Tiba-tiba, saya sampai pada tulisan enam tahun lalu, "Inul, Pembantu dari Indonesia" saya baca lagi satu-satu, juga komentarnya. Ada banyak sekali kesalahan eyd di sana-sini. Penggunaan titik koma yang nggak pas pemakaiannya. Ah! Tapi saya tak ingin membahas segala isinya. Tapi lebih kepada individu yang saya tulis enam tahun lalu. 

Saya terdiam sejenak. Tertegun. Inul, kembali membuat saya berdecak kagum, mengucap syukur. Sungguh, Allah sebaik-baik Maha rencana, Pemilik cerita. Kalau saya tidak membuka lagi tulisan lama, pastinya saya sudah lupa dengan garis hidup Inul di masa kecil dulu. Inul kecil yang mengikuti orang tuanya sebagai transmigrasi di Sumatera. Inul kecil bertelanjang kaki menuju sekolahnya merentasi hutan bersama dengan Ayahnya. Otak kerdil saya bertanya-tanya, apakah Inul masih mengingat detail cerita kisah hidupnya kini? Entahlah.... Saya tak pasti. 

Tapi, ada keyakinan di hati kecil saya, bahwa orang seperti Inul itu dibesarkan oleh masa lalunya. Ia menjadi orang yang kaya hati. Barangkali, ia kini tersenyum bangga mengingat masa lalunya di usia tiga belas tahun. Merentasi pulau Sumatera menuju Pulau Jawa, hanya dengan secarik kertas. Mengikuti kisah hidup Inul di masa lalu, betapa sekarang saya selalu tersenyum melihat kehidupannya. Jombloku, sudah tidak jomblo lagi. Inul, sudah menikah dengan salah seorang teman blogger. Mereka, kini sudah dikaruniai seorang anak. 

Sampai hari ini, saya belum pernah bertemu dengan Inul. Tapi kami sering mengobrol di inbox. Dia, yang acap mengajari saya mencari uang melalui blog. Dia, yang kerap pula memaksa saya "menguangkan" blog. Sampai kemudian saya luluh dan mau belajar darinya. Inul keren, ya? Terima kasih, Inul ^_^

Inul, kini sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Tapi, tak sembarang ibu rumah tangga, karena di sela-sela kesibukannya mengurus rumah dan mengasuh anak, ia masih sibuk juga mencari uang di blog. Kalau saya, sih, sudah berhenti :D hahahaha. Semoga keberkahan dan keselamatan selalu bersama Inul ^_^

Dulu, ada teman yang bertanya kepada saya, kenapa saya tidak menyukai para motivator-motivator yang beredar di layar kaca? Jawab saya sederhana saja, saya lebih suka bertemu dengan orang-orang seperti Inul secara langsung. Belajar dari kisah hidupnya, bukan teori semata-mata. :)
Kelas Dongeng Pemula yang dilaksanakan tanggal 10 September lalu. Ramai banget ^_^

Bagaimana Mendongeng dengan Audience Orang Dewasa? Saya sudah bisa mendongeng? Sampai-sampai menulis tutorial?  Owh, sama sekali belum tentu saja. Meski sudah hampir tiga tahun tergabung di Komunitas Ayo Dongeng Indonesia (Ayodi) besutannya Kak Aio, saya tetaplah saya. Yang masih belum bisa mendongeng. Atau tepatnya, saya masih malu memulai mendongeng di depan anak-anak (yah paling bisanya di depan keponakan-keponakan :D ahahahaha). Nah, di depan anak-anak saja belum berani, apatah lagi di depan orang dewasa? -_-

Kak Aio adalah mentor yang baik buat kami. Dia memang senior untuk urusan dongeng. Nggak heran, karena jam terbangnya yang sudah tinggi. Kepiaiwaiannya dalam hal dongeng tak bisa diragukan lagi. Karena kelebihan yang dimiliki itulah, ia selalu support kami, para relawan untuk bisa mendongeng juga. Dalam setiap event undangan dongeng, ia selalu mengharapkan relawan-relawan untuk tampil. Menambah jam terbang, juga mengasah kemampuan kata dia. Kak Mila, Kak Yanie, Kak Ana, Kak Fadila dan teman-teman lain sudah mulai sering mendongeng. Buat Kak Aio, keberanian mencoba adalah kunci utama (halaghhhh... saya serius banget, sih?) :D tapi emang iya, sih. Hahahahaha... Kalau Kak Budie dan Kak Bonchie, jangan ditanya lagilah ^_^

Kembali ke awal judul. Jadi, ceritanya tadi malam ada Kelas Online di group whatsapp Ayodi untuk pertama kalinya. Kelas dongeng offline, kami sering lakukan. Tapi untuk online, baru malam tadi mulainya. Dengan tema Mendongeng untuk Audience Dewasa, inilah sedikit rangkumannya yang saya copy paste semena-mena.

Kak Aio: Sejak Kuliah Dongeng terakhir beberapa waktu lalu, kemudian ada yang mengusulkan bahasan tentang "Bagaimana Mendongeng dengan Audience Orang Dewasa?". Nah, ini yang akan gw coba bahas sedikit dan nanti bisa dibahas kemudian atau bagus jika ada yang tanya. Point satu yang harus diingat dulu, sambil pengingat buat semua juga...

Pertama, Mendongeng itu adalah Accrued Skill  
                       
Mendongeng itu adalah keahlian yang butuh dilakukan berulang dan memakan waktu hingga merasa cukup baik nantinya. Contoh sederhananya adalah naik sepeda, nggak bisa jago mengendarai sepeda jika baca buku panduan saja.
                         
Kedua, yang harus AyoDears ingat... Mendongeng adalah KOMUNIKASI. Jadi modal utama adalah elemen dalam komunikasi juga... cerita, suara, ekspresi, dan gesture. 
                        
Nah sekarang kita masuk ke pokok bahasan...

Bagaimana mendongeng ke orang dewasa?   
                      
Pada dasarnya, siapapun senang bercerita dan senang mendengarkan cerita yang baik. Siapapun itu bisa anak, dewasa, orang tua, dewasa atau tua yang terperangkap di tubuh anak-anak, hingga anak-anak yang terperangkap di tubuh tua tapi tidak dewasa atau mungkin cukup dewasa juga. 
                        
Cerita yang baik itu bagaimana?        
            
Kalau pada anak-anak, cerita yang baik itu yang sesuai dengan perkembangan usianya. Kalau pada orang dewasa,  cerita itu yang juga sesuai dengan perkembangannya.

Ini yang tricky.               
          
Buat orang dewasa, alat terkadang tidak mempengaruhi. Buat anak-anak juga sih. Asal kita punya cerita yang kuat. Jadi POINT penting di sini, kita harus punya cerita yang kuat sesuai dengan usia audience yang akan kita hadapi. Kalau orang dewasa, maka ceritanya SESUAI DENGAN atau MENANTANG pengetahuan mereka, pengalaman mereka atau logika mereka. Ini kuncinya.

Dari penjelasan Kak Aio di atas, barulah dibuka tanya jawab. berikut tanya jawab yang diajukan oleh teman-teman, 

Kak Yanie, Gimana, sih, cara taunya cerita itu kuat atau ngga? Ini PR aku dr dulu milih cerita suka susah. Pertanyaan Kak Yanie, yang sudah sering mendongeng di beberapa event dongeng.

Kak Aio: Untuk tahu cerita kuat atau enggak itu sama seperti nonton film. Film dengan cerita yang kuat itu nggak akan mudah dilupakan. Di jalan akan dipikirkan, akan ada perasaan tertentu yang berkecamuk di kita dan beragam lainnya. Tapi film tidak cukup hanya cerita, dia didukung visualnya (cinematography, tatacahaya, dll yg terlihat), audionya (tatasuara, sound effect, theme song, dll yang terdengar), pemainnya.   

Itu kekuatan pendongeng. Cerita, kalau sudah di kuasai. Hanya dengan permainan Nada suara (intonsi), kecepatan (pace) dan tehnik suara lain tanpa meng-UBAH suara,  tapi didukung ekspresi dan gesture yang tepat juga cukup kuat kok. Cara taunya, banyak baca dan rasakan ceritanya. Apakah ada "sesuatu"? Apalagi jika cerita itu bisa menggerakkan seseorang. Itu cerita yang kuat.  

Anis,  Lalu, kalau ke orang dewasa sepertinya kaya "motivator" gitu, ya, Kak? Karena penyampaian nggak pakai imajinasi, atau apa, Kak? Mohon diluruskan. 

 Kak Aio; gw nggak percaya seseorang bisa menjadi motivator. Orang yang bisa memotivasi hanya orang itu sendiri. Karena dia yang mengambil keputusan. Kemudian dia memotivasi dirinya untuk bergerak. Dia bisa mengambil inspirasi dari orang lain, dari kisah orang lain. Nah, dongeng itu kerjanya seperti itu. Dongeng yang menginspirasi itu yang kuat buat orang dewasa. 

Rahmat; Kalo orang dewasa, perlu ekspresi berlebih terutama vokal?  

Kak Aiokalau dirasa perlu dan jadi penguat cerita, kenapa enggak?

Kak Budi, jika tetap ingin menggunakan 'partner', bagaimana memaksimalkan alat peraga bonek? Apa bisa dibuat konsep tanya jawab/ komunikasi dengan si partner?  

Kak Aio, Nah ini bisa aja sih, tapi orang dewasa sudah tau "partner" nya itu apa. Tapi kalau ceritanya kuat, nggak masalah apapun yang kita pakai. It will work.     

Destri, Kak mau tanya, kalo sama anak-anak, kan, naikin moodnya pake lagu atau tarian. Kalau dongeng untuk dewasa naikin moodnya gimana, ya, caranya?


Kak Aio; bisa iya, bisa enggak. Tergantung ceritanya. Nggak bisa pakai lagu. Orang dewasa akan dengar kamu jika sesuai dengan kebutuhan mereka, Minat mereka, atau malah menantang minat mereka dan kamu malah menyadarkan kalau mereka butuh. Ini pasti bisa kena.

Kak Yanie; Kalau orang dewasa, maka ceritanya SESUAI DENGAN atau MENANTANG pengetahuan mereka, pengalaman mereka atau logika mereka. Contohnya apa? #bantukakAna

Kak Aio;  Dalam setiap cerita ada value, pesan dan nilai. Nah, cara penyampaian yang tersirat atau tidak secara langsung itu yang kuat pengaruhnya. Itu yang kadang bikin orang "Ooo..." diakhir. 

Dari tanya jawab di atas, untuk memberikan contoh barangkali memang sulit. Karena, emndongeng itu bukan sekadar teori. Tapi lebih ke praktek. Kak Aio, memberikan penjelasan lagi, 

Kak Aio: Sebenarnya agak sudah juga di WA hahaha. Beda cerita tertulis dan cerita dituturkan lisan.  Beda cara dan beda pengaruh. Nah, dongeng itu kerjanya seperti itu. Dongeng yang menginspirasi itu yang kuat buat orang dewasa. Tertulis itu akan banyak narasi mendeskripsikan hingga kita bisa membayangkan dan mengimajinasikan. Dalam penuturan lisan, kadang deskripsi masih ada, tapi terkadang digantikan ekspresi dan gesture.

Kita suka atas sesuatu itu beda-beda. Kita suka akan sesuatu itu karena kita menemukan keindahan di situ. Indah itu bukan lagi masalah logika. Sesuatu jadi indah itu ketika menyentuh perasaan. Tujuan dongeng itu subyektif dan bisa obyektif. Bisa beda bisa sama.

Putu; Jadi untuk kasus pikih cerita.. Kita boleh subjektif ya kak? Asal kita menguasai dan kita nyaman sama creita itu.. Itu modal pede kita buat dongeng ke org lain?

Kak Aio; Bisa, tapi kalau mau valuenya sampai, harus sedikit menyesuaikan dengan audiencenya.   

Eha; Intinya kekuatan cerita dan teknik yang digunakan, yah, Kak?

Kak Aio: Tehnik bisa sederhana, tapi cerita itu harus kuat. Itulah kenapa, dongeng itu bisa dilakukan siapapun.

Film yang menggugah itu karena ceritanya kuat, cerita yang kuat pasti ada pesan yang kuat.  Sama rumusnya. Dongeng yang menggugah itu karena ceritanya kuat, cerita yang kuat pasti ada pesan yang kuat. Kadang jadi menggugah dan mengganggu. Menggugah perasaan, menggangu pikiran.   


Eha, Gimana caranya membuat cerita yang kuat, Kak?

Kak Aio: Good question. Banyak baca dan rasa. Ceritakan, ceritakan. Terus berulang hingga dapat.

Demikianlah yang bisa saya rangkum. Terima kasih buat Kak Aio. Semoga bermanfaat buat kami. Dan terutama sekali buat saya, semoga setelah ini berani mendongeng. Biar nggak cuman jadi tim medsos aja sama dokumentasi! Ahahahahaha....
                 




Ngatur posisi, muat-muatin :D


Waktu menunjukkan pukul tiga petang lewat. Jalanan kecil ini macet. Ini bukan di Jakarta tentu saja. Ini di sebuah kampung, Jaha namanya. Tikungan ini sesak, lalu lalang kendaraan melebihi kapasitas. Jalanan kecil ini menuju Kampung Garung, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang-Banten. Kampung Garung, merupakan salah satu desa yang terkena bencana longsor dan banjir bandang pada 24 Juli dini hari. Kak Magda, dengan sangat hati-hati menepikan mobilnya. Tak ada orang marah-marah di sini, tak ada bunyi klakson bersahut-sahutan. Masing-masing sadar dan cukup tahu diri untuk menyingkir, memberikan celah jalan. 

Macet


Lalu lalang mobil dan motor yang berjalan perlahan ini membuat saya dapat mengenali beberapa orang yang ada di dalam kendaraan. Beruntun, beriringan sebagian besar besar adalah teman-teman komunitas yang saya kenali. Meski mereka tak melihat saya :D. Mereka, baru saja turun dari Kampung Garung, mungkin saja, mereka tidak mau terjebak gelap karena hari sudah mulai petang.

Mobil Cholis, sampai lebih dulu di atas. Sementara dua mobil yang dikendarai oleh Kak Magda dan Wawan terpaksa diparkirkan di Kampung Jaha, karena tidak bisa melewati medan menuju Kampung Garung. Terlalu riskan, dengan jalanan yang tidak bersahabat. Mobil Cholis dipenuhi barang-barang donasi dan orang semuat-muatnya, sebanyak lima orang termasuk Cholis yang menyetir. Dua orang, Fairuz dan Rizki meminjam motor temannya yang ada di Kampung Jaha. Tinggallah lima orang termasuk saya. Sedianya, kami akan jalan kaki, sampai kemudian nanti dijemput oleh mereka yang sampai lebih dulu. Tapi, mobil Cholis masih muat satu orang lagi, saya diminta turut serta. Akhirnya, hanya 4 oranglah yang jalan kaki, Kak Magda, Swa, Septi dan Rahmat.

Sampai di atas, kami masih bertemu dengan banyak mobil yang hendak turun. Juga, iring-iringan motor yang baru saja melaksanakan trauma healing. Riak wajah mereka sangat gembira. Bahkan, salah satu teman sempat menghentikan motornya menyalami kami yang bersesak di dalam mobil, antara barang-barang donasi dan manusia. Kang Koelit, founder Komunitas Relawan Banten (KRB) baru saja usai mengadakan trauma healing bersama dengan belasan relawannya. 

Melewati jalanan yang lebih sempit lagi, sesama pengguna jalan lebih berhati-hati mengendarai kendaraannya. Beberapa orang, berbaik hati di tepi jalan menjadi juru parkir tak berbayar. Dengan murah hati memberikan arahan, mana yang sebaiknya lewat lebih dahulu, dan mana yang berhenti menunggu. Ada banyak RT di Kampung Garung yang kami lewati. Kata Cholis, kami akan menuju Kampung Garung yang paling ujung, RT 4. Tumpukan donasi terlihat di berbagai posko, kerumunan orang-orang baik korban, relawan mau pun donatur terlihat di setiap posko. Sapaan untuk lebih berhati-hati di jalan, selalu kami dapat dari banyak orang. Pandangan seperti itu ditemui sampai kami tiba di Kampung Garung. 

Kembali, kami menemukan kesulitan ketika parkir saat sampai di RT 4. Tapi, lagi-lagi tangan-tangan baik hati itu selalu datang memberikan arahan. Bergantian, akhirnya kami bisa parkir dengan selamat. Pun orang-orang yang hendak keluar pun bisa melewatinya. Satu mobil avanza (eh, lupa kijang apa avanza :D) berisi satu keluarga terlihat sibuk menurunkan barang-barang donasi. 

Masih di kampung Jaha, jalanan lengang


Cholis menjemput Kang Muhib dan relawannya untuk mengangkut barang-barang. Sebagian lagi membawa motor untuk menjemput teman-teman yang jalan kaki. Sampai di Kampung Garung RT 4, sisa-sisa longsor masih menjadi pemandangan. Sudah berlalu seminggu, keadaan sekitar semakin membaik. Kayu-kayu yang tercerabut dari akarnya, batu-batu yang berhamparan bermacam ukurannya. Sebuah masjid yang separuhnya sudah tiada, juga serakan rumah yang tak bersisa bangunannya, kecuali sisa-sisa kursi yang berserak dan perabotan lainnya.

Sebuah posko darurat dibuat. Salah satunya, dari sebuah provider. Menurut salah satu warga, posko darurat ini dibuat belum lama. Atas inisiatif warga juga relawan. Tak tergambar duka di wajahnya ketika ia bercerita. Ada semangat di balik ceritanya. Semangat untuk tak meratapi musibah yang menimpa. Ah! Sayangnya, hari sudah semakin petang, kami tak sempat berbincang panjang. Kami terpaksa pamit dan berjanji kalau minggu selanjutnya akan datang kembali. Meski terlihat berat melepas kami, tapi alasan petang di jalan dapat diterima. 

Kami berjalan beriringan, menuju parkiran. Hari sudah semakin gelap, suara adzan maghrib berkumandang bersahutan dari beberapa masjid. "Shalat di bawah aja nanti." Kata yang lain mengingatkan. Mobil Cholis diisi 11 orang. Muat. Tapi sepanjang jalan menuju Kampung Jaha diselimuti rasa takut. Alhamdulillah, kami sampai di bawah dengan selamat. Betapa, hari itu mempelajari banyak hal.... Tentang musibah yang tak pernah diminta, tentang kemarahan alam karena keserakahan manusia juga, tentang kebaikan-kebaikan yang tak pernah dipinta, tapi ia ada. Betapa, negeri ini banyak dihuni oleh orang-orang baik dan juga murah hati.












"Nggak pantes Kanaz ngefans sama dia, karyanya saja nggak ada yang tahu." Siang-siang di kantor, saya hampir tersedak ketika Novita, salah seorang kawan dekat menulis demikian di whatsapp. Novi, yang selalu menganggap saya sombong ketika saya bilang tak mengenali beberapa penyair-penyair muda Indonesia itu selalu meledek saya. Aan Mansur misalnya, penyair muda kelahiran Makassar itu pernah bertemu saat taping Mata Najwa, tapi saya abai tak menyapa atau sekadar menyalaminya. Sementara teman-teman di group whatsapp, sudah ribut sendiri. Ya, bacaan saya tentang buku-buku penyair tak banyak tentunya. Selain punya bukunya Taufik Ismail, lainnya tak ada lagi. Sangat terbatas.
Lantas, ketika suatu hari Adi bercerita tentang seorang sosok yang katanya acap mendapatkan penghargaan di luar negeri, kerap pula mengunjungi berbagai negara untuk menghadiri acara sastra, saya terkesima.
"Memang dia orang mana, Di?" 
"Orang Kramat, Kanaz. Dia juga punya taman baca."
"Eh? Orang Kramat? Sebelah mana?" Ketika Adi menjelaskan semuanya, saya pun bukannya paham. Karena banyak tak mengenali daerah Kramat, selain rumah Kakak saya.
Begitulah, awal saya mengenal namanya. Tapi, mengetahui namanya tak membuat saya tertarik untuk mencari siapa dia dan sepak terjangnya di dunia sastra. Sampai suatu hari, ketika mengadakan acara Literasitainment, saya meminta Adi untuk mengundangnya membacakan puisi. Meski akhirnya, ia tak dapat datang karena sesuatu dan lain hal. 
"Emang buku terakhir yang Kanaz baca apa, sih? Masak Rois aja nggak tahu? Aku ada bukunya!" Itu Novita, kalau ngomong kadang sangat cabai sekali. Pedas, serupa sambal tanpa garam dan tambahan sedikit gula. Makanan pembuka puasa yang belum selesai saya kunyah itu terhenti, saya memandang Novita. Tertawa.
"Emang semua orang Kanaz harus tahu dan kenal?"
"Iyalah, Kanaz mah sombong, sih." Teh manis yang masih setengah gelas itu, berasa saya ingin tumpahkan ke Novita. Tapi itu sebatas canda tentu saja.
Sekali waktu, facebook saya diadd olehnya. Jadilah saya bisa melihat kegiatan Rois di media sosial. Dan saya, sesekali googling tentangnya. Tak banyak yang saya tahu. Selain dari beberapa cerita Adi ketika bertemu sesekali. Kami pun sempat bertemu sekali, ketika kami mengadakan baksos di kampungnya Cholis, Pun hanya sebentar, karena dia harus segera pulang, karena ada hal lain yang harus ia kerjakan. 
**
"Owh, ini rupanya kampung penyair hebat itu. Sepertinya, kalau kita mau jadi penyair, harus tinggal di desa-desa seperti ini. Eh, tapi ini jangan bilang-bilang kang Rois." Celetukan Rahmat, membuat kami berempat di mobil tertawa. Minggu lalu bersama dengan Adi, Kak Magda dan Rahmat kami singgah di kampungnya Kang Rois, Desa Cibelut-Cilegon. Saya tak pasti ia masuk kelurahan Pelamunan, Kecamatan Kramatwatu atau mana. Sore itu, atas keinginan Kak Magda dan diaminkan oleh semuanya, kami ingin makan di saung, di tengah sawah. 
Koleksi foto milik Adi

Diajaklah kami oleh Rois ke kampungnya untuk mencari saung di tengah sawah. Di kampungnya Desa Cibelut, hamparan sawah hijau masih banyak terbentang berhektar-hektar. Jalan raya yang tak begitu luas itu diapit oleh sawah-sawah. Betullah celetukan Rahmat, bahwa seorang penyair hebat itu lahir dari tempat-tempat yang indah. Eh, tapi masih indahan kampung halaman saya, sih #KemudianLariKeHutan 
Karena sering diledek dan dicela semena-mena sama Novita, hari ini iseng saya googling mencari puisi-puisinya Rois Rinaldi. Kalau Novita sih katanya punya buku-bukunya. Tak sulit tentu saja, karena ternyata begitu banyak tebaran puisinya di dunia maya yang ditulis entah oleh siapa. 
MENCARI ALAMAT
Di saat aku mencari alamat kantor pemerintahan
aku bertemu seorang pemulung
aku bertanya padanya
lalu ia menunjuk tong sampah dan pergi
CILEGON-BANTEN

BANGSA MISKIN
Telah kita saksikan
Berbondong-bondong anak bangsa
Ke luar negeri, jadi pambantu
Miskin sekali yah, bangsa ini?

HUJAN
seorang wanita renta memutar-putar tasbih, penuh takjub hati tengadah penuh pada Tuhannya, di ruang yang lain seorang cucu memanggil neneknya, ketakutan, hujan menutup jendela, petir menyambar suara-suara.
HUJAN II
"kenapa hujan enggan menyentuhku?" tanyaku pada sepi
lantas dari seberang hujan kulihat gelap berlari cepat ke arahku



Tak apa dikata sombong oleh Novita, karena tak mengenali penyair-penyair muda Indonesia. Barangkali, setelah ini saya bisa memesan buku Tak Ada New York Hari Ini yang ditulis oleh Aan Mansur untuk menambah koleksi buku di lemari. Atau, bisa jadi saya membeli buku-bukunya Rois Rinaldi, yang tak hanya ada di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. 



Nah, kan? cerah ceria di sawah mah ^_^


Berhasil makan di tengah sawah, di gubug pulak :D

Bersama dengan adik-adik Kampung Serigala dan Poji tentu saja


Kampung Orang Asli Serigala, apa yang terbayang di benak kita ketika mendengar kalimat tersebut? Sebuah cerita tentang asal muasal serigala? Atau kampung yang dulunya banyak serigala? Kembali, pertanyan-pertanyaan itu juga bergelayut di pikiran saya. Ini masih dalam rangka menghadiri  Eat Travel Write 3.0 (ETW 3.0) di Selangor pada bulan April lalu, lanjutan dari tulisan sebelumnya yang ini di Kampung Felda Kedangsa.

Mendekati pukul empat sore, kami beranjak meninggalkan Kampung Felda Kedangsa, menuju perkampungan orang asli. Lagi-lagi, perut dalam keadaan kenyang lenang. Cuaca panas tidak menyurutkan semangat teman-teman mencicipi lontong yang katanya enak sekali. Perut saya memang sudah tak muat. Inilah kenapa saya tak ikut mencicipinya. 

Menuju Kampung Orang Asli, lagi-lagi kami harus berganti kendaraan dari bus menaiki lori. Melewati jalanan yang sempit, kanan kiri hutan kelapa sawit, kami disambut hujan lebat. Tapi ia tak mengurangi kegembiraan, curah hujan yang tempias ke dalam lori membuat kawan-kawan yang ada dalam lori tertawa gembira. Apalagi, kalai lori menabrak ranting-ranting pohon yang berjuntai di tepi jalan.

Sampai di Kampung Orang Asli Serigala, hujan masih belum reda. Kami disambut oleh para tetua kampung dan anak-anak muda di depan sebuah tempat seperti aula. Berderet-deret meja telah disiapkan berisi lagi-lagi makanan. Ya, dalam itinerary sore itu, kami akan melihat proses memasak Nasi Buluh dan Ikan Buluh. Sekumpulan remaja menyambut kami dengan mengalungkan janur juga memasangkannya di kepala kami. Rangkaian janur yang dibuat kalung dan topi disarungkan kepada seluruh peserta yang hadir. 



Iringan ketukan bambu di atas kayu langsung terdengar. Tiga  orang lelaki di depan kami sedang menyiapkan musik tarian orang asli di antara renya hujan. Disusul beberapa remaja perempuan yang menari mengikuti ketukan bambu di atas kayu tersebut. Dengan make up tipis-tipis juga mengenakan kalung dan topi yang dibuat dari janur pelepah kelapa beberapa anak remaja perempuan menari mengikuti irama ketukan bambu di atas kayu. Terlihat sederhana, tapi istimewa buat saya.



Usai pertunjukan sambutan, dua orang pak Cik langsung beraksi di depan kami. Menunjukan beberapa buluh bambu untuk persiapan memasak Nasi Buluh dan Ikan Buluh. Konon, menurut Pak Cik Buluh bambu yang digunakan untuk memasak bukan sembarang buluh. Ia dicari dari hutan dan sekarang sulit ditemukan. "Kalau bukan untuk sambutan tamu, kami sudah jarang yang mencarinya." Kata Pak Cik yang menyiapkan masakan. Ia meraih buluh bambu, menunjukannya kepada kami. Kemudian, ia menunjukan ikan nila yang sudah direndam dengan beberapa perencah tradisional. 

Ini buluh bambunya


Eh, bumbu tradisionalnya daun lilih aja, sih. Lain-lain itu garam saja dan perisa jika suka. Kemudian, ikan-ikan tersebut dimasukan ke dalam bambu, setelah itu ikan siap untuk dibakar. Setelah selesai pertunjukan ikan, Pak Cik pun menunjukkan bagaimana caranya memasak nasi menggunakan buluh bambu. Caranya, lebih kurang sama. Hanya medianya saja yang berbeda.

Tanpa menunggu lama, kami bisa langsung menikmati sajian Ikan Buluh dan Nasi Buluh. Rupanya, warga Kampung Serigala sudah menyiapkan maskaan untuk kami. Karena proses memasaknya memang lama. Baik nasi mau pun ikannya, rasanya sama-sama enak. Makanan khas tradisional dari Kampung Orang Asli Serigala. Yang bikin saya berkerut kening, sebenernya mengenai daun lilih ini. Mungkin, daun ini hanya ada di hutan-hutan Malaysia.

Poji, mengajak saya ke tepi rumah. Kononnya, mau diminta buat testimoni ala-ala jalan-jalan cari makan yang menyebalkan. Iya, menyebalkan karena ini ada sesi pengambilan video dan saya harus berlakon gitu :D nyahahaha... Rasain banget ini, mah :D tak lama pengambilan gambar, Sham dan panitia lainnya meminta kami cepat-cepat beranjak meninggalkan Kampung Serigala menuju penginapan karena hari sudah semakin petang. Sebelum meninggalkan Kampung Serigala, saya dan Poji sempat mengambil gambar dengan anak-anak Kampung Serigala. Buat saya, hari itu yang paling berkesan adalah di Kampung Serigala. Sayangnya, waktu sangat terbatas. Karena menurut Sham, penginapan Sri Berkat yang akan kami tuju itu sangat jauh dari Kampung Serigala.

Kenapa namanya kampung Serigala? Karena dulunya, di kampung ini banyak serigala berkeliaran.

Ikannya dimasukan dalam bambu


Mbak Olip semangat nyicip

Dikerjain Poji, ala-ala Jalan-jalan Cari Makan :))))))

Semua foto-foto yang bagus di sini milik @akugraphy ^_^ 
Bersambung....


Dokumentasi milik aku graphy :)


Rangkaian tulisan Eat Travel and Write 3.0 Selangor International Culinary Adventure. 13.00 Depart to Felda Gedangsa, Tart Bengkulu Making. Bengkulu tar is an old traditional cookie/dessert by the bengkahulu ethnic from Kuala Kubu Bharu. Sejak pertama kali menerima itinerary Eat Travel Write 3.0 (ETW) 3.0 saya penasaran dengan jadwal tersebut. 

Kamis, 21 April 2016. Selesai dari Sungai Dusun Wildlife menjenguk tapir, kami langsung beranjak meninggalkan tapir-tapir manis nan cantik berkulit licin menuju Felda Kedangsa. Di kepala saya terngiang-ngiang kalimat Bengkulu, salah satu kota di Indonesia. Pun dengan Mbak Olip, saya bertanya penasaran dengan kalimat bengkulu tersebut. Dan rupanya, tukang kuburan itu memiliki rasa penasaran yang sama dengan tart bengkulu.

"Mari kita naik bus lagi dan mari kita makan lagi di tempat yang baru." Ujar Mbak Olip ketika kami hendak menaiki bus menuju Felda Kedangsa.

"Ini sih, namanya eat travel and sleep." Kata saya menimpali sambil tertawa. Dan diikuti gelak yang sama oleh Mbak Olivia..

Jarak tempuh dari Sungai Dusun menuju kampung Felda, saya tak begitu pasti. Tapi, rasanya memang tak begitu lama. Di jalanan yang mulai sempit antara perbatasan kampung Felda, bus menepi dan kami diminta turun semua. Sebuah lori pekerja felda, sudah menunggu kami. Satu persatu, kami turun dan diinstruksikan untuk menaiki lori tersebut. Gelak tawa gembira bersahutan di antara kami, apalagi, ketika Pak Cik lori menaikan dan menurunkan kami melalui tanjakan (halagh, ini saya nyebutnya apa, sih? hahahah) jadi, naik ke lori itu ada tuasnya. Trus, tuasnya ditarik otomastis itu tempat naik turun penumpang bisa dikendalikan. Kita tinggal berdiri aja. Kemudian saya bingung dengan penjelasan sendiri :D :P

Rumahnya asri...


Matahari, sedang terik-teriknya saat kami tiba di Felda Kedangsa. Warga Felda kedangsa sudah menunggu kami di salah satu rumah yang asri, dengan banyak tanaman bebungaan di halaman depan juga samping rumah. benar seperti tebakan kami, makanan yang menyelerakan sudah tersedia dengan manisnya di atas meja. Tinggal menunggu kami saja untuk menyentuhnya. Teman-teman berebut menuju minuman dingin dengan perisa kedondong. Tidak menunggu lama, minuman dingin tersebut habis sekelip mata. Rasanya, enak dan segar ^_^

Ramai menonton dan menyimak 


Tak lama, kami langsung diajak menuju ke belakang rumah. Rupanya, di belakang rumah ada sebuah gubuk yang sepertinya memang khusus dijadikan tempat untuk memasak kue tar bengkulu, atau bahkan kue-kue lainnya. Teman-teman media dan blogger langsung berebut masuk mengerubungi Mak Cik yang sudah duduk menghadap adonan kue. Bahan-bahan tar bengkulu tepung terigu, telor, gula, minyak dan santan. Semua diuleni dalam satu wadah dan manual menggunakan tangan. Mak Cik  piawai sekali mencampur dan mengaduk bahan-bahan. Sementara anaknya, menerangkan kepada kami mengenai muasal tar bengkulu kepada kami.



Setelah bahan semua diuleni dalam satu wadah, ia dibentuk dua macam. Dibentuk seperti daun dengan isi kelapa dan bentuk bulat diisi selai nanas. Melihat Mak Cik bekerja, cepat saja sepertinya. Cekatan sekali tangannya membentuk puluhan tar bengkulu. Setelah selesai dibentuk, baru kemudian dipanggang di atas api dengan bahan kayu bakar. Ya, kayu bakar. Bukan di oven kekinian. Konon, untuk menjaga keaslian kue. Cuaca panas, ruang yang sempit dan adanya tungku kayu membuat badan ini basah oleh keringat.  Tapi, teman-teman media dan blogger tetap antusias memperhatikan.

Selagi menunggu tar bengkulu masak, saya berbincang dengan salah seorang Pak Cik yang saya lupa namanya karena catatan hilang (tepatnya ketinggalan di salah satu penginapan). Pak Cik ini keturunan Indonesia.. Datuk neneknya asli Bengkulu-Sumatra ia dilahirkan di Malaysia dan sesekali masih pulang ke Indonesia. Darinya, saya tahu kalau tart bengkulu merupakan salah satu kue tradisional di Felda Kedangsa. Dinamakan tart bengkulu, karena awalnya mereka belajar membuat kue tersebut dari nenek dan ibu mereka yang asli Bengkulu-Indonesia.

Selesai ngobrol dengan Pak Cik, rupanya teman-teman sudah mencicipi tar bengkulu. Aroma kue tercium dan tak sabar ingin mencobanya. Sayangnya, perut ini dalam keadaan kenyang, sehinggalah tidak bisa banyak mencicipinya. Rasanya enak, gurih santannya terasa, apalagi ditambah isi kelapa semakin menyatulah perpaduan kelapanya. Kalau kata Mbak Olip dan Mas Danang, tar bengkulu sekarang dikembangkan menjadi nastar :D hehehehe.

Selesai mencicipi kue, saya beranjak ke depan dan teman-teman yang lain rupanya sedang menikmati lontong dan lainnya. Saya sudah angkat tangan, tidak muat lagi perutnya menerima apa pun. Meski Mbak Olip dan Mas Eka manas-manasin kalau rasanya enak. Huehehehe... Sebelum pulang, saya sempat bertanya dengan Mak Cik-Mak Cik yang masih membuat kue, katanya kalau dijual harga tar bengkulu adalah RM. 70/100 biji. Berarti kalau dijual satuan 70 sen per biji. Dan, kalau musim lebaran pesanan tar bengkulu ini banyak.

Tar bengkulu, kenapa ada di Felda Kedangsa Malaysia? Pertanyaan saya terjawab sudah. Dan hebatnya, mereka masih mempertahankan kue tradisional turun temurun tersebut. Di Bengkulu sendiri, saya belum tahu.

Dibakar di atas tungku dan di atasnya pun ada kayu bakar yang menyala

Tar bengkulu yang sudah jadi


Mak Cik ni tekun sekali










Bertempat di Empiricia Jakarta, hari ini 26 Mei 2016 Vivo kembali meluncurkan produk terbaru mereka, V3 dan V3 Max. Produk terbaru V dari vivo mengedepankan kecepatan dalam performanya sebagai pelengkap kebutuhan kaum Urban yang fun dan energetic. Tak hanya itu, vivo memperkenalkan seorang artis papan atas Indonesia sebagai brand ambasadornya yaitu Agne Monica. Agnes Mo, dianggap mewakili kepribadian yang sangat dekat dengan nilai-nilai yang diusung oleh vivo, fun, energetic and young

Duran Dong, Chief Executive Officer vivo Indonesia menjelaskan “Baik bisnis smartphone secara global maupun bisnis smartphone di Indonesia, setiap harinya pasti mengalami pertumbuhan. vivo mempunyai semangat untuk berani mengejar kesempurnaan yang sesungguhnya, sambil terus menciptakan kejutan-kejutan yang inovatif. Berdasarkan hasil riset IDC, pada kuartal pertama vivo berhasil menduduki posisi ke-5 dan melampaui produsen asal Cina lainnya seperti Xiaomi dan Lenovo. Vivo juga menjadi salah satu produsen smartphone yang memiliki pertumbuhan paling cepat di dunia. Sementara itu 4 vendor lainnya yaitu Samsung, Apple, Huawei dan Oppo. ”

Vivo Seri V terbaru yaitu V3 dan V3Max memiliki fitur unggulan, antara lain:  

Faster Than Faster 
Lini produk seri V memperkenalkan fitur akses sidik jari  (faster finger print unlocking) yang cepat, dengan mode 360 derajat yang sangat cepat. Menggunakan sistem pengenalan sidik jari dengan sentuhan yang mampu membaca data sidik jari hanya dalam tempo 0,5 detik. Lebih cepat dan responsif
Fast Split Screen Multitasking, fitur ini memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi para penggemar smartphone dalam melakukan multitasking. Pengguna dapat menonton video streaming sekaligus membalas pesan
Fast Charging, V3 Max memiliki teknologi penghematan daya yang inovatif dan pengisian ulang daya baterai yang cepat. Pengisian daya baterai dalam 5 menit dapat memutar musik selama 2 jam

4GB RAM, produk V3Max memadukan 4GB RAM dengan Snapdragon Octa-Core CPU untuk meningkatkan kestabilan dan kecepatan yang kinerjanya 100% lebih baik dari produk sebelumnya.

Smartphone pertama yang dilengkapi dengan VIVO AK4375 Hi-Fi Chip yang memberikan kualitas pemutaran audio dan video bermutu Hi-Fi.  
vivo smartphone menciptakan produk bagi orang-orang yang energik, trendi, kaum muda urban yang suka mencari kesenangan. 
vivo smartphone memiliki penampilan yang luar biasa, audio kelas profesional, dan performa ponsel yang memberikan pengalaman yang cepat dan halus bagi pengguna

Digandengnya Agnes Mo dalam kolaborasi ini karena dianggap mewakili kaum urban, “Karakter Agnes yang identik dengan suara tinggi serta penampilan energetik memberikan kesenangan tersendiri bagi para idolanya yang sebagian besar adalah anak muda. Ia juga tak hanya menyuguhkan seni tarik suara dalam tiap penampilannya tapi juga tarian penuh semangat. Agnes memiliki performa yang merepresentasikan nilai-nilai vivo dan juga semangat yang tinggi serta langkah cepat dalam mencapai tujuannya.” Imbuh Duran Dong, Chief Executive Officer vivo Indonesia.

"Semangat vivo untuk terus selalu berinovasi, mengedepankan performa cepat sangat dekat dengan dunia entertainment yang saya jalani ini. Desain yang fashionable, kualitas audio kelas profesional dan performa kecepatan yang diusung oleh V3/V3Max melengkapi kebutuhan kaum urban yang memiliki jiwa fun, young dan energetic. Tiga semangat vivo tersebut juga saya rasakan dalam segala aktivitas saya sehari-hari sebagai public figure." Jelas Agnes Mo. 



Akhir-akhir ini, kita sering melihat persaingan ketat yang terjadi antara satu online shop dengan online shop yang lainnya, terutama dalam hal harga untuk menarik minat konsumen. Bagi kita yang awam sih paling nanggepin persaingan itu dengan hati yang senang karena yang pasti, kita lebih banyak diuntungkan dengan harga-harga yang murah. Lebih-lebih kalau diskonnya benar-benar diluar akal sehat. hehe...

Kali ini nih, salah satu olshop di Indonesia yang cukup terkenal sejak dulu sering memberikan diskon gila-gilaan pada momen-momen tertentu salah satunya adalah Lazada. Pernah dengar nggak sih kalau olshop yang satu ini sudah menyediakan ‘page khusus’ untuk Ramadhan Sale dengan tema Ramadhan Festival dimana kamu akan menemukan diskon besar-besaran hingga 80% di hari spesial tersebut mulai dari tanggal 28 hingga 30 Juni 2016.

Tapi kalau kamu membutuhkan sesuatu untuk mempersiapkan diri dalam rangka menyambut Ramadhan terutama jika kamu ingin memperbanyak ibadah dengan membaca al-quran, atau ingin tampil lebih syar’i di moment--dimana ibadah mendapatkan ganjaran berkali-kali lipat ini, kamu bisa mengecek beberapa al-quran keren dan cantik serta beberapa pakaian muslim seperti gamis, baju koko, hingga mukena dengan harga yang sudah pasti murah.

Tapi murah aja tentu tidak cukup. Selain murah kita juga membutuhkan barang yang berkualitas. Nah, Lazada adalah salah satu tempat dimana kita bisa berbelanja tanpa perlu khawatir mengenai kualitas barang karena di sini yang pasti ada banyak barang berkualitas namun dijual dengan harga yang miring. Lebih-lebih, pilihannya sangat banyak sehingga kamu yang memiliki minat khusus terutama dalam bidang fashion akan leluasa untuk memilih pakaian yang kamu sukai.

Gak tanggung-tanggung, pesta diskon Ramadhan Festival ini menyediakan pakaian muslim terbaru dan memiliki koleksi yang cukup lengkap baik untuk anak-anak, pria, maupun pakaian fashion wanita. Selain itu ada juga tasbih, alquran, buku-buku agama islam, alquran digital, hingga peralatan elektronik dan kebutuhan dapur untuk memasak selama Ramadhan juga tersedia.

Lebih-lebih, di online shop Lazada Indonesia kita bisa membeli dengan cicilan 0% menggunakan kartu kredit, menyediakan hampir semua bank untuk transfer, bahkan online shop yang satu ini juga sudah bekerjasama dengan Klikpay, Hellopay, dan tidak ketinggalan juga tersedia cash on delivery atau COD yang membuat kita aman dan merasa nyaman saat berbelanja karena kita bisa membayar sesaat setelah barang diterima. Begitu juga dengan free ongkir atau gratis ongkos kirim ke beberapa kota besar di Indonesia seperti Jabodetabek hingga kota-kota di luar pulau Jawa seperti Balikpapan, Makassar, Denpasar, Palembang, Samarinda, dan lain-lain. Seru kan!? Buruan OTW ke Lazada Ramadhan-Sale!