sedikit demi sedikit saya mengenal sedikit tentang Gie. Dari gambar-gambar yang beredar di media sosial dengan quotenya, dari tulisan-tulisan teman yang dipublish atau tulisan-tulisan user Indonesiana yang saya baca.Lalu soalan yang menggelitik saya adalah, "Membaca apa saja saya selama ini?" Ah! Tapi tak perlu menyesali nasib. Toh, mungkin lingkaran pertemanan saya ketika remaja dulu tak ada juga yang mengenali Gie. 

Sejak Majalah Tempo mengeluarkan Edisi Khusus (Edsus) Gie, iseng-iseng saya mulai membaca tentang Gie. nah, ini yang saya rasa hadiah paling mahal ketika terdampar bekerja di tempo Media. Saya bisa mengenal lebih banyak sosok-sosok yang jarang sekali saya ketahui. Siapa-siapanya nanti menyusullah, ya... ^_^ semoga saya tetap konsisten menulis.

Lalu, muncullah ide untuk Nonton Bareng Gie dari Mbak Vema. Karena saya tahu Gie lahir pada tanggal 17 Desember 1942 dan meninggal pada 16 Desember 1969, akhirnya dipilih tanggal 16 Desember sebagai Nobar Gie bertempat di Kantor Tempo. Rencana yang awalnya hanya nobar dengan teman-teman dekat saja, menjadi berubah  sedikit besar ketika pihak Kompas Gramediaturt serta mendukung. Ya, ini karena KPG menerbitkan edisi khusus Tempo, Catatan-catatan Gie.  

Disusunlah segala rencana. Termasuk ketika Mbak Isti mengusulkan mengundang sahabat-sahabatnya Gie seperti Herman Lantang, Aristides, Yopi Lasut juga beberapa teman-teman dekat perempuan Gie. Saya mendapat tugas mengetik surat-surat Gie yang tidak pernah terpublish. Dibagi dua dengan Mas Rob tentu saja. Rasanya, menyenangkan sekali mengerjakan menyalin surat ini. Saya seperti berada di jarak yang sangat dekat dengan Gie. Padahal hanya membaca surat-suratnya saja.

Mengetik satu persatu kalimat ejaan lama yang harus saya sesuaikan dengan ejaan sekarang sedikit rumit. Surat yang ditulis menggunakan mesin ketik ini warnanya tentu saja sudah berubah. Kuning. Saya sempat tertawa-tawa ketika tahu beberapa typo yang kemudian disilang itu ternyata sebuah kalimat yang salah. Itu pun setelah dikasih tahu oleh Mas Rob. Menyalin surat pertama saya langsung disadarkan beberapa hal. Betapa sejarah yang lama terus berulang. Sara menjadi isu utama yang mudah sekali diadu domba. 

Surat-surat Gie yang tidak pernah terpublikasi merupakan surat yang dikumpulkan oleh rakan-rakan Gie sendiri. Ini salah satu cuplikan Surat Gie untuk Boediono:

Jakarta 28 Juni 1969

Boedi yang baik,

Gue udah lama bener nggak ketemu sama lu. Seingat gue kita bertemu terakhir bulan September tahun yang lalu. Waktu itu lu mau kawin sedangkan gue ke Amerika. Jadi kita nggak ketemu waktu hari perkawinan lu. Lalu lu tulis surat sama gue dan gue nggak balas sampai sekarang. Tiba-tiba gue ingin tulis surat sama lu, jadinya gue tulis sekarang.

Gue nggak tahu apakah surat ini gue kirim perpos atau gue titip sama teman gue yang mau ke Rumbai. namanya Kartini Panjaitan. Kalau lu ada kesempatan lu temui die, dan lu bisa dengar banyak tentang teman-teman yang lain. Dia anak sastra. Terakhir gue naik gunung sama dia ke Cermai. Lu bisa cocok sama gue (kenapa yaa?- barangkali kita sama-sama sinting: ya), sedangkan gue cocok sama die, jadi gue pikir kalian juga bisa sama-sama pasang orong-orong yang panjang. Rini lu juga cocok, abis dia juga tukang guyon sih. Nah kalau kalian bertiga bertemu, tukang-tukang guyon, gue pikir rame deh, atau rusak barangkali. Dia akan di Rumbai Selasa bulan Juli. Kalau ada waktu temui deh.

Saya sekarang telah selesai dan kerja di FSUI. Rasanya gue nggak punya tujuan hidup. Gue dapat kamar kerja, dapat meja dan dapat jabatan. Jadi birokrat perguruan tinggi. Rasanya aneh sekali.... "Jadi bapak dosen yang terhormat". Kursi tempat gue duduk rasanya ada pakunya. Kalau gue uduk setengah jam saja, pantat gue rasanya panas. Rasanya mau pergi aja. Ke warung beli es atau makan gado-gado. Kalau gue terima tamu gue lebih senang duduk di tempat lain. Kalau tamunya mahasiswa rasanya lebih enak duduk di ubin dekat phon-pohon pisang. Dan gue gelisah , mondar-mandir seperti cacing kepanasan.

Satu hari gue datang ke rapat pemilihan dekan yang dipimpin oleh rektor. Gue datang pakai blue jeans. Ketua jurusan Jepang datang, "selamat ya, sudah lulus. Jij sekarang bukan mahasiswa lagi. Napa pakai blue jeans kaya kwayongan", katanya tertawa. Padahal gue mau naik gunung sama Kartini waktu itu. Pokoknya jadi sarjana susah deh. Gue inget pengalaman lu waktu lu ajak kuli-kuli makan. Rupanya kalau jadi sarjana kita musti sok gaya (tai kucing semuanya-gue lebih senang jadi orang bebas)

Kehidupan menjadi tenang kembali. Orang-orang berpikir tentang kerja-kerja rutin dan rencana-rencana kecil yang mau dilakukan. Sebelum saya lulus tujuan "tujuan hidup" adalah bikin skripsi yang baik. Setelah itu selesai ternyata gue nggak punya lagi gantinya (katakanlah sementara). Hidup gue dirutin. Bangun pagi, pergi ke kantor, lalu ngomong-ngomong atau bikin lelucon, pulang, kadang-kadang bikin karangan atau nonton. Lalu tidur. Kadang-kadang terima tamu dari luar negeri. jadi diplomat sebentar. Untuk saya keadaan ini tidak menarik. 



16 Desember lalu banyak yang datang. Orang-orang yang sudah sepuh, orang-orang muda juga para remaja. Kawan-kawan Gie, jangan ditanya. Mereka juga turut serta. Kadang saya membatin sendiri, yang kemudian diobrolkan dengan teman.Gie, seperti manusia yang diselamatkan oleh zaman. Ia mati muda, tapi semangat dan idealismenya masih menyala. 


Momen istimewa bagi setiap orang itu berbeda-beda. Tergantung dari seberapa sensitifnya hati dan seberapa penting momen tersebut bagi pribadi masing-masing. Namun bagi kaum wanita, biasanya ada momen-momen tertentu yang terasa spesial dan tak terlupakan. Jika momen tersebut terjadi dalam kehidupan seorang wanita, tentu saja wanita tersebut akan merasa istimewa.

Mau tahu momen-momen istimewa apa saja yang dapat membuat wanita jadi bahagia?

Anak Perempuan yang Dekat dengan Ayahnya

Ayah adalah sosok lelaki pertama yang dikenal oleh seorang anak perempuan. Kedekatan antara ayah dan anak perempuannya memang terasa spesial. Momen sederhana seperti diajari naik sepeda, diajak membeli jajanan, atau digendong saat tertidur tentu menjadi hal istimewa yang tidak terlupakan.

Anak perempuan yang memiliki kedekatan dengan ayah tentu punya ekspektasi yang baik terhadap kaum pria. Anak perempuan yang bertumbuh menjadi wanita dewasa pun paham mengenai cara memperlakukan pria dengan penuh kasih sayang.

Lulus Kuliah, Sebuah Pencapaian Besar Dalam Hidup
Wanita yang lulus kuliah juga memiliki kebanggaan tersendiri. Karena lulus kuliah membuktikan bahwa wanita tersebut punya kemampuan akademis yang baik dan tidak kalah dari kaum pria. Kesempatan untuk mengembangkan jenjang karier cemerlang pun terbuka lebar setelah lulus kuliah. Tidak mengherankan deh kalau hampir semua wanita ingin selalu tampil cantik di hari wisudanya.

Berhasil Mendapatkan Pekerjaan Pertama

Jalan untuk mendapatkan pekerjaan pertama memang tidak mudah. Itulah sebabnya momen ini terasa luar biasa bagi seorang istimewa. Masuk ke realita dunia kerja dan menghasilkan uang dari tenaga sendiri terasa begitu menyenangkan. Pasti para wanita juga sudah siap-siap mengalokasikan gaji pertamanya. Selain untuk bersenang-senang, traktiran untuk keluarga dan sahabat pun tidak dilupakan.

Dilamar Oleh Kekasih Tercinta

Peristiwa lamaran bukanlah akhir dari perjalanan cinta, melainkan sebuah awal bagi bahtera rumah tangga yang akan dijalani seumur hidup. Wanita pasti merasa bahagia sekaligus deg-degan ketika dilamar oleh kekasihnya. Apalagi kalau momen lamaran tersebut berlangsung secara mendadak dan romantis. Tentu saja hal ini akan menjadi peristiwa tak terlupakan seumur hidup.

Perubahan Sebagai Seorang Ibu

Menjadi ibu adalah proses pembelajaran seumur hidup bagi seorang wanita. Tidak pernah ada sekolah yang mengajarkan caranya menjadi ibu yang baik. Namun seiring dengan kehadiran buah hati, sifat keibuan seorang wanita pun akan tumbuh dari hari ke hari. Tiada yang lebih membahagiakan bagi seorang wanita selain melihat buah hatinya tumbuh sehat, cerdas, dan menjadi anak yang berbakti.

Saat mendengar tangisan pertama si kecil, rasa sakit dan lelah setelah mengandung selama 9 bulan pun terbayar lunas. Rasanya ingin selalu menyaksikan tumbuh kembang buah hati dan melindunginya sekuat tenaga.

Mendengar Ucapan Terima Kasih dari Anak

Ketika anak-anak sudah beranjak besar, masing-masing punya caranya sendiri untuk mengungkapkan kasih sayang kepada ibu. Pasti ibu tak jarang mengalami selisih paham dengan buah hatinya. Namun bukan berarti hal ini mengurangi kasih sayang ibu terhadap sang anak. Kisah dalan video inspiratif ini adalah contohnya 


Banyak ibu yang mendidik anaknya dengan keras agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Sewaktu mendengar ucapan terima kasih dan ungkapan sayang dari buah hatinya, ibu akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Karena kasih sayang dan perhatian ibu tidak dapat tergantikan oleh apa pun.

Setiap wanita yang berhasil merasakan momen-momen sederhana nan istimewa tersebut adalah wanita paling beruntung di dunia. Sudahkah kita merasakannya?

Mungkin sekarang kita masih berjuang untuk merasakan momen-momen tersebut. Sembari menikmati indahnya hidup sebagai seorang wanita, jangan sampai kita lupa untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi, ya.



Seni budaya rakyat, semakin lama kian tergantikan oleh seni modern. Lagu, tarian berbagai budaya Barat lebih digandrungi mulai orangtua, dewasa, remaja, hingga anak-anak. Kondisi ini dialami hampir di semua daerah di Indonesia, tak terkecuali di Bogor, Jawa Barat.

            Seni budaya Sunda mulai ditinggalkan dan dilupakan. Kondisi ini mengusik Ade Suarsa untuk melakukan upaya pelestarian budaya Sunda. Ia tidak mau seni budaya Adiluhung peninggalan nenek moyang kemudian hilang begitu saja.

            Niat tersebut diwujudkan Ade dengan mendirikan Sanggar Seni Etnika Daya Sunda (EDAS) di rumahnya. Sanggar ini mulai dijalankannya pada tahun 2008 dengan beragam kegiatan seperti latihan menari, bernyanyi, serta memainkan alat musik. Bukan hanya anak-anak, orang dewasa di sekitar rumahnya pun banyak yang mengikuti kegiatan tersebut.

            Ade juga berinisiatif menularkan rasa cinta terhadap seni budaya Sunda ke masyarakat yang lebih luas dengan cara berkeliling ke sekolah-sekolah di kawasan Bogor untuk mengenalkan seni budaya Sunda. Ia juga berusaha mengembangkan seni budaya Sunda agar dapat diterima oleh anak muda dengan membuat wayang hihit yang terbuat dari bambu.

Berbeda dari wayang yang biasanya mendasarkan cerita dari kisah Ramayana atau Mahabarata, Ade menggubah cerita dari kegiatan sehari-hari dan memadukannya dengan alur kejadian yang sesuai konteks saat ini agar tidak membosankan dan disukai oleh generasi muda.
            Tak puas dengan mendirikan sanggar dan membuat wayang hihit, Ade pun memproduksi berbagai macam alat musik dan perlengkapan pertunjukan tari hasil kreasinya. Kali ini, tujuannya sembari memberi lahan pekerjaan bagi warga sekitar sanggar. Secara tidak langsung, masyarakat juga tahu bahwa seni dan budaya dapat menjadi sumber penghasilan.

            Kegiatan yang digulirkan Ade di EDAS menggugah Tanoto Foundation untuk ikut berpartisipasi. Yayasan sosial yang didirikan oleh keluarga Sukanto Tanoto ini mendukung Ade dan timnya dengan memberikan dukungan finansial agar sanggar EDAS bisa berkembang dan bermanfaat lebih baik lagi.

            Momen tersebut dilakukan bersamaan dengan acara yang digelar oleh presenter kenamaan Andy F, Noya di Metro TV. Ia mendatangi EDAS dalam rangka acara Kick Andy on Location pada 20 Maret 2015.

            Kegiatan Tanoto Foundation memang selalu mendukung kegiatan bermanfaat yang dipandang sebagai bentuk dari pembelajaran tanpa henti. Pendidikan dipandang sebagai salah satu sektor yang digarap selain pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas hidup bangsa Indonesia.


Waktu di Malaysia, saya pernah diajarkan menjahit oleh Ibu majikan. Ibu, mengajari saya membuat baju kurung khas melayu. Yang memotong kainnya, tentu saja Ibu. Saya tahu beres  saja. Meski masih melenceng dan nggak lurus, sepasang baju kurung itu jadi juga dengan kecelakaan di sana sini. Miring, tentu saja menjadi bagian tak terpisahkan. Kalau membuat garisan di buku saja tidak lurus, apatah lagi menjahit :D 

Tapi, percayalah bahwa sejak kecil hal yang ingin sekali saya bisa melakukan selain menulis adalah menjahit. Persoalannya, sederhana. Ketika kecil, saya memiliki tetangga yang bisa menjahit. Setiap musim lebaran tiba, begitu ramai orang yang datang untuk menempah baju persiapan hari raya. Tak hanya dari kampung, tapi juga tetangga kampung. Saya, seumur-umur hidup di kampung ketika itu tak pernah sekali pun menjahitkan bajunya. Jadi saya membayangkan, andaikan bisa menjahit, tentunya bisa membuat baju lebaran sendiri. 

Sesederhana itu...

Kemudian, beberapa waktu lalu, saya melihat Mbak Astri Damayanti menulis status di facebooknya kalau akan ada kelas menjahit untuk blogger bersama dengan brother di ICE BSD. Saya, langsung gembira tentu saja. Ini sesuatu hal yang berbeda di acara blogger. Menjahit . Membuat kulot. Kemudian, mendaftarlah dengan mencantumkan nama, alamat blog juga alamat email.

Selang beberapa minggu, pengumuman itu datang. Saya menjadi salah seorang blogger yang beruntung untuk mengikuti Kelas Kriya tersebut. Bertempat di ICE BSD, kelas kriya tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 Oktober 2016. Senang tentunya mendapat kesempatan belajar menjahit. 

Sabtu pagi, di tanggal yang sudah ditentukan saya berangkat ke ICE BSD dari Serang. Alhamdulillah, perjalanan lancar. Beruntungnya, saya sudah beberapa kali mengunjungi tempatnya. Jadilah tak ada adegan sasar menyasar ^_^. Sampai di depan gedung, ada Mbak Waya, Mbak Tanti, Lita juga Mbak Astri. Merasa beruntung, karena nggak harus saling mencari.

Rupanya, ini salah satu bagian dari acara Pekan Raya Indonesia. Dan saya baru tahu kalau tidak mengikuti kelas menjahit ini. Duh, ke mana aja saya? Nggak gaul bangettt :D. Bersama dengan teman-teman blogger, kami langsung menuju booth brother. Selain kami, ada beberapa teman blogger lainnya yang sudah sampai terlebih dahulu. Hari itu, kami bersepuluh.

Ramai banget

Setelah menghadapi mesin satu-satu, dengan sabarnya Mbak Astri membagi-bagikan bahan, gunting, peniti, oran, kertas merah sama satu lagi alat yang namanya saya lupa :D (lupaan aja saya, maklum menuju tua) Saya langsung cengok. Meski sudah pernah memegang mesin jahit, waktu itu saya benar-benar gagap melihat brother. Maklumlah, dulu waktu di Malaysia ngadepin mesin jahit jadul ^_^ masalah lagi juga dipotong kain, saya nggak bisa -_-. Bersyukurnya, Mbak Astri yang baik hati itu mau mengajarkan saya dengan sabar.

Selesai memotong, masalah selanjutnya adalah saya tidak bisa mengoperasikan mesin jahit! Bahahahaha... Parah! Lalu, muncul lagi orang baik, yaitu Mbak Waya. Dengan sabar ia mengajari saya mencantumkan baju yang akan dijahit, juga menggunakan mesin jahitnya. Duh, ya... Puji syukur, saya selalu ditemukan dengan orang-orang yang baik. Kedudulan saya selanjutnya,  mencari-cari kain sepotong yang saya anggap hilang. Padahal, ia ada di bawah. Saya nyarinya dua helai kain. Padahal, nyata-nyata potongan selanjutnya adalah satu helai! #LangsungNyungsep

Eh iya, kami batal membuat kulot. Karena entah kenapa, saya juga lupa penyebabnya. Waktu itu kami praktek membuat cardigan warna hitam polos. Selesai dijahit, saya dan Mbak Riski shalat dhuhur. Mbak Riski juga banyak bantuin saya waktu itu :D. Dan Mbak Astri, dengan baik hatinya melanjutkan jahitan saya yang belums selesai. Loh, katanya sudah tadi? Iya, sudah dijahit oleh saya. Tapi belum diobras :D yang ngobras akhirnya Mbak Astri dan yang memberikan rupa-rupa tambahan jahitan di cardigan juga Mbak Astri. Ya Allah... Ini saya belajar menjahit, apa niat dijahitin, sih? Wehehehe.... Terima kasih banyak, Mbak Astri yang baik hati ^_^

Jadi, kalau saya perhatikan itu mesin jahit brother itu bisa macam-macam. Kalau mesin jahit yang saya kenali dulu itu hanya bisa untuk menjahit saja. Sementara yang ini, bisa untuk ngobras dan lain lagi dan lain lagi. Fungsinya banyak, saya masih belum begitu paham. Hanya melihat hasil jahitan teman-teman yang dibuat macam-macam. Terima kasih kepada Mbak Astri dan mesin jahit brither yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk ikut mencoba menggunakan mesin jahit hebatnya ^_^. Semoga ada waktu untuk mencoba lagi :)


Mbak Astri sibuk ngukur badan

Ramai

Sabar memberikan arahan

Lita serius potong-potong

Mbak Waya penyelamat! Hahahahaha

Sok-sokan menjahit. Koleksi foto milik Mbak Riski

Yang menyelesaikan tetaplah Mbak Astri

Sudah jadiiiii ^_^



Batik sejak dahulu sudah menjadi motif yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Mulai dari motif batik Solo, Yogyakarta, Cirebon, hingga daerah lainnya banyak digunakan sebagai motif pakaian.

Sejatinya, batik merupakan motif yang digunakan pada kain. Kain tersebut banyak digunakan untuk sarung, kemben, blangkon, dan juga pakaian tradisional lainnya. Namun kini, batik sendiri sudah banyak digunakan untuk pakaian modern. Mulai dari pakaian gaun untuk perempuan, hingga kemeja untuk laki-laki. Bahkan, ada juga yang membuat celana dengan motif batik.

Nah, bagi Anda yang memiliki rumah dan ingin untuk mendesain rumah Anda dengan suasana baru, batik bisa dijadikan pilihan. Motif batik sendiri adat dimunculkan di ruangan rumah Anda baik itu di ruang tamu, ruang makan, hingga kamar tidur, juga kamar mandi.
Berikut adalah tips menampilkan batik di rumah Anda. 

Sofa

Bosan dengan motif atau bentuk sofa yang itu-itu saja? Anda bisa mengkreasikannya dengan memasang motif batik di sofa Anda. Kini sudah banyak orang yang menjual sofa dengan motif batik. Jika Anda kesulitan menemukannya, tidak perlu khawatir, karena Anda tinggal mencari pengrajin sofa untuk membuatkan model yang anda inginkan. Cobalah untuk menyesuaikan motif dan warna batik sofa dengan konsep ruangan di rumah Anda. Agar nantinya rumah jadi terlihat lebih menarik.

Bed Cover

Tidak hanya di sofa, anda juga bisa menampilkan motif batik di kamar tidur Anda. Caranya adalah dengan menggunakan Bed Cover dengan motif batik. Pilihlah set perlengkapan kasur dengan motif serupa. Tidak harus sama motifnya, namun masih serasi untuk digunakan. Misalnya, untuk selimut Anda menggunakan model batik mega mendung dengan dominan warna putih, untuk bantal dan guling tinggal menggunakan motif batik serupa dengan dominan warna cokelat, hitam, atau warna yang lebih gelap. 

Hiasan Dinding

Dinding rumah minimalis Anda membosankan? Cobalah untuk mengumpulkan kain batik bekas yang sudah tidak digunakan. Atau, anda bisa memanfaatkan kain perca batik. Lalu, letakkan kain tersebut dalam pigura. Setelah itu, pajanglah pigura tersebut di ruang keluarga atau ruang tamu Anda. dengan begitu, suasana ruangan pun akan lebih terasa kesan batiknya.

Karpet

Anda juga bisa menggunakan karpet dengan motif batik. Karpet ini dapat menjadi pilihan dan banyak dijual di pasaran. Sesuaikan karpet dengan sofa yang Anda gunakan. Dengan begitu, ruangan akan menjadi lebih menarik.