Sumber gambar, ahbaburrosul.com

“Wahai orang-orang yang beriman! Infakanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruh untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” QS Al-Baqarah: 267.
Ayat di atas adalah sebagai pengingat tentang kewajiban zakat. Sebagai muslim, peraturan berbagai macam zakat itu ketentuannya sudah ditetapkan. Baik dari zakat hasil bumi, peternakan, perdagangan juga emas. Jadi, kalau memiliki emas tidak dipakai dan sudah sampai pada nisabnya, maka wajib dikenai zakat. Berbeda dengan semua zakat yang sudah dituliskan ketentuannya sejak berzaman lalu, maka zakat profesi adalah “sesuatu yang baru”. Baru dalam ranah zakat yang pada generasi terdahulu belum ada.
Zakat Profesi adalah zakat  yang dikeluarkan dari penghasilan profesi (hasil profesi) bila telah mencapai nisab. Profesi tersebut misalnya pegawai negeri atau swasta, konsultan, dokter, notaris, akuntan, artis, dan wiraswasta. Ini pengertian yang saya kutip dari wikipedia.
Lalu, bagaimana penghitungan zakat profesi ketika sejak dahulunya tidak ada ketentuannya? Dan bagaimana pendapat para ulama fiqih dalam menetukan kadar nisab zakat profesi ini?
Nisab zakat profesi mengambil rujukan kepada nisab hasil tanaman, setara dengan 522 kg beras. Contoh sederhana penghitungan zakat profesi adalah sebagai berikut,
Ramdan adalah seorang karyawan Swasta yang tinggal di Depok. Ia sudah menikah dan memiliki dua orang anak yang masih kecil. Penghasilannya setiap bulan adalah Rp. 5.000.000
  1. Pendapatan gaji perbulan Rp. 5.000.000
  2. Nisab 522 kg beras @ Rp. 7000 (relatif) Rp. 3.654.000-
  3. Rumus zakat (2,5% x besar gaji perbulan)-
  4. Zakat yang harus ditunaikan Rp. 125.000- zakat profesi juga bisa diakumulasikan selama satu tahun. Caranya, dengan menghitung jumlah bonus dan pemasukan lainnya kemudian dikalikan satu tahun. Lalu saat hasilnya mencapai nisab, dikalikan dengan kadar zakat 2,5%.
  5. Jadi, Rp. 5.000.000 x 12= Rp. 65.000.000
  6. Jumlah zakatnya adalah 65.000.000 x 2,5%= Rp. 1.625.000. Itu nisab zakat yang harus dikeluarkan oleh Ramdan.
Lantas, mengenai pendapat ulama fiqih mengenai zakat ini adalah sebagai berikut,
  1. Pendapat As-Syafi'i dan Ahmad mensyaratkan haul (sudah cukup setahun) terhitung dari kekayaan itu didapat
  2. Pendapat Abu Hanifah, Malik dan ulama modern, seperti Muh Abu Zahrah dan Abdul Wahab Khalaf mensyaratkah haul tetapi terhitung dari awal dan akhir harta itu diperoleh, kemudian pada masa setahun tersebut harta dijumlahkan dan kalau sudah sampai nisabnya maka wajib mengeluarkan zakat.
  3. Pendapat ulama modern seperti Yusuf Qardhawi tidak mensyaratkan haul, tetapi zakat dikeluarkan langsung ketika mendapatkan harta tersebut. Mereka mengqiyaskan dengan zakat pertanian yang dibayar pada setiap waktu panen. (haul:lama pengendapan harta)

Perbedaan pendapat para ulama fiqih ini tentu saja bukan untuk diperdebatkan. Tapi yang pasti wajib untuk dilaksanakan.
Eh, terus kira-kira kalau pendapatan blogger ada zakatnya, nggak, kalau nggak mencapai nisab? Jika dihitung-hitung pendapatan total sepenuhnya sampai satu tahun dari job blogger, saya yakin ia mencapai nisab untuk dikeluarkan zakatnya. Pun seandainya tak mencapai nisab, saya secara pribadi akan langsung menyisihkan 2,5% dari zakat penghasilan yang didapat. Biasanya, saya akan mengutamakan orang-orang terdekat yang lebih membutuhkan. Misalnya, Bude saya yang seorang janda juga tak mempunyai anak.
Yang pasti, uang zakat penghasilan itu tidak saya berikan kepada ibu sendiri. Loh, kenapa? Lah iya, menurut hukum syara yang berhak menerima zakat ada 8 orang, yaitu orang-orang fakir, miskin, amil, mu`allafatu qulubuhum (orang yang perlu dilunakkan hatinya kepada Islam), budak-budak yang dalam proses memerdekan diri, orang-orang yang berhutang, orang yang sedang menuntut ilmu (fi sabilillah), dan orang yang dalam perjalanan. Ini seperti termaktub dalam Al Quran Surat At-Taubah:9.

Era digital, tentunya memudahkan banyak hal. Zakat kini tak hanya bisa dilakukan secara offline dengan bertemu langsung kepada si penerima. Tapi juga bisa disampaikan melalui lembaga-lembaga zakat yang sudah banyak didirikan di Indonesia. Tapi, tak melulu lembaga zakat, bahkan kini matahari mall pun menyediakan langsung portal zakat profesi di laman webnya. Memudahkan para muzzaki (orang yang mengeluarkan zakat) untuk menyalurkan langsung zakat profesinya melalui portal online tersebut.

Jumat, 19 Mei 2017

Menuju Imigrasi

Suasana bandara Kuala Lumpur International Airport 1 (KLIA) lengang seperti biasanya. Saya pun masih sama, tak hapal-hapal juga menuju ruang tunggu ke pintu menuju garbarata keberangkatan. Seorang diri, menyusur bandara. Menggunakan petunjuk yang ada, saya enggan bertanya dengan orang karena sudah sangat sering ke sini. Jumat lalu, saya betul-betul menghapalkan pintu 11 keberangkatan menuju ke Jakarta. . Jumat, 10 Mei saya berangkat dari Palembang menuju Kuala Lumpur untuk hadir di acara Sepetang Bersama Blogger dilanjut dengan acara Eat Travel Write 5.0. Tentunya, ini berbeda dengan 11 tahun yang lalu. Ya 11 tahun yang lalu. Karena dari bandara ini jugalah cerita perkenalan dengan dunia blog itu bermula.

Di majlis Sepetang Bersama Blogger (SBB 2017)



Jumat, 4 Januari 2006

Hari itu, jangan samakan dengan perasaan saya seperti seminggu lalu di bandara KLIA yang tak ada rasa apa-apa. Waktu itu saya baru sampai di Malaysia dengan berjuta rasa sebagai penyandang calon Tenaga Kerja Wanita (TKW). Akan bekerja di sektor rumah tangga, tak menjadikan saya bermimpi indah menemukan hal-hal mudah. Penganiayaan, pembunuhan dan segala keburukan tergambar di benak saya. Andaian itu beralasan tentu saja, berita-berita buruk kerap beredar tentang dunia tenaga kerja di Malaysia.

Satu hal yang saya persiapkan sebelum ke Malaysia adalah, "Saya harus bisa menggunakan internet" alasannya sederhana, jika ada hal buruk menimpa, akan dengan mudah mengabarkannya ke Indonesia. Waktu itu, hanya bisa membuka email. Atas kebaikan seorang teman, teh Najwa, saya meminta dibuatkan email. Puji syukurnya, saya ditemukan dengan majikan yang baik. 

Tiga bulan bekerja, saya mulai akrab dengan seluruh keluarga besar majikan. Ibu, memiliki tujuh orang anak. Semuanya sudah besar. Paling kecil baru lulus sekolah menengah (SMA) dan sedang menunggu hasil ujian. Setiap kali dia online, saya sering berdiri di sampingnya. Kadang saya juga mengganggunya dengan mengatakan ingin membuka email. Mulanya, Hanani, anak majikan tak percaya jika saya dapat mengakses email.Tapi ia mengizinkan saya untuk membuka email. Dari sekadar membuka email, kadang saya melihat dia menggunakan fasilitas chating (saat itu yahoo messenger). Lalu dengan tak tahu malu, saya meminta Hanani mengajari saya.

Tak lama, dibuatlah akun baru oleh Hanani di yahoo messenger (YM)

"Kak Eli nak guna nama ape?"

"Ana boleh tak?" Saat itu, saya memang tak ingin menggunakan nama asli Eli Yuliana.

"Tak boleh."

"Azkia boleh tak?"

"Tak boleh juga. Kenapa Kak Eli tak guna nama sebenar?"

"Tak nak, malas," kemudian saya terdiam cukup lama memikir-mikir nama apa yang akan diguna. "Anazkia boleh tak?."

"Boleh!"

Dan akhirnya, malam itu "lahirlah" akun dengan nama Anazkia. Yang memang tak ada arti apa-apa saat memberikannya. Ya, tak ada. Bahahaha...

Hari berlalu. Dari YM, alhamdulillah saya menemukan teman-teman yang baik. Dari YM juga saya mengenal blog yang saat itu saya tak ketahui apa bentuk dan bagaimana membuatnya. Atas anjuran Pak Agus Syafii yang "menyuruh" saya membuat blog, lalu dengan segala kebodohan saya meminta tolong seorang teman membuatkan. Arwani, sahabat maya yang saat itu sedang kuliah di Al Azhar mau membuatkan blog. 

"Mbak, blognya mau dikasih alamat anazkia?". Tanyanya via SMS yang langsung saya iyakan tanpa berpikir panjang. Lalu, Arwani juga membubuhkan tagline blog, "Belajar dan Berukhuwah" sungguh tagline yang diberikan oleh Arwani menjadi doa yang berkepanjangan. Betapa tidak, bahkan sampai kini saya selalu belajar dan banyak mendapatkan teman-teman dari blog.

Tanpa terasa, blog ini sudah memasuki usia sepuluh tahun. Tulisan tertanggal 30 Agustus 2007 adalah hasil sematan dari Arwani. Pun beberapa tulisan selanjutnya. Baru pada tulisan ke empat saya bisa menuliskan sendiri. Dulu, saya belajar via online melalui obrolan di YM. Saya sampai menangis, menyerah saat Arwani mengintruksikan beberapa hal. Bayangkan, Arwani meminta saya log in menuju ke dashboard, tapi saya tidak tahu log in di mana dan dashboard itu apa. Ini beneran bikin saya mewek dan hampir nyerah. Sampai kemudian ketika saya bertemu muara masalahnya saat itu betul-betul membuat tertawa.

Dimulailah saya belajar di dunia maya. Bertemu dengan macam-macam orang. Awalnya, saya sempat minder dengan profesi saya sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT). Gimana nggak minder kalau teman-teman yang saya temui di blog itu profesinya macam-macam. Ada karyawan, notaris, PNS, guru, mahasiswa dan sebagainya. Tapi, sedikit demi sedikit perasaan malu saya terkikis. Apalagi ketika saya mulai mengenal blog di Multiply, Blogdetik juga Kompasiana. Pertemanan saya semakin luas dan beragam. Inilah yang saya bilang tagline dari Arwani menjadi doa yang berkepanjangan. Meski beberapa tahun lalu, akhirnya tagline itu saya turunkan dan saya ubah menjadi "Karena Hanya Tulisan yang Bisa Saya Tinggalkan"

Menjadi salah satu panel di Sepetang Bersama Blogger (SBB) 2015 di Putrajaya


Bagaimana dulu saya mengatur ritme ngeblog dengan dunia kerja? Jika boleh dibilang, sesungguhnya baik-baik saja karena majikan saya memberikan kebebasan. Tapi, bukan berarti saya tak pernah membuat kesalahan. Karena, pernah sekali terjadi saya mengabaikan kerja demi nongkrong di warnet padahal di rumah majikan akan ada acara :(. Alhamdulillah, sejak saya membeli laptop sendiri dan di rumah majikan ada wifi, ritme ngeblog  saya menjadi teratur. Saya bisa online kapan saja, seusai menyelesaikan kerja.

Sering ikut jalan-jalan sama Tourism Selangor diundang oleh Gaya Travel


Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan majikan yang baik. Yang bisa memberikan kebebasan kepada saya untuk tetap belajar banyak hal. Dulu, beberapa teman saya tak percaya jika gaji saya selama bekerja di Malaysia adalah RM. 500. Saya bilang ke mereka, rezeki itu tak hanya nominal berbentuk uang, tapi juga bisa berbentuk kebaikan. Salah satunya adalah kebaikan majikan saya. Karena kebaikannya, saya bisa mengenal blog, mengenal banyak teman. Dan, rezeki terbesar saya dari blog adalah teman yang banyak. Karena dari teman yang banyak itulah menjadi perantara rezeki-rezeki saya yang lainnya. Ada pun segala prestasi yang didapat dari ngeblog, bagi saya adalah bonus dari apa yang saya lakukan dan tak pernah diidam-idamkan sebelumnya.

Sharing tentang dunia blog bersama teman-teman TKI (tahun 2015)


Puji syukur hanya kepada Allah.

Teruntuk Ibu majikan saya, alfatihah. Semoga ibu mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Alhamdulillah, sampai sekarang saya masih berhubungan baik dengan keluarga majikan. Setiap kali ke Malaysia, saya berusaha singgah. Untuk Hanani, terima kasih banyak karena telah membuatkan akun anazkia. Juga untuk Arwani, terima kasih juga karena telah membuatkan blog ini dan doa tak berkesudahannya melalui tagline "Belajar dan Berukhuwah"

Andai sepuluh tahun lalu saya nggak ngeblog, tapi sungguh saya tidak  mau berandai-andai :)


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke-6 tahun Warung Blogger

Kopdar bersama Kompasianer (2012)

Tagline blog lama

Bersama dengan teman-teman Multiply


3 April lalu, saya menuliskan tentang Jeni, seorang teman kuli kardus dari Satu Juta Buku untuk Indonesia (Sajubu). Kuli kardus? Maksudnya apa, sih? Di antara teman-teman pegiat literasi, kami acap menyebut diri kuli kardus. Orang-orang yang sering bersentuhan dengan kardus saat mengemas buku. Baik ketika sortir mau pun packing. Lalu besoknya, tanggal 4 April melihat kenangan di facebook rupanya dua tahun sebelumnya saya pernah menuliskan tentang Diaz, yang notabene sama-sama kuli kardus dari Sajubu. Hahahaha... Selang dua tahun, saya menuliskan dua orang dari komunitas yang sama.

Kenapa, sih, saya suka iseng menuliskan teman-teman? Apakah saya akan menuliskan tentang semua teman-teman saya? Saya suka memerhatikan tindak tanduk teman-teman yang kerap saya temui. Dari cerita mereka, melihat cara mereka saya selalu berusaha untuk selalu belajar. Dari hal baiknya, pun ketika ada yang buruknya. Di antara lingkaran pegiat literasi, saya banyak belajar dari mereka. Saya orang yang tersesat di dunia antah berantah ini dengan nol pengalaman sedikit-sedikit jadi tahu. Dengan melihat mereka sortir buku, input data dan sebagainya.

Kawan-kawan Sajubu ini menarik. Mereka, sudah mengirim lebih dari 30 ribu buku ke hampir 800 jejaring yang terdaftar di sisfo sajubu di seluruh Indonesia. Ini data tahun lalu, belum ditambah tahun ini di mana mereka menerima sumbangan buku hampir lima ton dari Australia. Ya, lima ton. Jangan bayangkan buku itu sebanyak mana. Terima kasih kepada kalian yang acap mengajari jalan senyap. Barangkali, setelah ini nanti saya bisa menuliskan tentang Nopi. Karena setidaknya, azam saya sebelum mati itu menuliskan tentang orang-orang terdekat hehehehehe...

Nah, dua tulisan ini saya copy paste dari instagram tanpa edit. Tentang Jeni dan Diaz.

Jeni Fajarnisfi, ditulis pada 3 April 2017

Ikutan narsis :D


Saya tak akan lupa, ketika seorang kawan karib berujar di depan saya demi menceramahi saya yang kadang nggak bisa mikir, "Dia bisa memilih berteman dengan siapa saja, tapi dia tidak bisa memilih akan ditemukan dengan siapa. Kehendak-Nya, ketika ia selalu ditemukan dengan orang-orang baik di dalam lingkarannya." Waktu itu, jam mendekati pukul dua pagi. Saya terdiam. Menyimak kalimat demi kalimat yang disampaikan kawan karib saya tersebut. 

Mengingat kalimat di atas, saya jadi ingin bercerita salah satu teman yang ditemukan dengan saya. Di sebelah saya ini namanya Jeni. Jeni Fajarnisfi. Entah benar, entah tidak. Saya pun tak pernah menanyakan nama penuhnya.


Jeni, saya kenali sebagai sesama kuli kardus. Dia, aktif di komunitas Satu Juta Buku untuk Indonesia (sajubu) bertemu Jeni, karena ia kerap terlihat bersama dengan Novita.
.

Keakraban kami menjadi tiba-tiba saat saya mulai sering menginap di kosannya seusai kegiatan Berbagi Nasi Bogor.

Ya, selain aktif sebagai kuli kardus, Jeni pun aktif di Bernas Bogor. Jeni, bukanlah orang yang mudah akrab dengan teman baru. Hati-hati ketika bicara, dan tertutup di cerita lainnya. 
.
Alumni Sekolah Menengah Atas Kimia Bogor (SMAKBO) ini tah hanya piawai memegang bahan-bahan kimia. Selain cepat ketika mengemas kardus, teliti dalam menghitung uang, ia juga pandai memasak dan membuat kue. Satu hal yang saya tak tahu dari Jeni sebelumnya.

Pun tak lama saya baru tahu, jika selain bekerja sebagai karyawan, Jeni juga mempunyai usaha sendiri. Saya, seperti orang yang baru mengenalnya.
Mengenali Jeni, adalah mengenal seorang yang bekerja untuk komunitas dengan dasar ketulusan. Di saat lelah, tak ada kesah. Ia tak menyukai segala kesulitan untuk sebuah keperluan.


"Kalau mau bantu, kenapa harus pakai proposal, sih?" Protesnya suatu hari. Yang kemudian saya tertawakan. Saya bilang, tak semua orang berprinsip sama dengan Jeni, yang acap memudahkan segala urusan.


Lalu betulah kalimat kawan karib saya tersebut. Saya bisa memilih berteman dengan siapa, tapi saya tak bisa memilih ditemukan dengan siapa.
.

Terima kasih, Pemilik bumi Penggenggam matahari yang selalu menemukan saya dengan orang-orang tak sederhana.

Diaz Kiral, tulisan ini diunggah pada 4 April 2015

Diaz


"Nama saya Diaz, saya adik angkat Kanaz. Tapi nggak tahu, Kanaz mau ngakuin atau enggak,"

Prolog Diaz ketika di Cirebon Sabtu lalu saat mengenalkan dirinya pada sesi Ngobrol Bareng Komunitas.

Diaz...

Saya bertemu dengannya akhir tahun 2013 lalu di Perpustakaan Museum Bank Mandiri. Saat itu kami sama-sama mengemas buku yang menggunung, kami tak banyak berbincang karena tak begitu kenal.

Beberapa kali kemudian, saya acap bertemu dengannya di Perpus MBM. Satu hal yang saya suka dari dia pertama kali adalah saat melihat dia makan. Dia, pekerja keras dan ringan tangan.

Berbulan kemudian saya tak lagi bertemu dengannya. Hingga suatu hari, di sebuah acara Ayo Bantu Sekolah di sebuah mall di daerah Jakarta Barat, ada seorang anak perempuan berjilbab mendekati saya yang sedang bt karena kesalahan banner.

"Kanaz, Kanaz. Kamu pasti lupa sama saya."

Saya melihatnya sekilas. Tersenyum. Kemudian mengingat-ingat siapa dia. Malangnya, otak celeron saya terlalu lemot untuk mengingat dia.

"Sebentar-sebentar. Kanaz buka group, Kanaz lupa namanya," sekrollah saya pada sebuah group di whatsapp.

"Ah, Kanaz mah pasti sudah lupa sama saya."

"Diaz. Kanaz inget! Diaz, kan?"

Kemudian kami sama-sama tertawa. Dan Diaz, tentunya lebih banyak mentertawakan saya terbahak-bahak saat tahu banner saya salah.

"Eh, Kanaz, kamu mau jadi Kakak aku, gak? Aku, kan, anak pertama. Aku pengen punya kakak perempuan...." Dan bla... Bla...

Saya nyengir melihat Diaz ngoceh.

Waktu berlalu. Kemudian saya semakin mengenalnya. Mengenal Diaz yang acap jungkir balik mengemas buku, memilah, memilih dan sebagainya. Termasuk ketika dia membuat kue, menjualnya dan keuntungannya untuk biaya pengiriman buku.

Bertemu dengan Diaz, saya acap dibuat tertawa 24 milyar watt. Meski tak jarang Diaz kena marah juga. Tapi saya percaya, Diaz memiliki kelapangan hati yang luas. Dan saya akan selalu ingat ketika melihat dia makan di warteg selepas mengemas buku.

Diaz Setia Wahyuni
Mahasiswi Universitas Pancasila, semester 3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Alumni Lulusan Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor (SMAKBo). Katanya belajar kimia dari muka cakep, ampe muka jelek kayak sekarang





Dokumentasi milik 123

Tak banyak yang saya tahu mengenai seluk beluk mobil. Baik penggunaan, perawatan, harga juga jual belinya. Apatah lagi mengenai mobil bekas. Jumat, 31 Maret lalu bertempat di restoran The Hook, Kebayoran baru saya menyimak talkshow yang diadakan oleh mobil 123, sebuah portal otomotif nomor 1. Menyimak obrolan demi obrolan yang disampaikan oleh dua narasumber dari ahlinya, membuat saya sedikit lebih mengerti mengenai seluk beluk kendaraan ini. Pun yang dibahasnya, mengenai mobil bekas.

Pukul 13.30, suasana restoran The Hook sudah mulai ramai. Sebagian besar teman-teman blogger dan media sudah duduk sambil menikmati makan siang. Bahkan, ada yang sudah menyelesaikan menikmati hidangan. Alunan musik dari band yang saya nggak tahu namanya menemani kami semua menikmati makanan yang telah disediakan. Dress code merah yang ditentukan sebelum berangkat mewarnai suasana di restoran. Lalu lalang teman-teman blogger didominasi busana warna merah beragam. Setelah hampir semuanya menikmati hidangan makan siang, pembawa acara mulai membuka acara.

Managing Editor mobil 123 Indra Wijaya sebagai moderator siang itu tampi pertama ke depan. Ia menjelaskan sekilas mengenai mobil 123. Juga mengabarkan jika sampai hari ini mobil 123 masih menjadi portal nomor 1 mengenai otomotif. Dua narasumber, Halomoan Fischer Lumbantoruan, Chief Operational Officer dari  Mobil 88 dan Hendrik Wiradjaja, Deputy Marketing Director dari PT. Hyundai Mobil Indonesia.

Halomoan Fisher Lumbantoruan menjadi narasumber pertama. Ia menjelaskan sekilas mengenai mobil 88. Mobil 88. Mobil 88 didirikan pada tahun 1988 di bawah naungan PT. Arya Kharisma. Pada tahun 2000 menjadi satu bagian dengan Auto 2000 PT Astra Internasional Tbk. Sampai kemudian pada 2010 menjadi perseroan. Bertahun-tahun keberadaan mobil 88 banyak berganti manajemen. Sampai kemudian menjadi persero. Jangkauannya pun sudah ada di sembilan kota di Indonesia. Baik di wilayah Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya bahkan sampai ke Balikpapan.

Berkecimpung di dunia jual beli mobil sejak lama, Halomoan mengisahkan untung rugi membeli mobil bekas. Meski terkadang mobil bekas transaksinya lebih mudah, harganya bisa lebih murah, tapi sebagai pembeli harus lebih berhati-hati. Beberapa kerugian yang diperoleh pembeli salah satunya adalah mobil disita oleh pihak kepolisian. Mengapa ini bisa terjadi? Ada banyak sebab tentu saja, ketika pembeli tak jeli bisa saja ia membeli mobil hasil curian. Atau mobil yang bermasalah. Untuk itulah, Halomoan wanti-wanti untuk lebih berhati-hati ketika membeli mobil bekas. Menurutnya, membeli mobil kepada orang-orang terdekat bisa lebih dipercaya.

Faktor penyebab risiko kerugian antara lain menurutnya adalah, dokumen atau status hukum kendaraan yang dibeli. Kesesuaian fisik dan dokumen di mana tidak ada perubahan pada dokumen dan kendaraan. Kendaraan bekas tabrakan, terkena banjir mau pun odometer putaran.

Sementara Hendrik Wiradjaja Deputy Marketing Director dari PT. Hyundai Mobil Indonesia. Jika bersama mobil 88 lebih banyak dipaparkan mengenai penjualan mobil bekas, maka bersama dengan Hyundai ini Hendrik Wiradjaja menyampaikan tentang keunggulan jual beli mobil yang baru.



Talkshow selama hampir dua jam ini tak terasa. Interaksi antara narasumber dan audiens yang hadir terjalin dengan baik. Keramahan pembawa acara juga kepiawaian moderator . Waktu dua jam berjalan dengan sangat cepat. Talkshow diakhiri dengan foto bersama. Seperti biasa, khas pertemuan-pertemuan blogger. Eh, sebenarnya bukan hanya pertemuan blogger saja, tapi lebih di era kekinian hehehehe. Terima kasih mobil 123, saya jadi sedikit tahu seluk belum penjualan mobil bekas ^_^


Keramaian teman-teman blogger yang hadir


Eat Travel Write (ETW) Selangor International Culinary Adventure 4.0. ETW merupakan kegiatan promosi wisata Selangor yang dikemas oleh Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) bekerja sama dengan Kementerian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia, Tourism Malaysia, dan Gaya Travel Magazine.

18 Agustus 2016 tepat sehari seusai perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke 71 saya sudah kembali terdampar di Selangor, Malaysia. Ini kali kedua saya mengikuti event Eat Travel Write 4.0. Sebelumnya, di bulan April 2016 saya pun pernah mengikutinya. Serangkaian kegiatan dari tanggal 18 sampai tanggal 21 Agustus 2016 sudah dikirim panitia jauh-jauh hari.  Saya sudah mulai hapal ritme perjalanan bersama dengan Gaya Travel. Bukan hanya ETW, tapi juga beberapa acara lainnya. Beruntung rasanya bisa berkali-kali mengikuti acara Gaya Travel.

Tercantum di jadwal, pagi hari setelah berkumpul di Matic Ampang kami akan menuju pabrik teh BOH di kampung Sri Cheeding.  Dilanjut berkunjung ke Jugra dengan mendatangi beberapa tempat wisata seperti  berkunjung ke makam Sultan Abdul Samad, ke Anjung Tinjau Jugra Hill, museum, Istana Bandar untuk makan siang, mengunjungi salah satu pabrik keripik dan berakhir dengan chek in di Morib Hotel.

Pabrik teh BOH

Tak meleset jauh dari jadwal yang sudah ditentukan oleh panitia, lewat sedikit dari jam 10.00 kami sudah tiba di kilang (pabrik) teh BOH. Sebelum memasuki pabrik, kami diminta mengenakan tutup kepala sebagai standar pabrik. Tan Chong Wee, manager pengepakan Tea Plantations Sdn Bhd menjelaskan berbagai macam jenis teh BOH. Bagi penggemar teh tarik di Malaysia, tentunya tak asing dengan serbuk teh yang digunakan. Karena acap di kedai-kedai mamak pinggir jalan yang digunakan adalah teh BOH. Pun ketika dulu saya masih bekerja di Malaysia, di rumah majikan saya selalu menggunakan serbuk teh BOH saat hendak membuat teh tarik.

Tetap mengikuti standar pabrik, mengenakan tutup kepala

Serius mendengarkan Tan Chong Wee



Menurut Tan Chong Wee, 10% teh yang mereka produksi diekspor ke Arab, Brunei, Denmark, Jepang, Jerman, Taiwan, Singapura dan Thailand sedang untuk Amerika, teh BOH dipasarkan secara online. Kami diajak melihat satu demi satu proses pengepakan teh BOH. Juga diperlihatkan perbedaan-perbedaan teh BOH serbuk baik yang celup mau pun yang serbuk dalam kemasan. Puas mengelilingi dan melihat proses pengepakan teh, kami beranjak meninggalkan ruangan. Di depan pabrik, beberapa sajian sudah terhidang. Berderet-deret jenis minuman dari teh boh sudah tersedia. Tak hanya itu, pau cendawan pun ada serta. Inilah yang paling berat buat saya. Selama mengikuti ETW, akan dihidangkan berbagai macam makanan yang terkadang perut saya sudah tak sanggup lagi untuk menyantapnya.

Menikmati minuman BOH

Pau cendawan

Kebun teh Sri Cheeding dibuka pada tahun 1927 dengan luas 210 hektar. Kebun ini sepenuhnya dikelola oleh BOH Plantations.

Dari pabrik teh BOH, bus bergerak menuju makam Almarhum Sultan Abdul Samad. Sepertinya, untuk ini saya akan tulis dalam catatan lain ^_^ karena menarik dari sisi sejarahnya.
Tulisan mengenai ini menyusul di blog lainnya

Dari makam Almarhum Sultan Abdul Samad, bus langsung bergerak menuju Tinjau Jugra Hills. Anjung Tinjau Jugra Hill ini merupakan dataran tinggi. Di sini biasanya digunakan untuk paragliding. Dari atas ketinggian ini, kami dapat melihat Selat Malaka dan Pulau Carey. Aliran sungai Langat juga bisa kita nikmati dari ketinggian ini. Sungai yang mengalir jauh sampai ke Selat Malaka. Teduh dan tenang begitu terasa di sini. Bahayanya, ketika ditambah angin sepoi, karena kantuk akan segera bertandang :D.

Anjung Tinjau Jugra


Lelah berkeliling, waktu makan siang pun segera tiba. Bus berjalan merayap menuju istana bandar. Di sini kami dihidangkan makan siang khas ala melayu. Meski udara panas menguar, kami menikmati makan siang dengan lahapnya. Setelah itu, baru berkeliling di Istana Aleddin. Kusam dan tak terawat sangat terlihat di Istana Aleddin yang dibangun pada tahun 1905 ini.

Dari Istana Aleddin, bus kembali membawa kami bergerak menuju Kampung Sungai Lang, melihat salah satu pabrik Ros Krepek yang dikenali di wilayah tersebut. Barulah petangnya kami beranjak menuju Morib Hotel untuk Chek in. Setelah chek in, kami diberi waktu istirahat sampai maghrib. Setelah itu, kami kembali berkumpul di lobi hotel untuk mencari makan malam.  

Salah satu sudut istana Aleddin


Dalam setiap pergantian zaman, selalu ada pahlawan-pahlawan kemaslahatan. Yang berjuang untuk orang lain, tanpa dikenali, tanpa diketahui. Maka saya menganggap mereka, orang-orang yang berhempas pulas di sini, membangun Mass Rapid Transit (MRT) adalah salah satu pahlawan. Rasanya, beruntung ketika hari Kamis lalu, saya bisa ikut berkunjung melihat pembangunan MRT di Jakarta. Pembangunan yang bagi saya adalah bagian dari sejarah.

Jakarta, ibu kota yang penuh dengan segala kepadatan ini memulai pembangunan MRT di tahun 2013. Pembangunan yang amat sangat lambat menurut saya karena Jakarta sudah begitu padat, bangunan sudah begitu banyak. Tapi, tak mengapa. Tak ada yang terlambat untuk sebuah kebaikan. 

Atasnya

Lalu ini di bawahnya


Bersama Mas Akbar, kami diajak masuk ke “perut” Jakarta. Siapa menyangka, di antara hiruk-pikuk kemacetan jalan, di bawahnya sedalam 20-25 meter pembangunan dan gorong-gorong terbentang dari Lebak Bulus sampai Bundaran-HI. Yang kami datangi minggu lalu adalah salah satu stasiun yang kelak berada di Setiabudi. Dari Mas Akbar juga, ia banyak menjelaskan seluk-beluk pembangunan MRT ini. Saya, sebagai pengguna commuterline antusias sekali mendengarkan ini.

Di jam-jam kerja padat pagi dan petang, Commuterline yang selama ini menjadi transportasi warga Jabodetabek lalu lintasnya setiap 7 menit sekali. Kenapa tidak 5 menit sekali? Kata Bang Eja, orang yang kerja di KAI kalau commuterline lalu lalangnya setiap 5 menit sekali, beberapa ruas jalan di Jakarta bakalan mati nggak bergerak. Macet total. Wajar jika itu terjadi di tengah kesesakan kota.

Mass Rapid Transit (MRT) yang dibangun di bawah kedalaman 20 meter perut Jakarta ini kelak akan berlalu lalang setiap lima menit sekali. Dengan ketersediaan 16 kereta (dioperasikan 14 kereta 2 sisanya adalah cadangan), masing-masing kereta berisi 6 gerbong diharapkan mampu mengurai kemacetan Jakarta. 
Wacana dan keinginan MRT tentunya sangat muluk. Menjadikan transportasi yang lebih manusiawi. Dalam standar normal jumlah penumpang, setiap kereta bisa diisi 200 orang dengan kondisi nyaman. Berarti, tiap gerbong berisi sekitar 30-40 orang. Nyaman di sini, tidak berdesakkan, masih bisa bergerak dan bisa berdiri sambil baca buku. Meski mungkin, akan lebih banyak yang memegang android. Yah nggak masalah, sih. Kan sudah peralihan ke zaman digital :D

Muluk-muluk? Pastinya iya. Tapi, belajar dari commuterline yang sungguh tak manusiawi di jam-jam padat, rasanya wacana MRT sungguh diimpi bagi pengguna transportasi umum Jakarta. Saya juga baru tahu, jika nanti akan dibangun juga Light Rail Transit (LRT). Nantinya, ini juga akan terintegrasi dengan MRT di stasiun Dukuh Atas. Ah! Saya merasa begitu senang. Meski, di tahun-tahun yang akan datang saya sudah tak lagi menjadi penghuni Jakarta. Tapi rasanya, begitu bahagia. Saya jadi terbayang beberapa transportasi umum yang ada di Malaysia yang satu dengan lainnya saling terintegrasi, Commuterline, monorail juga LRT.

Jakarta kelak, berharap transportasinya akan semakin bagus. Meski saya tak yakin kemacetan di jalan raya akan terurai. Karena bukan tidak mungkin, orang-orang yang memiliki kendaraan dua tahun ke depan ini semakin banyak.

MRT, direncanakan akan beroperasi pada awal Maret 2019. Semoga dapat terlaksana dengan baik ^_^


Foto-foto lainnya bisa dilihat di sini 
Target bulan Maret ini baru dibaca 9 buku

Semua berawal dari tulisan-tulisannya Pak Dian Basuki di Indonesia. Salah satu user aktif yang merupakan eks wartawan senior Tempo ini kerap sekali menuliskan mengenai pentingnya membaca buku. Di awal tahun, beliau beberapa kali menulis tentang berapa banyak buku yang dibaca tahun lalu, juga ajakan untuk lebih banyak membaca di tahun ini. Membacanya, saya jadi ikut tertantang. Meski sejak tiga bulan akhir tahun lalu saya mulai aktif membaca, tapi intensitasnya tidak begitu kerap. Tak sesering ketika masih remaja dulu. Tentunya, saya tak mau menyalahkan faktor U telah memengaruhi saya. Ini lebih ke kemalasan saya saja.

Tahun ini, Bacalah Lebih Banyak Buku betul-betul menjadi pelecut saya. Bulan lalu, sedikit demi sedikit saya mulai membaca dengan baik. Mengisi waktu-waktu luang saya di sela-sela kerjaan kantor dengan membaca buku. Hasilnya, alhamdulillah meski tidak begitu banyak buku yang dibaca, bulan Februari saya berhasil menghabiskan lima buku bacaan. Sayangnya, bulan Januari adalah kesuraman. Saya hanya menyelesaikan satu buku. Alasannya, selama dua minggu di Bima saya tak banyak membawa buku. Satu buku mengenai Oprah yang saya bawa tak berhasil saya selesaikan. Buku terjemahan yang sangat payah saya rasa. Membacanya jadi enggan. Jadi, bulan Januari saya hanya membaca Wiji Thukul.

Bacaan Februari


Jika semangat membaca saya perolehi dari Pak Dian Basuki, lalu menuliskannya saya dapatkan dari Pak Handoko Widagdo. Melalui tulisan-tulisan beliau, saya mulai belajar mereview buku yang sudah saya baca. Belum sepenuhnya sempurna memang, tapi sedikit demi sedikit saya mulai belajar. Saya baru sebatas menuliskannya sedikit di instagram. Akhir-akhir ini, saya memang begitu malas membuka dashboard blog. Jadi, pelampiasannya adalah instagram. Merasa begitu malas dan tak ada kalimat saat menghadap komputer di kantor atau laptop di rumah. Saya merasa jengah setiap hari menghadapi dan membaca tulisan di Indonesiana. Tapi, sepertinya ini hanya alasan saja :(

Kembali mengenai buku, bulan Maret ini saya menantang diri sendiri untuk lebih banyak membaca buku. Berawal dari masa rehat saya selama satu minggu full di rumah, tak banyak aktivitas yang saya lakukan selain pekerjaan. Lalu, saya mulai melirik buku-buku yang belum dibaca. Tak sampai satu minggu menghabiskan tiga buku adalah prestasi. Itu masih awal bulan, saya merasa menang melawan diri. Jadi, setelah itu beruntun lebih banyak yang dibaca. Sampai akhirnya saya membuat tantangan untuk diri sendiri bahwa bulan ini saya mengharuskan diri sendiri membaca 12 buku. Dem! Setelah posting di instagram, saya nggak yakin dengan tantangan diri sendiri. Hahahahaha... Meski hadiahnya membeli buku, saya nggak ngoyo menghabiskan 12 buku. Eh, tapi beruntungnya, gara-gara postingan tersebut Mbak Winda menawari saya untuk memboyong buku-buku di rumahnya semaunya saya. Wogh!!! Saya jadi semangat empat limaaaaa... Saya batal menghadiahi beli buku untuk sendiri, tapi saya bakalan menghadiahi buku gratisan dari Mbak Winda! Hahahahaha....

Semangat membaca! ^_^


Dulu, pertama pakai handphone pas sudah lulus SMA. Itu pun bukan handphone sendiri, hanya diperbolehkan pakai. Waktu itu masih menggunakan handphone sejuta umat. Nggak ada kamera, tapi sudah senang banget rasanya. Terus, pas ke Malaysia saya dibekali handphone oleh Kakak saya. Lagi-lagi, bukan handphone sendiri ahahahaha. Sampai kemudian, handphonenya rusak begitu saja. Tahun 2009 alhamdulillah bisa membeli handphone sendiri. Masih menggunakan handphone sejuta umat dengan kamera yang entah berapa mega pixel karena saya tidak pernah menggunakannya.

Pulang ke Indonesia pada tahun 2012, saya baru melihat bahwa begitu bermacam-macamnya orang menggunakan handphone. Eyaaaa... Ketahuan selama di Malaysia ngerem di rumah saja :D. Smartphone, begitu khalayak menyebutnya. Handphone pintar yang bertebaran saat itu belum begitu ramai seperti sekarang. Teman-teman di Indonesia pun pada nggak percaya kalau saya masih pakai handphone jadul :D.
Saya menggunakkan smartphone tergolong masih belum begitu lama. Belum genap lima tahun. Itu pun bermula dari pemberian seorang kawan. Baik sekali bukan teman saya ini? ^_^

Satu hal yang saya sukai dengan smartphne setelah memegangnya ini adalah fasilitas kamera. Ya! Kamera. Karena saya merupakan makhluk yang menyukai dunia fotografi meski amat sangat amatiran sekali. Sebelumnya, saya selalu menggunakkan DSLR untuk memotret. Tapi, setelah memegang smartphone saya seperti “memuseumkan” kamera DSLR. Duh....

Sederhana, sih, masa peralihan dan meninggalkan DSLR ini. Dengan mengunakan kamera handphone, memotret lebih mudah dan yang paling penting seklai lebih mudah lagi mengunggahnya di media sosial. Hahahaha... Apalagi, sejak aktif menggunakan instagram. Rasanya, seperti etalase pajang foto di media sosial kini.

Dengan latar belakang menyukai dunia fotografi, ketika membeli handphone salah satu pertimbangan saya adalah kamera yang ada di dalamnya. Mega pixel masih dijadikan tolok ukur, meski saya masih melihat MP yang di belakang, bukan MP kamera depan. Soalnya, saya jarang sekali selfie :D wehehehe... Mau selfie kalau pas barengan sama teman-teman saja ^_^

Nah, hari Jumat lalu, saya berkesempatan menghadiri launching handphone Vivo5Plus di The Ritz Carlton. Bersama dengan teman-teman dari detik.com, kami diajak mencoba dan explore lebih jauh kamera terbaru Vivo. Acara yang dimulai jam 09.00 ini menghadirkan media, blogger juga para Vivo Fans yang datang dari berbagai kota. Sepertinya, Vivo begitu menjaga sekali para user experiencenya. Para Vivo Fans didatangkan dari luar kota, bahkan luar pulau Jawa. Lalu, apa kelebihan Vivo dibanding smartphone-smartphone lainnya?

Vivo5Plus, hadir dengan dual kamera depan. Yang menarik, mega pixel kamera depan adalah 20. Ya, 20 MP. Konon, ini yang terbaru dan satu-satunya di dunia. Dual kamera depan Vivo5Plus satu lagi sebesar 8 MP. Didesain dengan dual kamera untuk membedakan hasil foto. Dengan menggunakkan kamera 20 MP, bisa menghasilkan foto yang lebih bokeh. Menurut edi Kusuma, Brand Manajer dari Vivo, Vivo didesain dengan kebutuhan kekinian pengguna smartphone. Di mana kini banyak orang yang begitu gemar selfie dan groupie kemudian diunggah di media sosial.

Waini jerawat sampai bekas-bekasnya kelihatan semua :D hahahahaha


Sementara menurut Product Manager Vivo Indonesia Kenny Chandra, dengan sensor 20 MP diharapkan kualitas gambar akan semakin baik. Lalu, berapa MP kamera belakangnya? Kamera belakang VivoPlus lebih kecil berbanding kamera depannya, yaitu 16 MP. Ini, tentu saja lebih besar pixelnya dibanding kamera SLR saya. Upgrade eui, upgradeee :D


Lalu, bagaimana spesifikasi yang lain dari kamera Vivo? Memori internal 64 GB, 4 GB RAM. Batreai, 3160 mAH, bisalah ya ini buat 24 jam? ^_^ Dan masih banyak fitur-fitur baru yang nggak kalah menariknya di Vivo5Plus ini. Tagline Perfect Selfie, sepertinya memenuhi dual kamera 20 MP di Vivo5Plus ini. Selamat buat Vivo atas produk barunya. Owh ya, bandrol yang dijual di pasaran adalah Rp. 5.499.000. Dan dua brand ambasador terbaru Vivo Afghan dan Pevita Pearce.

Senengnya bisa ketemu teman-teman :)

Ini ada yang udah lama banget nggak ketemu (Koleksi foto milik Mbak Elisa)

Ketemu sama Om Cumi ^_^