Slide 1 Slide 2 Slide 3 Slide 4 Slide 5
Diposting oleh Anazkia Aja | 2 komentar

Resep Sambal Asam Tongkol



Resep sambal asam tongkol ini saya dapat pas iseng-iseng aja waktu ada ikan tongkol banyak. Jadi, pada suatu hari, Bude saya ngirim satu ekor ikan tongkol yang sangat besar. Dimasak pun nggak habis-habis, beberapa orang di rumah pun tidak berapa suka. Jadilah saya iseng-iseng merebusnya. Eh, resep ini saya dapat setelah bikin tongkol suwir juga, sih :D

Cara memasaknya masih nggak jauh beda sama ikan tongkol suwir. Ikan tongkol segar direbus menggunakan asam kandis, tambahkan juga garam. Kalau saya sengaja asam kandisnya banyak, biar rasa asamnya terasa. Saat merebus ikan, sisakan air. Ini nanti kuahnya untuk menyiram sambel nanti :) Kalau bisa, membuat sambal asam tongkol ini setelah ikan direbus beberapa hari. (nggak basi? yah enggak, kan bisa dipanasin dulu itu. Atau nggak taro dulu di kulkas)

Sebelumnya, saya bikin percobaan sederhana saja. Saya ambil cabai rawit dalam jumlah yang banyak. Sesuaikan dengan kadar kemampuan kita mengkonsumsi pedas. Saya cuci cabai rawit tersebut, tanpa membuang batangnya saya letakan cabai di cobek, tambahkan garam dan penyedap rasa secukupnya, ulek jangan terlampau halus. Setelah itu, ambil ikan dan campurkan dengan cabai rawit yang sudah diulek. Setelah itu, siramkan kuah asam yang ada di dalam rebusan ikan tongkol tadi. Tambahkan jeruk sambal kalau ada. Tak lama, ikan siap dihidangkan ^_^

Nah, setelah itu saya utak-atik resep lagi. Hya elah, bahasanyaaaahhhh :D huehehehe.... Pada suatu hari *lagi* saya kembali iseng, saat merebus ikan tongkol, saya tambahkan cabai rawit, bawang merah, juga bawang putih bersamaan. Ini rebusnya tidak boleh dalam jumlah yang banyak karena untuk sekali masak doang. Asam kandis tak lupa saya masukan. Kalau nggak ada asam kandis, asam jawa juga nggak apa-apa, sih. Setelah semuanya masak, singkirkan cabai rawit, bawang merah dan bawang putih kemudian letakan di cobek. Kembali masukan garam dan penyedap rasa seperlunya, ulek, terus campur dengan ikan dan langsung siram dengan kuah tongkol. Rasanya, tetep enak kok dan tambah enak #eh :D



Udah, ah, bikin resep iseng-isengnya :D

Gara-gara sambal tongkol ini teman-teman pada banyak yang ketagihan heuuuuu :D


baca selengkapnya...
Diposting oleh Anazkia Aja | 4 komentar

Penulis Blogger Inspiratif


"Eh, iya, kamu ini sekarang jarang nulis,"  

"Iya, Mbak, saya memang udah jarang nulis. Hiks, ini jadi kebiasaan ini kelamaan nggak nulis. Makanya pas tampil di kompas tv itu ada sematan kata penulis blogger inspiratif itu kayaknya gimanaaaa... gitu. Lah blog aja bulan kemarin nggak up date,"

"Makanya, ayo nulis lagi," Mbak Olyv menyemangati

Dialog di atas terjadi kemarin, antara saya dan Mbak Olyia Bendon saat menunggu acara Rembug Provinsi di Oasis Amir. Yah, akhir-akhir ini saya memang jarang menulis. Kalau ditanya apa alasannya, jawaban paling cepat dan simpel adalah malas. Yah, saya masih dan selalu malas menulis. Bahkan, bulan lalu tak ada satu tulisanpun yang tayang di blog anazkia.com. Tapi, di balik segala kemalasan, sesekali saya masih menulis di kompasiana atau tidak di blog hibahbuku.net :D 

Kembali ke judul di atas, sematan kata Penulis Blogger Inspiratif itu saya dapatkan ketika 6 November lalu saya tampil di Kompas TV. Ya, awal bulan lalu saya bersama dengan Kang Iskandar Dzulkarnain atau lebih akrab disapa Kang Isjet, salah satu admin kompasiana hadir dalam segmen ensiklakompas. Selama 30 menit, saya dan Kang Isjet berbincang dengan Ajeng Kamaratih host ensiklakompas.

Pasca tampilnya saya di kompas tv, banyak teman yang bertanya kepada saya saat berjumpa, "Gimana rasanya masuk tv, Naz?" dan saya hanya nyengir aja. Ya, memang biasa saja ngobrol di tv itu, malahan lebih grogi tampil pas mau dipotret dari pada di depan kamera untuk siaran langsung.

Tampilnya saya di kompas tv saat itu mewakili komunitas Blogger Hibah Buku. Pihak kompasiana memilih hibah buku untuk tampil dalam segmen Aksi Untuk Indonesia, yang saat itu menjadi serangkaian perhelatan kompasianival yang sudah terlaksana pada 22 November lalu. Senang tentu saja menjadi salah satu komunitas yang terpilih untuk tampil di kompas tv. Cerita ini juga sudah saya tuliskan di kompasiana, Tampil di Kompas TV Bersama Dengan Admin Komapsiana. Nah, kan, saya nggak begitu malas-malas amat kok nulisnya hehehe

"Jadilah blogger yang menginspirasi, bukan hanya menulis di online saja, tapi juga ada tindakan nyata yang dilakukan juga," kalimat tersebut diucapkan oleh Mbak Ajeng Kamaratih dan sukses membuat saya merenung-renung. Semoga saya bisa menjadi penulis blogger demikian. Kalau aktif off line, ada laporan on linenya. Kalau punya wacana on line, ada tindakan nyatanya. Aamiin...

Bismillah, niat aktif ngeblog lagi. Semoga bukan janji palsu :)






baca selengkapnya...
Diposting oleh Anazkia Aja | 14 komentar

Ngerjain Mbak Indah Juli di Kediri



"Mbak Indah apa kabar? Tanggal 31 Okt-2 Nov ada waktu luangkah? Kalau kosong, ikut ke Kediri, yuk, Mbak?" 6 Oktober 2014 saya menyapa Mbak Indah melalui chat whatsapp.

"Alhamdulilah baik. Anaz bagaimana? Itu hari apa, ya? Bentar kulihat kalender," jawab Mbak Indah tak begitu lama menjawab setelah saya bertanya.  "Jumat-Sabtu-Minggu, ya? Mau banget ke Kediri. Tapi aku izin dulu sama Mas Iwan, ya. Biar enak jalannya," kembali Mbak Indah menjawab.

"Iya, dong, Mbak. Wajip! hehehe..."

"Siapa aja yang ke Kediri?" kembali Mbak Indah bertanya.

"Teman-teman Hibah Buku, teman-teman blogger Kediri, teman-teman Warung Blogger. Ceritanya dalam rangka Hari Blogger Nasional," kembali saya menjawab pertanyaan Mbak Indah.

"Okeeee... Pasti seru :)"

"Kalau Mbak Indah beneran ikut, kami bakalan koprol. Hahahaha..." 

"Eh, kok koprol, sih?"

"Saking senengnya dong, Mbak ^_^ "

"Count me in. Selama dapat ijin dari Mas Iwan, ya? Haeeee.... Daku tersanjung" sambil pasang emot lope-lope ^_^

"Sep-sep, Mbak. Sebetulnya, Anaz pribadi kalau blusukan ngajak teman yang udah nikah agak berat, Mbak. Soale mikir akhir pekan waktu buat keluarga. Jadi, kalau Mbak Indah nggak bisa ikut pun gpp, Tapi kalau bisa ya senang,"

"Hehehehe... Aku senang, kok, blusukan. Yang penting dikasih ijin."

Begitulah, awal mula saya mengajak Mbak Indah untuk turut serta ke Kediri. Itu pun dengan warning dari saya kalau Mbak Indah nggak diongkosin, kudu ongkos sendiri, mau bersusah-susah, nginep di rumah warga dan makan seadanya. Ya, sejak awal memang saya khawatir kalau mengajak teman blogger dari luar yang nggak pernah ikutan acaranya Hibah Buku. Dan Mbak Indah, dengan suka citanya mengabarkan kepada saya kalau beliau tidak apa-apa dan dengan senang hati akan turut serta karena sudah mendapatkan izin dari suaminya.

Dan tibalah harinya 31 Oktober 2014. Kami dari Jakarta berangkat sore hari. Sementara Mbak Indah berangkat tengah malam dari Jogja. Saya selalu kontak dengan Mbak Indah dan beliaulah yang sampai lebih dulu di stasiun Kediri jam 00.30, sedang kami sampai di stasiun Kediri jam 03.20. Bersama Darul, Mbak Indah menunggu kami di kafe. Jam 03.20 kami semua sampai di stasiun Kediri.  Sebagian dari kami langsung menuju ke masjid untuk shalat isya sekaligus menunggu waktu subuh. Setelah shalat subuh usai, kami kembali ke stasiun dan mobil jemputan sudah datang. Puguh dengan teman-temannya sudah menjemput kami. Sejak dari kereta, saya sudah wanti-wanti dengan teman-teman yang lain kalau nanti Mbak Indah naik mobilnya duduk di depan. Pikir saya, takut kena angin pagi.

Tapi ternyata bukan Mbak Indah namanya kalau mau mengikuti saran. Beliau minta duduk di belakang bareng kami, katanya, "Biar bareng-bareng sama yang lain," oke, baiklah... kami menyerah :P 

Tapi, apa yang terjadi? Ternyata angin pagi begitu kuat berhembus dan Mbak Indah mulai kelihatan kedinginan :D :P (Nah, ini Mbak Indah udah mulai dibully aja sama yang muda-muda #Eh) hahahaha....

Sampai di Pamongan, Mbak Indah baru jujur kalau ngerasa kedinginan. Dan kami, pasti dan otomatis mentetawakannya, "Padahal, Mbak, dari sejak di kereta itu udah diatur, kalau Mbak Indah duduk di depan," huehehehe....

Oke, Pamongan selesai. Tibalah kami menaiki sepeda motor untuk sampai di Dukuh Tumpakdoro. Saya belum tahu sama sekali medannya kecuali lewat foto-fotonya Tiwwy, Puguh dan Mas Naim. Dan ternyata? WOW! Sebelah kanan jurang, guysssss!!! Ini saya langsung kepikiran Mbak Indah, Mbak Indah takut nggak, yak?" pikir saya :D

Dan ketika sudah sampai di penginapan warga, bertanyalah saya denan Mbak Indah, "Gimana perjalanannya, Mbak?"

"Wiiihhhh... Luar biasa!"

"Takut ngelihat jurang, Mbak?"

"Takut, tapi merem aja,"

Oke, fine! Dan Mbak Indah sukses berhasil ke Tumpakdoro :)

Pagi itu, kami menikmati sarapan pagi dengan lauk pecel! Wih! Pecelnya enak, tapi padeh bana -__-

Kembali ke Mbak Indah, dalam sesi kelas Mbak Indah akan mengisi kelas "Yuk, Belajar Menulis" Interaksi Mbak Indah dan adik-adik kelas 4,5,6 berjalan dengan baik. 

"Ayo, adik-adik, coba kalian deskripsikan cerita tentang sepeda. Apa aja tentang sepeda, coba kalian tulis. Nanti, yang bisa menyelesaikan tulisannya akan mendapatkan hadiah,"

Begitulah, interaksi kami dan Mbak Indah. Boleh dibilang, Babeh Helmi dan Mbak indah adalah orang yang paling sepuh di antara kami. Tapi bukan kami namanya kalau sudah sama-sama berkumpul pasti kudu siap dibully (etapi kalau saya yang dibully ngambek duluan #eh) :D

Yang paling parah itu ketika sesi makan pempek tengah hari yang dibawa oleh Kiki dari Lampung. Arie, teman kami yang paling pendiem dengan hebatnya menerangkan kepada Mbak Indah prosesi memakan pempek yang paling betul.

"Jadi, selama ini kita itu disesatkan saat makan pempek. Makan pempek yang bener  itu begini, gigit pempeknya, jangan dikunyah baru minum cukonya. Jangan langsung ditelan terlebih dahulu, tapi kunyah bersama dengan pempeknya," Arie mulailah ceramah

Awalnya Mbak Indah ragu-ragu melihat penjelasan Arie. Tapi, tak lama rupanya beliau mencoba. Dan, hasilnya......

"Iya, lebih enak," ujar Mbak Indah.

Lihatlah.... Mbak Indah ini mau aja ngikutin caranya ARie. Saya yang tahu sejak bulan Desember 2013 aja nggak pernah ngelakuin itu makan pempek kayak gitu

Hahahahaha...

Btw, terima kasih banyak, Mbak Indah. Mau diajak blusukan oleh kami terutama oleh saya yan sudah disesatkan :P :))))))))

Semoga nggak kapok! :P

Beres-beres buku
Aih, onlen di warnet syusah eui mau kasih capture foto :/
Off dululah, mau pulangggg ^_^
baca selengkapnya...
Diposting oleh Anazkia Aja | 8 komentar

Pindah Akun Google Plus

Google plus baru, followernya sedikit tapi yang view banyak :D 

Akhirnya, saya mulai berpikir untuk mengaktifkan akun google plus dengan email anazkia@gmail.com. Kenapa baru diaktifkan sekarang? Tidak juga baru sekarang. Sebetulnya, saya sudah memiliki akun google plus sejak lama, sejak pertama kali google plus masih baru dibuat. Saat itu, untuk membuat akun di google plus harus diinvite oleh teman yang sudah memiliki akun di google plus. Tapi, saat itu saya tidak menggunakan email anazkia@gmail, tapi menggunakan  gmail yang lain. 


Google plus lama followernya segambreng, tapi yang view sedikit :D

Kenapa pula berubah pikiran untuk mengaktifkan akun di sana? Terpikir untuk mengaktifkan akun di g+ sejak pertama kali berkunjung ke google Indonesia pada tanggal 1 Maret 2014 lalu. Waktu itu mendengar penjelasan Mbak Keke tentang g+, nyalin dari tulisan lama setelah berkunjung ke google Indonesia. Saya ini pengguna lama google plus, tapi cepat merasa bosan dan sekarang sudah saya tinggalkan :D teori-teori yang sering dipaparkan oleh Mas Erick Gafar tentang google plus Sabtu lalu dijabarkan oleh Mbak Keke. Bahwa iya, katanya google plus lebih aman digunakan berbanding rumah biru. Selain itu, penggunaan circle (lingkaran) teman yang  memiliki hobi yang sama juga memudahkan kita untuk mencari teman yang sepemahaman. Lain-lain lagi, google plus memudahkan trafic SEO (Search Engine Optimization). Disalin dari tulisan lama Berkunjung ke Google Indonesia

Sekilas dulu catatan nggak penting setelah sekian lama nggak up date di sini :) ^_^

Sepertinya nanti akan menghapus akun google plus yang lama dan mengaktifkan akun google plus ke blog ini :)

baca selengkapnya...
Diposting oleh Anazkia Aja | 28 komentar

Rumah Buku Cilegon dan Piknik Buku

Koleksi buku pribadi Kak Magda. Awal-awal saya kenal Kak Magda belum begitu banyak buku cerita anak. Sekarang koleksinya udah banyak. Keren pisan, eui! :)


Rumah Buku Cilegon (RBC) dan Piknik Buku adalah dua kalimat yang tak bisa dipisahkan. RBC merupakan sebuah perpustakaan milik pribadi, tepatnya perpustakaan milik Kak Magda dengan koleksi buku-bukunya. Kak Magda hobi membaca. Selain hobi membaca, Kak Magda juga hobi membeli buku. Dari koleksi bukunya yang banyak tersebut ia berinisiatif untuk mengajak orang lain membaca. Atas ide Kak Arum, akhirnya lahirlah Piknik Buku. Eh, lengkapnya mengenai Piknik Buku saya pernah menuliskannya di sini :)

14 September kemarin, saya kembali mengikuti Piknik Buku bersama dengan Aty, Ijal, Haqi dan tentu saja Kak Magda, founder RBC. Hari Sabtunya, melalui whatsapp saya bertanya dengan Kak Magda, apakah ia mau berkunjung ke dua tempat, pagi di Kramatwatu, siangnya ke Gerem. Dan dengan senang hati, Kak Magda mengiyakan ajakan ini, Jam 10 pagi, Kak Magda sampai di rumah Kramat. Seperti biasanya, setelah sampai Kak Magda akan menggelar buku-bukunya, menunggu anak-anak datang untuk membaca buku. Di Kramat sendiri, ini untuk pertama kalinya diadakan. Faiza, keponakan saya dengan semangatnya menjemput kawan-kawan di sekitar rumahnya. Biasanya, selain sesi membaca buku masing-masing, Kak Magda juga akan membacakan buku untuk anak-anak. Dan ini, saya juga ikut belajar dari Kak Magda.

Siangnya, setelah makan siang dan shalat dhuhur kami menuju ke Gerem. Saya dan Aty ikut dengan Kak Magda, Ijal mengendarai sepeda motornya sementara Haqi pulang ke rumah karena dia baru pulang kerja.

Untuk ke Gerem, ini untuk yang kedua kalinya Piknik Buku ke sana. tempatnya sama, ke rumah sahabat saya. Seperti biasa, Sumi, sahabat saya selalu menyambut dengan suka cita kedatangan kami. Ia sudah mengumpulkan beberapa anak kecil di rumahnya, tapi ketika kami datang mereka sudah berkeliaran ke mana-mana.  Dipanggilnya mereka dengan suara lantang ketika kami sudah datang. Tak lebih dari 10 anak mendekat ke bawah pohon mangga. Dua dipan bambu sudah disiapkan oleh Sumi. Dengan cekatan, Aty dan Kak Magda langsung menyusun buku di atas dipan bambu. Sumi sibuk menghidangkan air dan cemilan untuk kami. Anak-anak pun mulai memilih buku, meraihnya dan mengambil tempat yang nyaman untuk membaca.

Yang hadir memang tak banyak, tapi ada salah satu anak yang dia memang gemar membaca. Alfiya Nur fatimah, dipanggilnya Fia. Dia duduk di kelas 6 Sekolah Dasar (SD), konon ia kerap ranking 1 di kelasnya. Sumilah yang bercerita mengenai Fia. Kali itu, tak hanya Kak Magda yang membacakan cerita untuk mereka, tapi juga Fia yang bersedia membacakan cerita untuk teman-temannya. Fia, menghabiskan beberapa buku cerita sebelum ia membacakan cerita untuk yang lainnya.

Setelah adzan ashar berkumandang, Sumi menyuruh kami bergegas membereskan buku, mengalihkannya ke dipan bambu sebelahnya dan menggantinya dengan meletakan hidangan. Nasi, lengkap dengan lauk pauk sayur asam, tempe goreng, tahu goreng, ikan goreng juga sambal. Awalnya kami malu-malu mengambil makanan. Tapi setelah mencobanya sedikit, barulah kami makan dengan lahapnya. Kecuali Aty :)

Piknik Buku kemarin adalah yang paling seru. Selain jalanannya yang memang medannya sulit, tak lupa adalah jamuan makannya ^_^ terima kasih banyak, Sumi dan adik-adik di Gerem.

Spesial terima kasih adalah untuk Kak Magda pemilik dan pengelola Rumah Buku Cilegon. Yang mau membagi waktu rehatnya buat kluyuran membawa buku. Padahal, ia bekerja dari hari Senin sampai Sabtu. Pun dengan waktu pulang bukan petang. Karena terkadang ia pulang sudah pukul 11 malam. Tengkyuh, Kak. Selalu ada hal baru dalam setiap perjalanan, tak mengira perjalanan itu dekat atau jauh. Kak Magda istimewa, dengan kelebihan yang ada Kak Magda mau mengajak mereka untuk membaca. Masih terngiang kalimat Kak Magda, "Betapa gembiranya, ketika buku yang saya bawa dipegang dan dibaca oleh mereka, orang-orang yang tak saya kenal," :)

Selalu ada cara Pemilik Semesta menemukan kita ^_^

Kak Arum, thanks juga atas ide kerennya. Ketika Kak Magda merasa kehilanganmu di Piknik Buku, setidaknya ketika Piknik Kak Magda mungkin akan selalu mengingatmu :) ayo, kapan ikutan piknik lagi, Kak? :)

Kak Magda sedang menunjukan peta Makassar

Alfiya Nur fatimah, dipanggilnya Fia

Yang dibaca Kak Magda ada buku saiya! :D #NorakNorakBergembira :D

Meski salah satu dari mereka belum pandai membaca, tapi mereka tetep semangat memegang dan melihat bukunya :)




baca selengkapnya...
Diposting oleh Anazkia Aja | 12 komentar

Lima Massa Dalam Usia

Keraton Surakarta, 15 Nopember 2010

Ketika dewasa menjadi sebuah pilihan,
Maka tua adalah sebuah kepastian
Saat tua menjadi nyata,
Adakah kita akan terlunta-lunta,
Meminta-minta
Kepada sesiapa, yang mempunyai belas kasih dan iba

Ah, tua...
Ternyata engkau menantiku di ujung sana
Adakah aku akan berjumpa?
Atau terhenti, sebelum aku sampai ke sana? 

Foto dan baris-baris kata di atas saya unggah pada 18 Desember 2010 di Facebook. Saat melihat orang tua di manapun keberadaannya, saya kerap menjadikannya cermin diri. Cermin di mana kelak saya akan seperti itu. Menua, renta atau bahkan saya tak akan sampai ke sana.  

Atau pernah suatu ketika, saya menulis status di facebook tentang keberadaan usia saya. Saya tak ingat dengan jelas kalimatnya, tapi saya mengingat jelas kesimpulan status tersebut. Usia, dalam hidup seperti pembagian lima waktu dalam shalat. Mengingat Rasulullah wafat pada usia 63 tahun, maka saya sebagai umatnya kalau diberi umur panjang mungkin tak jauh dari itu semua. 63 tahun dibagi lima waktu. 

12 tahun pertama adalah waktu subuh, di mana kita memulai hari, memulai amalan. 24 tahun adalah paruh waktu kedua dimana ia memasuki waktu dhuhur, 36 tahun adalah paruh waktu ketiga dimana ia memasuki waktu ashar menuju ke senja dan petang. 48 tahun adalah paruh waktu keempat dimana ia memasuki waktu maghribsenja mulai tenggelam dan malam mulai melabuhkan tirai. Dan 62 tahun adalah paruh waktu kelima dimana ia menuju waktu isya. Gelap, akhir hari dan menuju malam untuk terlelap.

Lantas, pada masa apakah saya sekarang ini? Subuhkah, dhuhurkah, asharkah, maghribkah atau justru isya? Menghitung waktu berlalu, sekarang saya sudah memasuki waktu dhuhur menjelang ashar tak lama lagi. Ah, tak lama lagi waktu ashar saya singgahi. Waktu di mana hari masih benderang, waktu di mana hari masih terang. Apa saja yang sudah saya lakukan di saat subuh menjelang dhuhur? Baikkah, burukkah atau tak ada sama sekali  yang saya lakukan. 

Sudah hampir mendekati paruh waktu ashar, beberapa hal yang sudah saya lakukan pada paruh waktu subuh dan dhuhur tentunya saya harapkan ia menjadi bekal di paruh waktu isya. Saya bukan usahawan yang memiliki tabungan milyaran rupiah untuk bekal di hari tua. Saya juga bukan PNS yang memiliki jaminan pensiun untuk masa tua. Saya hanyalah mantan TKW yang tak memiliki harta benda untuk bekal di waktu tua. Sedikit pengalaman dan kegiatan yang dilakukan sekarang ini, kelak saya harapkan ia menjadi simpanan di kemudian hari.

Pulang ke kampung halaman

Pulang. Ya. Pulang ke kampung halaman adalah keinginan saya ketika tua nanti. Menikmati senja menuju isya dan bermimpi mampu mengabdi di kampung halaman sendiri. Membuat taman baca, menuliskan masa kecil, mengajar ngaji di desa membantu guru mengaji yang dulu telah mengajari saya. Ya, itu mimpi dan keinginan sederhana saya menjelang waktu isya. Waktu di mana ia adalah paruh kelima. Gelap, akhir hari dan menuju malam untuk terlelap. 


baca selengkapnya...