3 April lalu, saya menuliskan tentang Jeni, seorang teman kuli kardus dari Satu Juta Buku untuk Indonesia (Sajubu). Kuli kardus? Maksudnya apa, sih? Di antara teman-teman pegiat literasi, kami acap menyebut diri kuli kardus. Orang-orang yang sering bersentuhan dengan kardus saat mengemas buku. Baik ketika sortir mau pun packing. Lalu besoknya, tanggal 4 April melihat kenangan di facebook rupanya dua tahun sebelumnya saya pernah menuliskan tentang Diaz, yang notabene sama-sama kuli kardus dari Sajubu. Hahahaha... Selang dua tahun, saya menuliskan dua orang dari komunitas yang sama.

Kenapa, sih, saya suka iseng menuliskan teman-teman? Apakah saya akan menuliskan tentang semua teman-teman saya? Saya suka memerhatikan tindak tanduk teman-teman yang kerap saya temui. Dari cerita mereka, melihat cara mereka saya selalu berusaha untuk selalu belajar. Dari hal baiknya, pun ketika ada yang buruknya. Di antara lingkaran pegiat literasi, saya banyak belajar dari mereka. Saya orang yang tersesat di dunia antah berantah ini dengan nol pengalaman sedikit-sedikit jadi tahu. Dengan melihat mereka sortir buku, input data dan sebagainya.

Kawan-kawan Sajubu ini menarik. Mereka, sudah mengirim lebih dari 30 ribu buku ke hampir 800 jejaring yang terdaftar di sisfo sajubu di seluruh Indonesia. Ini data tahun lalu, belum ditambah tahun ini di mana mereka menerima sumbangan buku hampir lima ton dari Australia. Ya, lima ton. Jangan bayangkan buku itu sebanyak mana. Terima kasih kepada kalian yang acap mengajari jalan senyap. Barangkali, setelah ini nanti saya bisa menuliskan tentang Nopi. Karena setidaknya, azam saya sebelum mati itu menuliskan tentang orang-orang terdekat hehehehehe...

Nah, dua tulisan ini saya copy paste dari instagram tanpa edit. Tentang Jeni dan Diaz.

Jeni Fajarnisfi, ditulis pada 3 April 2017

Ikutan narsis :D


Saya tak akan lupa, ketika seorang kawan karib berujar di depan saya demi menceramahi saya yang kadang nggak bisa mikir, "Dia bisa memilih berteman dengan siapa saja, tapi dia tidak bisa memilih akan ditemukan dengan siapa. Kehendak-Nya, ketika ia selalu ditemukan dengan orang-orang baik di dalam lingkarannya." Waktu itu, jam mendekati pukul dua pagi. Saya terdiam. Menyimak kalimat demi kalimat yang disampaikan kawan karib saya tersebut. 

Mengingat kalimat di atas, saya jadi ingin bercerita salah satu teman yang ditemukan dengan saya. Di sebelah saya ini namanya Jeni. Jeni Fajarnisfi. Entah benar, entah tidak. Saya pun tak pernah menanyakan nama penuhnya.


Jeni, saya kenali sebagai sesama kuli kardus. Dia, aktif di komunitas Satu Juta Buku untuk Indonesia (sajubu) bertemu Jeni, karena ia kerap terlihat bersama dengan Novita.
.

Keakraban kami menjadi tiba-tiba saat saya mulai sering menginap di kosannya seusai kegiatan Berbagi Nasi Bogor.

Ya, selain aktif sebagai kuli kardus, Jeni pun aktif di Bernas Bogor. Jeni, bukanlah orang yang mudah akrab dengan teman baru. Hati-hati ketika bicara, dan tertutup di cerita lainnya. 
.
Alumni Sekolah Menengah Atas Kimia Bogor (SMAKBO) ini tah hanya piawai memegang bahan-bahan kimia. Selain cepat ketika mengemas kardus, teliti dalam menghitung uang, ia juga pandai memasak dan membuat kue. Satu hal yang saya tak tahu dari Jeni sebelumnya.

Pun tak lama saya baru tahu, jika selain bekerja sebagai karyawan, Jeni juga mempunyai usaha sendiri. Saya, seperti orang yang baru mengenalnya.
Mengenali Jeni, adalah mengenal seorang yang bekerja untuk komunitas dengan dasar ketulusan. Di saat lelah, tak ada kesah. Ia tak menyukai segala kesulitan untuk sebuah keperluan.


"Kalau mau bantu, kenapa harus pakai proposal, sih?" Protesnya suatu hari. Yang kemudian saya tertawakan. Saya bilang, tak semua orang berprinsip sama dengan Jeni, yang acap memudahkan segala urusan.


Lalu betulah kalimat kawan karib saya tersebut. Saya bisa memilih berteman dengan siapa, tapi saya tak bisa memilih ditemukan dengan siapa.
.

Terima kasih, Pemilik bumi Penggenggam matahari yang selalu menemukan saya dengan orang-orang tak sederhana.

Diaz Kiral, tulisan ini diunggah pada 4 April 2015

Diaz


"Nama saya Diaz, saya adik angkat Kanaz. Tapi nggak tahu, Kanaz mau ngakuin atau enggak,"

Prolog Diaz ketika di Cirebon Sabtu lalu saat mengenalkan dirinya pada sesi Ngobrol Bareng Komunitas.

Diaz...

Saya bertemu dengannya akhir tahun 2013 lalu di Perpustakaan Museum Bank Mandiri. Saat itu kami sama-sama mengemas buku yang menggunung, kami tak banyak berbincang karena tak begitu kenal.

Beberapa kali kemudian, saya acap bertemu dengannya di Perpus MBM. Satu hal yang saya suka dari dia pertama kali adalah saat melihat dia makan. Dia, pekerja keras dan ringan tangan.

Berbulan kemudian saya tak lagi bertemu dengannya. Hingga suatu hari, di sebuah acara Ayo Bantu Sekolah di sebuah mall di daerah Jakarta Barat, ada seorang anak perempuan berjilbab mendekati saya yang sedang bt karena kesalahan banner.

"Kanaz, Kanaz. Kamu pasti lupa sama saya."

Saya melihatnya sekilas. Tersenyum. Kemudian mengingat-ingat siapa dia. Malangnya, otak celeron saya terlalu lemot untuk mengingat dia.

"Sebentar-sebentar. Kanaz buka group, Kanaz lupa namanya," sekrollah saya pada sebuah group di whatsapp.

"Ah, Kanaz mah pasti sudah lupa sama saya."

"Diaz. Kanaz inget! Diaz, kan?"

Kemudian kami sama-sama tertawa. Dan Diaz, tentunya lebih banyak mentertawakan saya terbahak-bahak saat tahu banner saya salah.

"Eh, Kanaz, kamu mau jadi Kakak aku, gak? Aku, kan, anak pertama. Aku pengen punya kakak perempuan...." Dan bla... Bla...

Saya nyengir melihat Diaz ngoceh.

Waktu berlalu. Kemudian saya semakin mengenalnya. Mengenal Diaz yang acap jungkir balik mengemas buku, memilah, memilih dan sebagainya. Termasuk ketika dia membuat kue, menjualnya dan keuntungannya untuk biaya pengiriman buku.

Bertemu dengan Diaz, saya acap dibuat tertawa 24 milyar watt. Meski tak jarang Diaz kena marah juga. Tapi saya percaya, Diaz memiliki kelapangan hati yang luas. Dan saya akan selalu ingat ketika melihat dia makan di warteg selepas mengemas buku.

Diaz Setia Wahyuni
Mahasiswi Universitas Pancasila, semester 3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Alumni Lulusan Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor (SMAKBo). Katanya belajar kimia dari muka cakep, ampe muka jelek kayak sekarang





Dokumentasi milik 123

Tak banyak yang saya tahu mengenai seluk beluk mobil. Baik penggunaan, perawatan, harga juga jual belinya. Apatah lagi mengenai mobil bekas. Jumat, 31 Maret lalu bertempat di restoran The Hook, Kebayoran baru saya menyimak talkshow yang diadakan oleh mobil 123, sebuah portal otomotif nomor 1. Menyimak obrolan demi obrolan yang disampaikan oleh dua narasumber dari ahlinya, membuat saya sedikit lebih mengerti mengenai seluk beluk kendaraan ini. Pun yang dibahasnya, mengenai mobil bekas.

Pukul 13.30, suasana restoran The Hook sudah mulai ramai. Sebagian besar teman-teman blogger dan media sudah duduk sambil menikmati makan siang. Bahkan, ada yang sudah menyelesaikan menikmati hidangan. Alunan musik dari band yang saya nggak tahu namanya menemani kami semua menikmati makanan yang telah disediakan. Dress code merah yang ditentukan sebelum berangkat mewarnai suasana di restoran. Lalu lalang teman-teman blogger didominasi busana warna merah beragam. Setelah hampir semuanya menikmati hidangan makan siang, pembawa acara mulai membuka acara.

Managing Editor mobil 123 Indra Wijaya sebagai moderator siang itu tampi pertama ke depan. Ia menjelaskan sekilas mengenai mobil 123. Juga mengabarkan jika sampai hari ini mobil 123 masih menjadi portal nomor 1 mengenai otomotif. Dua narasumber, Halomoan Fischer Lumbantoruan, Chief Operational Officer dari  Mobil 88 dan Hendrik Wiradjaja, Deputy Marketing Director dari PT. Hyundai Mobil Indonesia.

Halomoan Fisher Lumbantoruan menjadi narasumber pertama. Ia menjelaskan sekilas mengenai mobil 88. Mobil 88. Mobil 88 didirikan pada tahun 1988 di bawah naungan PT. Arya Kharisma. Pada tahun 2000 menjadi satu bagian dengan Auto 2000 PT Astra Internasional Tbk. Sampai kemudian pada 2010 menjadi perseroan. Bertahun-tahun keberadaan mobil 88 banyak berganti manajemen. Sampai kemudian menjadi persero. Jangkauannya pun sudah ada di sembilan kota di Indonesia. Baik di wilayah Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya bahkan sampai ke Balikpapan.

Berkecimpung di dunia jual beli mobil sejak lama, Halomoan mengisahkan untung rugi membeli mobil bekas. Meski terkadang mobil bekas transaksinya lebih mudah, harganya bisa lebih murah, tapi sebagai pembeli harus lebih berhati-hati. Beberapa kerugian yang diperoleh pembeli salah satunya adalah mobil disita oleh pihak kepolisian. Mengapa ini bisa terjadi? Ada banyak sebab tentu saja, ketika pembeli tak jeli bisa saja ia membeli mobil hasil curian. Atau mobil yang bermasalah. Untuk itulah, Halomoan wanti-wanti untuk lebih berhati-hati ketika membeli mobil bekas. Menurutnya, membeli mobil kepada orang-orang terdekat bisa lebih dipercaya.

Faktor penyebab risiko kerugian antara lain menurutnya adalah, dokumen atau status hukum kendaraan yang dibeli. Kesesuaian fisik dan dokumen di mana tidak ada perubahan pada dokumen dan kendaraan. Kendaraan bekas tabrakan, terkena banjir mau pun odometer putaran.

Sementara Hendrik Wiradjaja Deputy Marketing Director dari PT. Hyundai Mobil Indonesia. Jika bersama mobil 88 lebih banyak dipaparkan mengenai penjualan mobil bekas, maka bersama dengan Hyundai ini Hendrik Wiradjaja menyampaikan tentang keunggulan jual beli mobil yang baru.



Talkshow selama hampir dua jam ini tak terasa. Interaksi antara narasumber dan audiens yang hadir terjalin dengan baik. Keramahan pembawa acara juga kepiawaian moderator . Waktu dua jam berjalan dengan sangat cepat. Talkshow diakhiri dengan foto bersama. Seperti biasa, khas pertemuan-pertemuan blogger. Eh, sebenarnya bukan hanya pertemuan blogger saja, tapi lebih di era kekinian hehehehe. Terima kasih mobil 123, saya jadi sedikit tahu seluk belum penjualan mobil bekas ^_^


Keramaian teman-teman blogger yang hadir


Eat Travel Write (ETW) Selangor International Culinary Adventure 4.0. ETW merupakan kegiatan promosi wisata Selangor yang dikemas oleh Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) bekerja sama dengan Kementerian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia, Tourism Malaysia, dan Gaya Travel Magazine.

18 Agustus 2016 tepat sehari seusai perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke 71 saya sudah kembali terdampar di Selangor, Malaysia. Ini kali kedua saya mengikuti event Eat Travel Write 4.0. Sebelumnya, di bulan April 2016 saya pun pernah mengikutinya. Serangkaian kegiatan dari tanggal 18 sampai tanggal 21 Agustus 2016 sudah dikirim panitia jauh-jauh hari.  Saya sudah mulai hapal ritme perjalanan bersama dengan Gaya Travel. Bukan hanya ETW, tapi juga beberapa acara lainnya. Beruntung rasanya bisa berkali-kali mengikuti acara Gaya Travel.

Tercantum di jadwal, pagi hari setelah berkumpul di Matic Ampang kami akan menuju pabrik teh BOH di kampung Sri Cheeding.  Dilanjut berkunjung ke Jugra dengan mendatangi beberapa tempat wisata seperti  berkunjung ke makam Sultan Abdul Samad, ke Anjung Tinjau Jugra Hill, museum, Istana Bandar untuk makan siang, mengunjungi salah satu pabrik keripik dan berakhir dengan chek in di Morib Hotel.

Pabrik teh BOH

Tak meleset jauh dari jadwal yang sudah ditentukan oleh panitia, lewat sedikit dari jam 10.00 kami sudah tiba di kilang (pabrik) teh BOH. Sebelum memasuki pabrik, kami diminta mengenakan tutup kepala sebagai standar pabrik. Tan Chong Wee, manager pengepakan Tea Plantations Sdn Bhd menjelaskan berbagai macam jenis teh BOH. Bagi penggemar teh tarik di Malaysia, tentunya tak asing dengan serbuk teh yang digunakan. Karena acap di kedai-kedai mamak pinggir jalan yang digunakan adalah teh BOH. Pun ketika dulu saya masih bekerja di Malaysia, di rumah majikan saya selalu menggunakan serbuk teh BOH saat hendak membuat teh tarik.

Tetap mengikuti standar pabrik, mengenakan tutup kepala

Serius mendengarkan Tan Chong Wee



Menurut Tan Chong Wee, 10% teh yang mereka produksi diekspor ke Arab, Brunei, Denmark, Jepang, Jerman, Taiwan, Singapura dan Thailand sedang untuk Amerika, teh BOH dipasarkan secara online. Kami diajak melihat satu demi satu proses pengepakan teh BOH. Juga diperlihatkan perbedaan-perbedaan teh BOH serbuk baik yang celup mau pun yang serbuk dalam kemasan. Puas mengelilingi dan melihat proses pengepakan teh, kami beranjak meninggalkan ruangan. Di depan pabrik, beberapa sajian sudah terhidang. Berderet-deret jenis minuman dari teh boh sudah tersedia. Tak hanya itu, pau cendawan pun ada serta. Inilah yang paling berat buat saya. Selama mengikuti ETW, akan dihidangkan berbagai macam makanan yang terkadang perut saya sudah tak sanggup lagi untuk menyantapnya.

Menikmati minuman BOH

Pau cendawan

Kebun teh Sri Cheeding dibuka pada tahun 1927 dengan luas 210 hektar. Kebun ini sepenuhnya dikelola oleh BOH Plantations.

Dari pabrik teh BOH, bus bergerak menuju makam Almarhum Sultan Abdul Samad. Sepertinya, untuk ini saya akan tulis dalam catatan lain ^_^ karena menarik dari sisi sejarahnya.
Tulisan mengenai ini menyusul di blog lainnya

Dari makam Almarhum Sultan Abdul Samad, bus langsung bergerak menuju Tinjau Jugra Hills. Anjung Tinjau Jugra Hill ini merupakan dataran tinggi. Di sini biasanya digunakan untuk paragliding. Dari atas ketinggian ini, kami dapat melihat Selat Malaka dan Pulau Carey. Aliran sungai Langat juga bisa kita nikmati dari ketinggian ini. Sungai yang mengalir jauh sampai ke Selat Malaka. Teduh dan tenang begitu terasa di sini. Bahayanya, ketika ditambah angin sepoi, karena kantuk akan segera bertandang :D.

Anjung Tinjau Jugra


Lelah berkeliling, waktu makan siang pun segera tiba. Bus berjalan merayap menuju istana bandar. Di sini kami dihidangkan makan siang khas ala melayu. Meski udara panas menguar, kami menikmati makan siang dengan lahapnya. Setelah itu, baru berkeliling di Istana Aleddin. Kusam dan tak terawat sangat terlihat di Istana Aleddin yang dibangun pada tahun 1905 ini.

Dari Istana Aleddin, bus kembali membawa kami bergerak menuju Kampung Sungai Lang, melihat salah satu pabrik Ros Krepek yang dikenali di wilayah tersebut. Barulah petangnya kami beranjak menuju Morib Hotel untuk Chek in. Setelah chek in, kami diberi waktu istirahat sampai maghrib. Setelah itu, kami kembali berkumpul di lobi hotel untuk mencari makan malam.  

Salah satu sudut istana Aleddin


Dalam setiap pergantian zaman, selalu ada pahlawan-pahlawan kemaslahatan. Yang berjuang untuk orang lain, tanpa dikenali, tanpa diketahui. Maka saya menganggap mereka, orang-orang yang berhempas pulas di sini, membangun Mass Rapid Transit (MRT) adalah salah satu pahlawan. Rasanya, beruntung ketika hari Kamis lalu, saya bisa ikut berkunjung melihat pembangunan MRT di Jakarta. Pembangunan yang bagi saya adalah bagian dari sejarah.

Jakarta, ibu kota yang penuh dengan segala kepadatan ini memulai pembangunan MRT di tahun 2013. Pembangunan yang amat sangat lambat menurut saya karena Jakarta sudah begitu padat, bangunan sudah begitu banyak. Tapi, tak mengapa. Tak ada yang terlambat untuk sebuah kebaikan. 

Atasnya

Lalu ini di bawahnya


Bersama Mas Akbar, kami diajak masuk ke “perut” Jakarta. Siapa menyangka, di antara hiruk-pikuk kemacetan jalan, di bawahnya sedalam 20-25 meter pembangunan dan gorong-gorong terbentang dari Lebak Bulus sampai Bundaran-HI. Yang kami datangi minggu lalu adalah salah satu stasiun yang kelak berada di Setiabudi. Dari Mas Akbar juga, ia banyak menjelaskan seluk-beluk pembangunan MRT ini. Saya, sebagai pengguna commuterline antusias sekali mendengarkan ini.

Di jam-jam kerja padat pagi dan petang, Commuterline yang selama ini menjadi transportasi warga Jabodetabek lalu lintasnya setiap 7 menit sekali. Kenapa tidak 5 menit sekali? Kata Bang Eja, orang yang kerja di KAI kalau commuterline lalu lalangnya setiap 5 menit sekali, beberapa ruas jalan di Jakarta bakalan mati nggak bergerak. Macet total. Wajar jika itu terjadi di tengah kesesakan kota.

Mass Rapid Transit (MRT) yang dibangun di bawah kedalaman 20 meter perut Jakarta ini kelak akan berlalu lalang setiap lima menit sekali. Dengan ketersediaan 16 kereta (dioperasikan 14 kereta 2 sisanya adalah cadangan), masing-masing kereta berisi 6 gerbong diharapkan mampu mengurai kemacetan Jakarta. 
Wacana dan keinginan MRT tentunya sangat muluk. Menjadikan transportasi yang lebih manusiawi. Dalam standar normal jumlah penumpang, setiap kereta bisa diisi 200 orang dengan kondisi nyaman. Berarti, tiap gerbong berisi sekitar 30-40 orang. Nyaman di sini, tidak berdesakkan, masih bisa bergerak dan bisa berdiri sambil baca buku. Meski mungkin, akan lebih banyak yang memegang android. Yah nggak masalah, sih. Kan sudah peralihan ke zaman digital :D

Muluk-muluk? Pastinya iya. Tapi, belajar dari commuterline yang sungguh tak manusiawi di jam-jam padat, rasanya wacana MRT sungguh diimpi bagi pengguna transportasi umum Jakarta. Saya juga baru tahu, jika nanti akan dibangun juga Light Rail Transit (LRT). Nantinya, ini juga akan terintegrasi dengan MRT di stasiun Dukuh Atas. Ah! Saya merasa begitu senang. Meski, di tahun-tahun yang akan datang saya sudah tak lagi menjadi penghuni Jakarta. Tapi rasanya, begitu bahagia. Saya jadi terbayang beberapa transportasi umum yang ada di Malaysia yang satu dengan lainnya saling terintegrasi, Commuterline, monorail juga LRT.

Jakarta kelak, berharap transportasinya akan semakin bagus. Meski saya tak yakin kemacetan di jalan raya akan terurai. Karena bukan tidak mungkin, orang-orang yang memiliki kendaraan dua tahun ke depan ini semakin banyak.

MRT, direncanakan akan beroperasi pada awal Maret 2019. Semoga dapat terlaksana dengan baik ^_^


Foto-foto lainnya bisa dilihat di sini 
Target bulan Maret ini baru dibaca 9 buku

Semua berawal dari tulisan-tulisannya Pak Dian Basuki di Indonesia. Salah satu user aktif yang merupakan eks wartawan senior Tempo ini kerap sekali menuliskan mengenai pentingnya membaca buku. Di awal tahun, beliau beberapa kali menulis tentang berapa banyak buku yang dibaca tahun lalu, juga ajakan untuk lebih banyak membaca di tahun ini. Membacanya, saya jadi ikut tertantang. Meski sejak tiga bulan akhir tahun lalu saya mulai aktif membaca, tapi intensitasnya tidak begitu kerap. Tak sesering ketika masih remaja dulu. Tentunya, saya tak mau menyalahkan faktor U telah memengaruhi saya. Ini lebih ke kemalasan saya saja.

Tahun ini, Bacalah Lebih Banyak Buku betul-betul menjadi pelecut saya. Bulan lalu, sedikit demi sedikit saya mulai membaca dengan baik. Mengisi waktu-waktu luang saya di sela-sela kerjaan kantor dengan membaca buku. Hasilnya, alhamdulillah meski tidak begitu banyak buku yang dibaca, bulan Februari saya berhasil menghabiskan lima buku bacaan. Sayangnya, bulan Januari adalah kesuraman. Saya hanya menyelesaikan satu buku. Alasannya, selama dua minggu di Bima saya tak banyak membawa buku. Satu buku mengenai Oprah yang saya bawa tak berhasil saya selesaikan. Buku terjemahan yang sangat payah saya rasa. Membacanya jadi enggan. Jadi, bulan Januari saya hanya membaca Wiji Thukul.

Bacaan Februari


Jika semangat membaca saya perolehi dari Pak Dian Basuki, lalu menuliskannya saya dapatkan dari Pak Handoko Widagdo. Melalui tulisan-tulisan beliau, saya mulai belajar mereview buku yang sudah saya baca. Belum sepenuhnya sempurna memang, tapi sedikit demi sedikit saya mulai belajar. Saya baru sebatas menuliskannya sedikit di instagram. Akhir-akhir ini, saya memang begitu malas membuka dashboard blog. Jadi, pelampiasannya adalah instagram. Merasa begitu malas dan tak ada kalimat saat menghadap komputer di kantor atau laptop di rumah. Saya merasa jengah setiap hari menghadapi dan membaca tulisan di Indonesiana. Tapi, sepertinya ini hanya alasan saja :(

Kembali mengenai buku, bulan Maret ini saya menantang diri sendiri untuk lebih banyak membaca buku. Berawal dari masa rehat saya selama satu minggu full di rumah, tak banyak aktivitas yang saya lakukan selain pekerjaan. Lalu, saya mulai melirik buku-buku yang belum dibaca. Tak sampai satu minggu menghabiskan tiga buku adalah prestasi. Itu masih awal bulan, saya merasa menang melawan diri. Jadi, setelah itu beruntun lebih banyak yang dibaca. Sampai akhirnya saya membuat tantangan untuk diri sendiri bahwa bulan ini saya mengharuskan diri sendiri membaca 12 buku. Dem! Setelah posting di instagram, saya nggak yakin dengan tantangan diri sendiri. Hahahahaha... Meski hadiahnya membeli buku, saya nggak ngoyo menghabiskan 12 buku. Eh, tapi beruntungnya, gara-gara postingan tersebut Mbak Winda menawari saya untuk memboyong buku-buku di rumahnya semaunya saya. Wogh!!! Saya jadi semangat empat limaaaaa... Saya batal menghadiahi beli buku untuk sendiri, tapi saya bakalan menghadiahi buku gratisan dari Mbak Winda! Hahahahaha....

Semangat membaca! ^_^


Dulu, pertama pakai handphone pas sudah lulus SMA. Itu pun bukan handphone sendiri, hanya diperbolehkan pakai. Waktu itu masih menggunakan handphone sejuta umat. Nggak ada kamera, tapi sudah senang banget rasanya. Terus, pas ke Malaysia saya dibekali handphone oleh Kakak saya. Lagi-lagi, bukan handphone sendiri ahahahaha. Sampai kemudian, handphonenya rusak begitu saja. Tahun 2009 alhamdulillah bisa membeli handphone sendiri. Masih menggunakan handphone sejuta umat dengan kamera yang entah berapa mega pixel karena saya tidak pernah menggunakannya.

Pulang ke Indonesia pada tahun 2012, saya baru melihat bahwa begitu bermacam-macamnya orang menggunakan handphone. Eyaaaa... Ketahuan selama di Malaysia ngerem di rumah saja :D. Smartphone, begitu khalayak menyebutnya. Handphone pintar yang bertebaran saat itu belum begitu ramai seperti sekarang. Teman-teman di Indonesia pun pada nggak percaya kalau saya masih pakai handphone jadul :D.
Saya menggunakkan smartphone tergolong masih belum begitu lama. Belum genap lima tahun. Itu pun bermula dari pemberian seorang kawan. Baik sekali bukan teman saya ini? ^_^

Satu hal yang saya sukai dengan smartphne setelah memegangnya ini adalah fasilitas kamera. Ya! Kamera. Karena saya merupakan makhluk yang menyukai dunia fotografi meski amat sangat amatiran sekali. Sebelumnya, saya selalu menggunakkan DSLR untuk memotret. Tapi, setelah memegang smartphone saya seperti “memuseumkan” kamera DSLR. Duh....

Sederhana, sih, masa peralihan dan meninggalkan DSLR ini. Dengan mengunakan kamera handphone, memotret lebih mudah dan yang paling penting seklai lebih mudah lagi mengunggahnya di media sosial. Hahahaha... Apalagi, sejak aktif menggunakan instagram. Rasanya, seperti etalase pajang foto di media sosial kini.

Dengan latar belakang menyukai dunia fotografi, ketika membeli handphone salah satu pertimbangan saya adalah kamera yang ada di dalamnya. Mega pixel masih dijadikan tolok ukur, meski saya masih melihat MP yang di belakang, bukan MP kamera depan. Soalnya, saya jarang sekali selfie :D wehehehe... Mau selfie kalau pas barengan sama teman-teman saja ^_^

Nah, hari Jumat lalu, saya berkesempatan menghadiri launching handphone Vivo5Plus di The Ritz Carlton. Bersama dengan teman-teman dari detik.com, kami diajak mencoba dan explore lebih jauh kamera terbaru Vivo. Acara yang dimulai jam 09.00 ini menghadirkan media, blogger juga para Vivo Fans yang datang dari berbagai kota. Sepertinya, Vivo begitu menjaga sekali para user experiencenya. Para Vivo Fans didatangkan dari luar kota, bahkan luar pulau Jawa. Lalu, apa kelebihan Vivo dibanding smartphone-smartphone lainnya?

Vivo5Plus, hadir dengan dual kamera depan. Yang menarik, mega pixel kamera depan adalah 20. Ya, 20 MP. Konon, ini yang terbaru dan satu-satunya di dunia. Dual kamera depan Vivo5Plus satu lagi sebesar 8 MP. Didesain dengan dual kamera untuk membedakan hasil foto. Dengan menggunakkan kamera 20 MP, bisa menghasilkan foto yang lebih bokeh. Menurut edi Kusuma, Brand Manajer dari Vivo, Vivo didesain dengan kebutuhan kekinian pengguna smartphone. Di mana kini banyak orang yang begitu gemar selfie dan groupie kemudian diunggah di media sosial.

Waini jerawat sampai bekas-bekasnya kelihatan semua :D hahahahaha


Sementara menurut Product Manager Vivo Indonesia Kenny Chandra, dengan sensor 20 MP diharapkan kualitas gambar akan semakin baik. Lalu, berapa MP kamera belakangnya? Kamera belakang VivoPlus lebih kecil berbanding kamera depannya, yaitu 16 MP. Ini, tentu saja lebih besar pixelnya dibanding kamera SLR saya. Upgrade eui, upgradeee :D


Lalu, bagaimana spesifikasi yang lain dari kamera Vivo? Memori internal 64 GB, 4 GB RAM. Batreai, 3160 mAH, bisalah ya ini buat 24 jam? ^_^ Dan masih banyak fitur-fitur baru yang nggak kalah menariknya di Vivo5Plus ini. Tagline Perfect Selfie, sepertinya memenuhi dual kamera 20 MP di Vivo5Plus ini. Selamat buat Vivo atas produk barunya. Owh ya, bandrol yang dijual di pasaran adalah Rp. 5.499.000. Dan dua brand ambasador terbaru Vivo Afghan dan Pevita Pearce.

Senengnya bisa ketemu teman-teman :)

Ini ada yang udah lama banget nggak ketemu (Koleksi foto milik Mbak Elisa)

Ketemu sama Om Cumi ^_^

Sebagian peserta sudah pulang :) (koleksi foto milik Mas Rob)


Saya acap merasa terlambat mengenal sosok Gie. Bahkan amat sangat terlambat. Zaman sekolah, sempat tertanya-tanya sendiri melihat orang banyak membicarakan sosok Gie. Terutama sekali ketika film Gie baru beredar. Baca bukunya tidak, menontonnya pun apalagi. Jadilah saya remaja adalah orang yang tak mengenal Gie sama sekali. 

Lalu kini ketika menuju tua, sedikit demi sedikit saya mengenal sedikit tentang Gie. Dari gambar-gambar yang beredar di media sosial dengan quotenya, dari tulisan-tulisan teman yang dipublish atau tulisan-tulisan user Indonesiana yang saya baca.Lalu soalan yang menggelitik saya adalah, "Membaca apa saja saya selama ini?" Ah! Tapi tak perlu menyesali nasib. Toh, mungkin lingkaran pertemanan saya ketika remaja dulu tak ada juga yang mengenali Gie. 

Sejak Majalah Tempo mengeluarkan Edisi Khusus (Edsus) Gie, iseng-iseng saya mulai membaca tentang Gie. nah, ini yang saya rasa hadiah paling mahal ketika terdampar bekerja di tempo Media. Saya bisa mengenal lebih banyak sosok-sosok yang jarang sekali saya ketahui. Siapa-siapanya nanti menyusullah, ya... ^_^ semoga saya tetap konsisten menulis.

Lalu, muncullah ide untuk Nonton Bareng Gie dari Mbak Vema. Karena saya tahu Gie lahir pada tanggal 17 Desember 1942 dan meninggal pada 16 Desember 1969, akhirnya dipilih tanggal 16 Desember sebagai Nobar Gie bertempat di Kantor Tempo. Rencana yang awalnya hanya nobar dengan teman-teman dekat saja, menjadi berubah  sedikit besar ketika pihak Kompas Gramediaturt serta mendukung. Ya, ini karena KPG menerbitkan edisi khusus Tempo, Catatan-catatan Gie.  

Disusunlah segala rencana. Termasuk ketika Mbak Isti mengusulkan mengundang sahabat-sahabatnya Gie seperti Herman Lantang, Aristides, Yopi Lasut juga beberapa teman-teman dekat perempuan Gie. Saya mendapat tugas mengetik surat-surat Gie yang tidak pernah terpublish. Dibagi dua dengan Mas Rob tentu saja. Rasanya, menyenangkan sekali mengerjakan menyalin surat ini. Saya seperti berada di jarak yang sangat dekat dengan Gie. Padahal hanya membaca surat-suratnya saja.

Mengetik satu persatu kalimat ejaan lama yang harus saya sesuaikan dengan ejaan sekarang sedikit rumit. Surat yang ditulis menggunakan mesin ketik ini warnanya tentu saja sudah berubah. Kuning. Saya sempat tertawa-tawa ketika tahu beberapa typo yang kemudian disilang itu ternyata sebuah kalimat yang salah. Itu pun setelah dikasih tahu oleh Mas Rob. Menyalin surat pertama saya langsung disadarkan beberapa hal. Betapa sejarah yang lama terus berulang. Sara menjadi isu utama yang mudah sekali diadu domba. 

Surat-surat Gie yang tidak pernah terpublikasi merupakan surat yang dikumpulkan oleh rakan-rakan Gie sendiri. Ini salah satu cuplikan Surat Gie untuk Boediono:

Jakarta 28 Juni 1969

Boedi yang baik,

Gue udah lama bener nggak ketemu sama lu. Seingat gue kita bertemu terakhir bulan September tahun yang lalu. Waktu itu lu mau kawin sedangkan gue ke Amerika. Jadi kita nggak ketemu waktu hari perkawinan lu. Lalu lu tulis surat sama gue dan gue nggak balas sampai sekarang. Tiba-tiba gue ingin tulis surat sama lu, jadinya gue tulis sekarang.

Gue nggak tahu apakah surat ini gue kirim perpos atau gue titip sama teman gue yang mau ke Rumbai. namanya Kartini Panjaitan. Kalau lu ada kesempatan lu temui die, dan lu bisa dengar banyak tentang teman-teman yang lain. Dia anak sastra. Terakhir gue naik gunung sama dia ke Cermai. Lu bisa cocok sama gue (kenapa yaa?- barangkali kita sama-sama sinting: ya), sedangkan gue cocok sama die, jadi gue pikir kalian juga bisa sama-sama pasang orong-orong yang panjang. Rini lu juga cocok, abis dia juga tukang guyon sih. Nah kalau kalian bertiga bertemu, tukang-tukang guyon, gue pikir rame deh, atau rusak barangkali. Dia akan di Rumbai Selasa bulan Juli. Kalau ada waktu temui deh.

Saya sekarang telah selesai dan kerja di FSUI. Rasanya gue nggak punya tujuan hidup. Gue dapat kamar kerja, dapat meja dan dapat jabatan. Jadi birokrat perguruan tinggi. Rasanya aneh sekali.... "Jadi bapak dosen yang terhormat". Kursi tempat gue duduk rasanya ada pakunya. Kalau gue uduk setengah jam saja, pantat gue rasanya panas. Rasanya mau pergi aja. Ke warung beli es atau makan gado-gado. Kalau gue terima tamu gue lebih senang duduk di tempat lain. Kalau tamunya mahasiswa rasanya lebih enak duduk di ubin dekat phon-pohon pisang. Dan gue gelisah , mondar-mandir seperti cacing kepanasan.

Satu hari gue datang ke rapat pemilihan dekan yang dipimpin oleh rektor. Gue datang pakai blue jeans. Ketua jurusan Jepang datang, "selamat ya, sudah lulus. Jij sekarang bukan mahasiswa lagi. Napa pakai blue jeans kaya kwayongan", katanya tertawa. Padahal gue mau naik gunung sama Kartini waktu itu. Pokoknya jadi sarjana susah deh. Gue inget pengalaman lu waktu lu ajak kuli-kuli makan. Rupanya kalau jadi sarjana kita musti sok gaya (tai kucing semuanya-gue lebih senang jadi orang bebas)

Kehidupan menjadi tenang kembali. Orang-orang berpikir tentang kerja-kerja rutin dan rencana-rencana kecil yang mau dilakukan. Sebelum saya lulus tujuan "tujuan hidup" adalah bikin skripsi yang baik. Setelah itu selesai ternyata gue nggak punya lagi gantinya (katakanlah sementara). Hidup gue dirutin. Bangun pagi, pergi ke kantor, lalu ngomong-ngomong atau bikin lelucon, pulang, kadang-kadang bikin karangan atau nonton. Lalu tidur. Kadang-kadang terima tamu dari luar negeri. jadi diplomat sebentar. Untuk saya keadaan ini tidak menarik. 



16 Desember lalu banyak yang datang. Orang-orang yang sudah sepuh, orang-orang muda juga para remaja. Kawan-kawan Gie, jangan ditanya. Mereka juga turut serta. Kadang saya membatin sendiri, yang kemudian diobrolkan dengan teman.Gie, seperti manusia yang diselamatkan oleh zaman. Ia mati muda, tapi semangat dan idealismenya masih menyala. 


Momen istimewa bagi setiap orang itu berbeda-beda. Tergantung dari seberapa sensitifnya hati dan seberapa penting momen tersebut bagi pribadi masing-masing. Namun bagi kaum wanita, biasanya ada momen-momen tertentu yang terasa spesial dan tak terlupakan. Jika momen tersebut terjadi dalam kehidupan seorang wanita, tentu saja wanita tersebut akan merasa istimewa.

Mau tahu momen-momen istimewa apa saja yang dapat membuat wanita jadi bahagia?

Anak Perempuan yang Dekat dengan Ayahnya

Ayah adalah sosok lelaki pertama yang dikenal oleh seorang anak perempuan. Kedekatan antara ayah dan anak perempuannya memang terasa spesial. Momen sederhana seperti diajari naik sepeda, diajak membeli jajanan, atau digendong saat tertidur tentu menjadi hal istimewa yang tidak terlupakan.

Anak perempuan yang memiliki kedekatan dengan ayah tentu punya ekspektasi yang baik terhadap kaum pria. Anak perempuan yang bertumbuh menjadi wanita dewasa pun paham mengenai cara memperlakukan pria dengan penuh kasih sayang.

Lulus Kuliah, Sebuah Pencapaian Besar Dalam Hidup
Wanita yang lulus kuliah juga memiliki kebanggaan tersendiri. Karena lulus kuliah membuktikan bahwa wanita tersebut punya kemampuan akademis yang baik dan tidak kalah dari kaum pria. Kesempatan untuk mengembangkan jenjang karier cemerlang pun terbuka lebar setelah lulus kuliah. Tidak mengherankan deh kalau hampir semua wanita ingin selalu tampil cantik di hari wisudanya.

Berhasil Mendapatkan Pekerjaan Pertama

Jalan untuk mendapatkan pekerjaan pertama memang tidak mudah. Itulah sebabnya momen ini terasa luar biasa bagi seorang istimewa. Masuk ke realita dunia kerja dan menghasilkan uang dari tenaga sendiri terasa begitu menyenangkan. Pasti para wanita juga sudah siap-siap mengalokasikan gaji pertamanya. Selain untuk bersenang-senang, traktiran untuk keluarga dan sahabat pun tidak dilupakan.

Dilamar Oleh Kekasih Tercinta

Peristiwa lamaran bukanlah akhir dari perjalanan cinta, melainkan sebuah awal bagi bahtera rumah tangga yang akan dijalani seumur hidup. Wanita pasti merasa bahagia sekaligus deg-degan ketika dilamar oleh kekasihnya. Apalagi kalau momen lamaran tersebut berlangsung secara mendadak dan romantis. Tentu saja hal ini akan menjadi peristiwa tak terlupakan seumur hidup.

Perubahan Sebagai Seorang Ibu

Menjadi ibu adalah proses pembelajaran seumur hidup bagi seorang wanita. Tidak pernah ada sekolah yang mengajarkan caranya menjadi ibu yang baik. Namun seiring dengan kehadiran buah hati, sifat keibuan seorang wanita pun akan tumbuh dari hari ke hari. Tiada yang lebih membahagiakan bagi seorang wanita selain melihat buah hatinya tumbuh sehat, cerdas, dan menjadi anak yang berbakti.

Saat mendengar tangisan pertama si kecil, rasa sakit dan lelah setelah mengandung selama 9 bulan pun terbayar lunas. Rasanya ingin selalu menyaksikan tumbuh kembang buah hati dan melindunginya sekuat tenaga.

Mendengar Ucapan Terima Kasih dari Anak

Ketika anak-anak sudah beranjak besar, masing-masing punya caranya sendiri untuk mengungkapkan kasih sayang kepada ibu. Pasti ibu tak jarang mengalami selisih paham dengan buah hatinya. Namun bukan berarti hal ini mengurangi kasih sayang ibu terhadap sang anak. Kisah dalan video inspiratif ini adalah contohnya 


Banyak ibu yang mendidik anaknya dengan keras agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Sewaktu mendengar ucapan terima kasih dan ungkapan sayang dari buah hatinya, ibu akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Karena kasih sayang dan perhatian ibu tidak dapat tergantikan oleh apa pun.

Setiap wanita yang berhasil merasakan momen-momen sederhana nan istimewa tersebut adalah wanita paling beruntung di dunia. Sudahkah kita merasakannya?

Mungkin sekarang kita masih berjuang untuk merasakan momen-momen tersebut. Sembari menikmati indahnya hidup sebagai seorang wanita, jangan sampai kita lupa untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi, ya.