Slide 1 Slide 2 Slide 3 Slide 4 Slide 5
Diposting oleh Anazkia Aja | 19 komentar

Berbagi Bahagia Itu Sederhana

Piknik (dokumentasi Karia)


Berbagi bahagia itu sederhana. Sesederhana ketika kita mencuci baju, dijemur, kemudian kering hari itu juga. Berbagi kebahagiaan itu sederhana, sesederhana saat kita memberikan senyuman dengan orang yang tidak kita kenali. Bahagia itu sederhana, sesederhana tatkala mendapat minuman di saat kita haus. Dan bahagia adalah ketika nama-nama kita ada dalam doa teman kita. Aih, kalau mau nulis bahagia tentunya akan berderet kata tentang artinya. Tentunya, setiap orang memiliki makna yang berbeda dengan bahagia. Karena bahagia itu ada di dalam diri kita, bukan dimana-mana.

Teringat perbincangan beberapa hari lalu di whatsapp dengan beberapa teman.

"Babehhh... Anaz masuk finalis Kartini Next Generation Award :D." saya mengabari Babeh Helmi ketika pertama kali mengetahui kalau ada nama saya dalam pengumuman Kartini Next Generation Award (KNGA) 2015. Saya dimention oleh beberapa teman-teman di facebook, kalau ada nama saya di salah satu 21 deretan nama finalis.

Setelah facebook saya ramai oleh notifikasi yang mengucapkan selamat, di group whatsapp pun salah seorang teman, Kak Yulia share gambar dari facebook. Padahal, saya sengaja diem-diem nggak share. Mulailah di group ramai-ramai mengucapkan selamat. Sementara saya masih manyun.



"Ah, ini kabar buruk. Saya sudah berdoa jauh-jauh hari supaya nggak lolos."

"Tapi kita berdoa semua untuk Kanaz," Kaindri menjawab kegalauan saya. "Doanya Kanaz kalah sama doa kita semua." Karia pula menimpali. Kemudian jleb! saya seperti terhempas, hati saya meleleh membaca chat teman-teman di group. Saya ingat, ketika mendaftar KNGA ini tidak up date di group. Hanya Karia saja yang saya beri tahu. Itu pun setelah saya bertemu dengan Mbak Haya, beliau menjelaskan panjang lebar a-z kalau saya ikut mendaftar. Karena dorongan Mbak Haya juga saya mau mendaftar KNGA 2015. Ini adalah bentuk bahagia bersama sahabat. Dikelilingi sahabat yang selalu mendukung dan acap mendoakan.



"Nah! gara-gara doa-doa Mas Naim waktu itu, saya masuk finalis KNGA." saya menyapa Mas Naim di whatsapp."

"Alhamdulilah...! Selamat, Mbak. Terus bergerak." Mas Naim menyemangati saya. Kalau mengingat ke belakang, tentang banyaknya inspirasi kebahagiaan yang tiba-tiba datang kepada saya itu tak bisa terlepas dari sebuah obrolan absurd tengah malam buta dengan Mas Naim. Ia memberikan ceramah gratis berbaris-baris, ia yang mengharapkan saya bisa muncul di media baik cetak maupun televisi dan ia juga yang paling semangat empat lima. Hingga tepat sebulan kemudian, ceramah gratis berbaris-barisnya menjadi serupa doa yang ia lesatkan ke langit bersusun-susun (heh, saya mulai lebay) tapi beneran, sebulan kemudian tepatnya 5 November 2014 saya masuk Kompas tv, berlanjut saya beruntung menjadi salah satu bagian dari 12 Perempuan Inspiratif Nova (PIN 2014) dan kemudian saya juga masuk media cetak. Bukan sekali, tapi berkali-kali di beberapa media.

Dan akhirnya, saya mengucap alhamdulilah sudah masuk finalis KNGA 2015. Semua harus disyukuri. Ingat kata Mbak Winda, kalau baik kata Allah, maka akan dimudahkan jalannya. "Lagian kan itu sudah perjalanan hidup kamu punya prestasi. Dan kamu dapetin semua itu bukan karena ada orang lain di luar sana yang ngasih kesempatan sama kamu. Tapi karena kamu emang layak." kemudian saya langsung nyanyi yel-yel antah berantah membaca pesannya Mak Gahul heboh itu.

"Kanaz tuh mungkin orang yang selalu ngerasa kekurangan ketika membantu orang lain. Selalu merasa merepotkan lebih ketika minta bantuan ke orang lain." Nopy menyemangati saya.

Ah, sejatinya manusia (saya) tak pernah bisa berbuat baik untuk orang lain. Segala hal baik yang kita lakukan untuk orang lain itu lebih kepada kebaikan yang tertunda untuk diri sendiri. Saya jadi ingat perjalanan November tahun lalu ketika ke Tumpakdoro-Kediri dalam rangka Hari Blogger Nasional bekerja sama dengan Taman Baca Mahanani. Waktu itu, saya pengangguran tegar. Manusia tanpa pekerjaan juga tanpa penghasilan. Belajar freelance, tapi rupanya saya belum bisa konsisten. Walhal, saya seperti menjadi manusia yang tak berguna. Tapi nekatnya, saya berniat membuat acara (duh)

Kalau dah gini, lahirlah bahagia hati ahahaha....


Detik-detik menjelang keberangkatan ke Kediri, saya pm Karia. Menanyakan kepadanya, apa jadinya kalau saya tak turut serta? Saya menanyakan hal tersebut dengan berat hati tentu saja. Bagaimana tidak, sayalah yang merencanakan kegiatan, menyusun kegiatan juga anggaran dan lain-lain.  Karia menanyakan alasan apa kenapa saya tak turut serta.

"Saya nggak punya uang, Kak." waktu itu uang saya tinggal sepuluh ribu dan saya lupa meletakannya di mana :D

Mengalirlah segala kalimat Karia dengan tulusnya. Terlerailah masalah saya yang berniat gagal berangkat. "Pake uangku, Kak. Kayak udah nggak ada teman aja Kanaz ini."

Sementara, ketika saya mengalami kesulitan uang sahabat saya Chipto pm di whatsapp, "Mbak, boleh minta tolong?"

"Apaan?"

"Aku lagi nggak punya uang. Hahaha... Transfer kereta buat Kiki :D"

"Mbak uangnya tinggal 10.000 doang. Ke Kediri ini diongkosin Karia."

"Hahaha.. oke, deh."

Betapa, bahagianya. Punya banyak teman, betapa senangnya #SherinaModeOn tiba di Kediri dengan selamat


Akhirnya, berangkatlah kami ke Kediri. Sebelum berangkat, saya diongkosin Kakak Rp. 100.000 menuju Jakarta. Jadi lumayanlah, nggak adalah itu sepuluh ribu banget :D. Sebetulnya, saya ada simpanan uang Rp. 80.000 di Puguh. Jadi, ceritanya Puguh salah beliin tiket waktu saya ke Majalengka bulan sebelumnya. Maka digantilah dengan uang Puguh ekekeke. Tapi dasar semuanya dijadikan cerita, ketika pulang ke Jakarta, kereta kami berbeda-beda. Karia dan beberapa teman lainnya pulang lebih dulu, sementara saya pulang jam delapan malam bersama dengan Chipto yang sama-sama nggak punya uang hahahaha. Karena buru-buru, Karia lupa memberikan uang (eh, meminjamkan tepatnya) kepada saya. Sibuklah dia berkirim pesan menanyakan bagaimana dengan saya nanti pulangnya. Saya menenangkan Karia, bilang kalau uang saya cukup (berharap yang di Puguh) dan akhirnya, Karia reda membombardir saya dengan segala soalan uang. Tak hanya Karia, Baha pun sibuk menanyakan hal yang sama mengkhawatirkan saya. Lagi-lagi, saya bilang kalau uang saya cukup.

Stasiun Senen, menuju Kediri (Arie, Karia, Chipto)


Sebelum pulang ke Jakarta, kami makan sekenyang-kenyangnya di Mahanani. Seperti biasa, ketika berkunjung ke Mahanani ketika tuan rumah sibuk maka saya akan menyibukkan diri di dapur. Mencari bahan apa saja yang bisa dimasak untuk dimakan. Setelah makan kenyang-kenyang, selesai shalat isya, diantar oleh Puguh dan Agung saya dan Chipto menuju ke stasiun Kediri. Setelah sebelumnya pamitan dengan Mas Naim yang mau ngemci di acaranya sekolah Ramadani. Kami juga dibekali minuman oleh teman-teman Mahanani. Eh, iya, tiba-tiba di tas kamera saya ada sebungkus kado. Kata Chipto, itu Puguh yang memasukan kado ke dalam tas saya.

Sampai di stasiun, saya menunggu Puguh memberikan uang. Tapi rupanya sampai saya dan Chipto menuju masuk ke dalam kereta, Puguh tak memberikan apapun. Saya pun segan ingin meminta. Akhirnya, masuklah saya dan Chipto ke dalam kereta. Dalam hati mulai khawatir, gimana caranya pulang dari Jakarta ke Serang, sementara uang saya nggak cukup. Saya lupa, uang saya tinggal berapa saat itu, seingat saya tinggal dua puluh lima ekekeke....



"Eh, Chip, gimana? Mbak Ana nggak punya uang. Chipto uangnya cukup, gak?"

"Insya Allah cukup, Mbak." ia menjawab tanpa terlihat khawatir sedikitpun.

Kereta pun berjalan meninggalkan kota Kediri menuju Jakarta. Lelah badan melalui medan Kediri-Tumpakdoro yang lumayan menguras tenaga membuat saya dan Chipto tak banyak berbincang selama perjalanan. Hanya evaluasi sedikit tentang kegiatan yang sudah dilakukan. Kami tidur sepanjang jalan sampai menjelang shalat subuh. Sampai di Stasiun Senen sudah pukul sepuluh pagi. Lapar mulai merayapi perut kami yang tak terisi sejak dari Kediri.

"Makan yuk, Mbak?" Chipto berjalan mendahului saya menuju salah satu warteg yang berderet-deret di depan Stasiun Senen.

"Emang Chipto ada uang?"

"Ada, Mbak."

"Eh, nanti ongkos buat Mbak ada?"

"Ada. Insya Allah cukup."

Makanlah kami sampai kenyang. Selesai makan, Chipto mengulurkan uang kepada saya. "Ni buat Mbak Ana."

"Chipto buat ongkos ke Bogor ada?"

"Ada. Sepuluh ribu cukuplah. Nanti kan ke rumah naik motor."

Selesailah drama perjalanan kami ke Kediri dan alhamdulilah, saya sampai di rumah Serang dengan selamat. Chipto pun sampai di Bogor dengan selamat. Besok-besoknya ketika saya cerita ke Babeh Helmi, Babeh ngomel panjang lebar. Dan dimarahin habis-habisan saya hahahaha.

Bergembira ria ketika melihat ini (coba kalau saya gak jadi berangkat, bakalan nyengir kuda) :D


"Kenapa nggak minta uang ke Babeh?" Dan bla.. bla lainnya. Adalah Babeh ngomelin saya lima lembar kalau dipindah ke word :D. Tapi saya seneng-seneng aja. Meski ketika cerita ke teman, saya dianggap edan :D Bersyukur dikelilingi sahabat-sahabat yang baik

Kenapa Puguh tidak memberikan uang kepada saya? Karena Puguh mengira saya tak mau menerima uang tersebut dan uang tersebut dibelikannya kerudung buat saya. Ekekekeke.



Nah, teman-teman punya versi cerita bahagia? Yuk, berbagi bahagia bersama tabloid Nova. Ceritakan kebahagiaan teman-teman dan rebut hadiah bernilai jutaan. 



Caranya, tulis kisah bahagia teman-teman dengan kata kunci Berbagi Bahagia Bersama Tabloid Nova.com. Info lengkapnya bisa dibaca di laman microsite Kontes Berbagi Bahagia Bersama Tabloid Nova.com. Ikuti syarat-syaratnya, biar nggak ada yang lupa. Jangan lupa juga untuk like fan page tabloid nova, follow akun twitter tabloid nova dan follow google plus nova. Panjang tulisan minimal 350 kata dan boleh mengirimkan lebih dari satu artikel. Jadi, yuk, ikutan nulis berbagi kebahagiaan dan menangkan hadiahnya senilai jutaan.


baca selengkapnya...
Diposting oleh Anazkia Aja | 6 komentar

Sampah yang Jadi Berkah

Sebelumnya saya pernah mneuliskan tentang isiaga  di sini, cerita tentang kehadiran saya pada waktu launching produk isiaga.  iSiaga adalah sebuah situs solusi digital yang belum lama ini telah merilis layanan baru, namanya EcoCash. Pelayanan EcoCash memudahkan kita untuk menjual barang elektronik yang sudah tidak dipakai lagi. Saat menjual barang elektronik yang sudah tidak terpakai lagi, harganya akan beragam tergantung kerusakan. Misalnya, handhpone yang masih bisa hidup atau sudah mati total, harganya akan berubah.

Setelah melihat langsung ketika launching, minggu lalu saya mencoba membuat transaksi penjualan handhphone bekas di iSiaga. Caranya sangat mudah, klik langsung ke isiaga.com nanti di situ akan terpampang langkah-langkahnya.

Pertama, ke laman jenis produk apa saja yang bisa dijual di iSiaga. Komputer, handphone, tablet, printer, kamera, televisi, mesin cuci dan AC. Nah, sementara kemarin saya menjual tiga buah handphone jadul yang sudah lama nggak kepakai. Di situ juga nanti akan ada pilihan, apakah handphone masih bisa diaktifkan atau mati sama sekali. Tentunya, nanti akan ada perbedaan harga untuk handphone yang sudah mati total dan masih bisa dihidupkan. 

Setelah itu nanti klik submit. Barulah nanti kita diminta untuk mengisi data alamat dan nomor handphone dengan lengkap. Seperti yang saya bahas pada tulisan sebelumnya, kalau untuk pengambilan barang wilayah Jakarta dan tangerang itu gratis. Setelah mengisi dengan lengkap, barulah akan ada pilihan apakah hasil penjualan akan dimasukan ke rekening sendiri, atau masuk ke rekening Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) 

Nominal yang diberikan memang tidak banyak. Tapi ada satu kepuasan tersendiri bahwa ketika saya menganggap handphone yang sudah mati tak bisa memberikan arti apa-apa itu rupanya masih bisa diuangkan dan bisa membantu sesama kalau memang mau disumbangkan :) Setelah semua isi mengisi data selesai, saya langsung mendapatkan konfirmasi via email.

Sorenya, saya langsung ditelpon oleh iSiaga, dipastikan alamatnya dan ditanya kapan saya ada di rumah (lebih tepatnya kosan hehehe) saya bilang ke mbak (yang saya lupa namanya) kalau barang bisa diambil setelah dhuhur, karena rencananya saya akan ke Kementrian Perindustrian mengantar sponsor untuk acara tanggal 14-17 besok. Eh, tapi rupanya saya nggak jadi ke sana :D

Tunggu punya tunggu, sekitar jam satu siang saya ditelpon oleh nomor yang tidak saya kenali. Dan rupanya itu dari isiaga yang memastikan alamat kosan saya dan meminta petunjuk arah yang mudah dijangkau. Tak lama menlpon, petugas isiaga kembali menelpon kalau sudah dekat dari kosan saya. Akhirnya saya berlari-larian menuju ke depan. Ini dikarenakan kosan saya masuk ke gang-gang sempit yang tidak mungkin dilalui oleh mobil. Makanya saya nyusul ke depan hehehe...

Pertama ketemu dengan petugasnya, saya diminta menunjukan handphone yang akan dijual. Ditanya apakah lengkap atau hanya handphone saja, atau batrenya pun tidak ada. Satu persatu mulai diteliti dan petugas isiaga cekatan sekali. Ia langsung mengambil tanda terima, menuliskan banyaknya barang dan meminta saya tanda tangan. Tak lupa, setelah saya tanda tangan, saya diminta foto bersama.

"Mbak, sini minta foto dulu. Nanti mau tampilin di web kami." dan setelah saya difoto, giliran saya juga minta tolong difotoin. Kata saya kepada meraka, saya juga mau publish di blog buat dokumentasi. Wehehehehe... Alhamdulilah, akhirnya handphone bekas yang sudah tak terpakai lagi sudah terjual. Semoga bermanfaat. terima kasih, iSiaga ecocash

Memilih handphone


 Jenis-jenis sampah elektronik

 Nominal uang yang didapat, tapi harga sewaktu-waktu bisa berubah, tergantung kerusakan barang yang diterima
Itu baru estimasi pendapatan :)

Pemberitahuan kalau hasil penjualan masuk ke rekening YCAB

Foto barengggg :)

Mencatat jenis kerusakan dan kelengkapan handphone yang dijual


baca selengkapnya...
Diposting oleh Anazkia Aja | 11 komentar

Fotogeniknya Kehidupan

Selfie depan kaca pun beraninya di kamar mandi :D


“Ibu nanti tolong kirim foto kegiatan, ya. Tiga lembar pun nggak apa-apa, kirim saja via email, saya tunggu sore ini juga. Untuk edisi Sabtu ini soalnya” Saya mengiyakan permintaan di telpon dan menyanggupi akan segera mengirim foto seperti yang diminta. Foto kegiatan, sebanyak tiga lembar ke redaksi Nova. Perbincangan ini berlaku akhir bulan November tahun lalu.

Foto kegiatan. Saya bingung mencari-cari foto kegiatan. Selama ini, ketika ada kegiatan selain sebagai ketua pelaksana saya juga jadi tukang foto di lapangan, tukang dokumentasi. Huehehehe... Minta di group whatsapp, dikirimnya foto-foto aibgenic, foto-foto nggak jelas yang tidak layak tayang. Apalagi untuk tampil di tabloid. Hahahaha....

***
“Anaz, lihat sini,” suara Babeh Helmi terdengar sambil memegang kamera siap-siap membidik saya.

“Nggak mau, Beh,”

“Anaz, lihat sini,”

“Nggak mau, Beh,” saya tetap sibuk mengemas buku, menyusunnya satu-satu supaya tidak berantakan. “Anaz! Lihat sini!” suara Babeh tak lagi bersahabat, bernada ancaman. Akhirnya saya menyerah dan menoleh ke arah Babeh Helmi dengan terpaksa. Itu untuk pertama kalinya Babeh Helmi mengikuti kegiatan Blogger Hibah Buku di SDN Kepung II Kediri pada bulan Mei tahun 2014 lalu bertepatan dengan hari Buku Nasional. Itu pula perjalanan terjauh kami untuk pertama kali  untuk kegiatan Blogger Hibah Buku.

Pada akhirnya, bukan sekali dua kali Babeh ada bersama kegiatan Blogger Hibah Buku. Di SDN Pamongan II pun Babeh turut serta. Berulang, seperti kejadian di Kepung beberapa bulan sebelumnya Babeh kembali “memaksa” saya untuk difoto.

“Anaz! Sini difoto. Susah amat!”

Saya yang tadinya enggan dan ogah, akhirnya pasrah. Pun ketika kami semua esoknya berkunjung ke salah satu rumah warga yang belum lama mendirikan taman baca atas inisiatif salah satu volunteer Hibah Buku di Kediri, Babeh, lagi-lagi memaksa saya untuk rame-rame difoto berjamaah. Terakhir, adalah ketika Kompasianival. Selesai sesi foto bareng Pak Ginanjar memotong kue ulang tahun, kami foto beramai-ramai. Saat foto beramai-ramai itulah saya keluar dari rombongan. Tak pelak, Babeh kembali menghardik saya untuk kembali masuk ke dalam rombongan biar ada sayanya (bahasanya didramatisir sedikit hahahaha)

“Anaz! Kamu masuk sana difoto,”

“Ih, males, Beh. Ini Anaz motret pakai hape biar cepet” Sebenernya, entah alasan apalagi yang akan saya utarakan ke Babeh untuk hal-hal foto ini. Saya memang males :D tapi demi melihat muka dan suara Babeh yang sudah berubah, lagi-lagi saya menyerah kalah. Saya kembali masuk ke dalam barisan untuk foto bersama.

Ngomong-ngomong, kenapa saya susah sangat untuk difoto? Eh, sebenernya bukan susah, sih. Tapi lebih kepada nggak pede. Nggak pede kalau di depan kamera. Alasannya? Jawaban sederhana dan paling jujur dari saya adalah, saya merasa jelek, jadi ngerasa nggak pantes aja kalau difoto. Ini, sejak kecil saya rasakan dan sangat sulit mengubahnya. Dulu, waktu masih di Malaysia saya kerap dibilang sombong sama anak majikan saya, karena nggak mau diambil fotonya. Aduh, bukan. Bukan karena sombong, tapi lebih karena enggan ketika harus berada di depan kamera. 

Jadi kalau ada kegiatan Hibah Buku dan Babeh ada turut serta, saya itu selalu jadi objek omelable untuk urusan foto. Karena saya susah banget difoto #Sungkem sama Babeh Helmi.

Saya pun tak pernah terpikir kalau hasil foto-foto yang Babeh ambil itu akan tersebar di banyak media, baik media cetak mau pun televisi. Sampai kemudian beberapa foto yang diambil oleh Babeh itu mengantarkan saya ke ajang Perempuan Inspiratif Nova 2014 (PIN 2014) beberapa foto adalah hasil jepretan Babeh Helmi ketika dimuat di Tabloid Nova.

Saat di Surabaya penganugerahan PIN 2014 tidak banyak dihadiri teman-teman yang biasa maksa motret (termasuk babeh nggak ada huehehe) jadilah saya nggak ada yang motret-in. Paling sama Mbak Tatiek atau Mama Loretha gentian foto. Meski lagi-lagi, saya lebih banyak motret orang. Lah wong pas malam itu saya pecicilan lari kesana kemari ngejar Bu Risma buat ngambil fotonya beliau.
 Beruntung, saya nggak pake sandal tinggi jadi bebas lari-lari. Hehehe

Pas acara sudah selesai, masing-masing teman pun sudah masuk kamar. Dan Mbak Ida, teman sekamar saya belum masuk. Beliau masih berkumpul dengan keluarganya. Iseng-iseng di kamar mandi saya selfie depan cermin, dong. Hahahaha… Tuh, giliran selfie pun tetep ngumpet-ngumpet. Nggak berani gitu di depan umum. Malu :D

Malam itu, di antara hadiah-hadiah yang berserak, Di antara piala dan bunga yang saya letakan bersampingan tak pernah terpikirkan sebelumnya ketika semua rasa malu saya, rasa rendah diri saya akan diapresiasi sedemikian rupa. Malam itu, saya memperoleh piala. Bahwa hidup itu tak ada yang sempurna, bahwa segala rasa minder saya di depan kamera itu ada penangkalnya, percaya diri. Segala puji, hanya milik Allah....


Mengikuti kontes selfie storynya emak gahul bersama smartfren
baca selengkapnya...
Diposting oleh Anazkia Aja | 9 komentar

Drama Kereta Api Menuju Cirebon




"Temen-temenmu...." jam 14.59 tanggal 27 Maret,  Fikri menegur saya di whatsapp.

":|" saya hanya memasang muka datar membalas chatnya.

"Gemes. Kalau aku tak tinggal wae. Lebih ribet dari manajernya Syahrini. Lebih ribet dari manajernya Syahrini," Fikri mengulang dua kali kalimat lebih ribet dari manajernya Syahrini. Saya hanya tertawa terbahak membalas chatnya. 

Pagi itu, Jumat 27 Maret 2014 sehari sebelum keberangkatan kami semua menuju Cirebon, salah seorang teman saya, Kak Yulia membatalkan untuk pergi ke Cirebon. Garuk-garuk kepala saya dibuatnya. Sementara untuk ke Cirebon kali ini PIC tiketnya Diaz, jadi semua data ada dengan Diaz. Jadi pagi itu saya ngerusuh ke Diaz meminta kode booking tiket kak Yulia untuk diprint dan dicancel keberangakatnnya. Nah, dalam proses pinta meminta kode booking ini pun rada ribet. Ini kalau Diaz dekat beneran saya uyel-uyel kepalanya. Saya sudah bilang berkali-kali kalau Kak Yulia sudah biasa mengubah keberangkatan, tapi Diaz tetap saja khawatir. Gubrakssss.... #PasangMukaDatar

Karena Kak Yulia mau ngeprint tiket, sekalian saya minta tolong untuk diprintkan tiket kami semua. Hari itu, saya juga menuju kantor Gagasmedia janjian dengan Fitri untuk mengambil buku. Agak ribet karena lagi di jalan, saya bilang di group kalau Diaz suruh kirim email ke Kak Yulia untuk mengirim semua email kode booking tiket. Menjelang siang, di group whatsapp Menuju Cirebon, teman-teman kok pada sibuk membahas print tiket. Padahal saya sudah bilang kalau tiket akan diprint hari itu. Pufff... Itulah kenapa Fikri menulis kalimat seperti di atas hahahaha... Lah wong saya sudah bilang tiket sudah diprint, tapi teman-teman kok masih sibuk membahas besok print tiketnya gimana. Sepak satu-satu ke laut -_-

Meski email sudah dikirim ke Kak Yulia, tapi rupanya Kak Yulia tidak bisa membuka email satu persatu dikarenakan koneksi lemot. yah wis, akhirnya saya minta forward balik emailnya ke saya, dan saya download satu-satu baru saya kirim kode booking melalui whatsapp. Dan rupanya ada satu tiketSebelum itu, Kak Yulia mengabarkan kalau ada satu kode booking yang tidak bisa diprint. Owh, ternyata saya salah mengirim kode, huruf A saya tulis 4. Nah, pas saya kirim whatsapp ternyata Kayulia udah beranjak meninggalkan stasiun. Jadi hari itu hanya ada satu kode booking yang belum bisa diprint. Sorenya kak Yulia mengantarkan segepok tiket ke kosan, baru pulang menjelang pukul embilan malam.

Malam itu, saya belum beres-beres barang bawaan, buku juga belum diberesin masih teronggok begitu saja. Sementara di group Kelas Inspirasi ada diskusi dan di BBM, Rony yang saya pesankan pin untuk booth Hibah Buku di Kementrian Perindustrian tanggal 14-17 April juga sibuk menanyakan koreksi desain. Waduh, mendadak mumet. Sampai kemudian akhirnya saya matikan paket internet :D trus akhirnya tidur. Eh, sebelum itu SMS Fikri menanyakan perihal lampion apakah jadi dibawa atau tidak.

"Ya udah kalo gitu bawa juga gak apa-apa. Udah tidur sanah. Besok pasti lebih ribet lagi." dan saya jawab kalau dah jalan, mah, nggak ribet malah rame. Tapi, apa iya nggak ribet? :)))) pukul 10 lebih, saya tidur

Kemudian besoknya....

Saya bangun sebelum pukul tiga pagi. Mengemas sedikit baju, memasukan peralatan mandi, mengikat buku, memasak mie goreng dan bersiap-siap mandi. Menjelang pukul empat kurang, saya menanti-nanti dering telpon dari pak Amin, sopir taksi langganan yang biasa mengantarkan saya kalau bebergian pagi hari. Sampai pukul empat lewat, pak Amin tak kunjung menelpon, akhirnya saya menlpon beliau. Kabar yang saya dapat kalau pak Amin tak bisa menjemput karena mobilnya tak bisa distarter membuat saya sedikit bete, ini berarti kudu jalan ke depan dengan membawa sedikit beban yang lebih berat. Saya mengabarkan kepada Nita, akhirnya kami berjalan ke depan mencari taksi. Sampai di gang depan, Kopaja P20 jurusan StasiunSenen lewat di depan kami, akhirnya kami naik Kopaja. Penghematan ini ^_^

Alhamdulilah, sampai di stasiun pas adzan subuh berkumandang. Saya menuju mesin cetak tiket, untuk print tiket yang belum bisa kemarinnya. Rupanya itu milik Mbak Irma dan Mbak Isti. Teman-teman yang lain sudah sampai, kami janjian di ruang tunggu. Selesai shalat subuh, kami kembali ke ruang tunggu mengecek tiket satu-satu. Kami seperti lupa waktu, kalau kereta akan berangkat pukul 05.30 pagi. Jam 05.19 menit kami baru beranjak meninggalkan ruang tunggu menuju pintu masuk. Belum sampai di pintu masuk, terdengar pemberitahuan kalau kereta Kutojaya Utara akan segera berangkat. What!!! kami segera berlari-larian, lupa satu sama lain. Enam belas tiket sudah dipegang oleh Kak Like, berlari-larian kami menuju gerbong kereta (Hyak ampun, saya nulis ini kok ngakak hahahaha) 

Sampai di gerbong kereta, hape saya berdering, nama Kak Iwan terlihat di hape. Ya Allah, saya melupakan sepasang suami istri yang belum masuk ke gerbong. Dengan suara yang terengah-engah, saya menyuruh kak Iwan masuk saja langsung menuju gerbaong kereta, bilang saja tiket sudah ada pada rombongan yang 16 orang. Tak lama Kak Iwan muncul dan langsung masuk ke gerbong kereta. Sampai saja Kak Iwan masuk, kereta langsung meninggalkan Stasiun Senen. Dan kami, masih mencari dua orang, Mbak Irma dan Kak Isti! Astaghfirullah... Dari sejak shalat subuh, saya tak membuka group whatsapp. Ternyata Kak Isti sudah sampai sejak pukul setengah lima pagi, sedang Mbak Irma belum sampai di stasiun!!. Makkkk... kepiye iki? Bayangkan betapa tidak enaknya saya dan juga teman-teman yang lain.

Setelah di dalam kereta, kami baru intens membuka whatsapp dan ngobrol. Kami memang tidak satu gerbong, karena beli tiketnya tidak berbarengan. Kami lebih banyak memantau Mbak Irma dan Kak Isti. Tadinya saya pikir mereka akan naik kereta Tegal Ekspress, tapi mungkin sudah tidak ada tiket. Dan kabar terakhir, Mbak Irma dan Kak Isti naik bis. Gubraksss... bisa enam jam lebih itu :/

Pukul 09.30 kereta sudah sampai di Prujakan. Fikri sudah menunggu kami dengan sopir elf dan langsung berangkat menuju Dompyong Wetan, kampungnya Fikri. Alhamdulilah, kami ber 14 sampai dengan selamat. Menjelang pukul sebelas, Fikri menjemput empat teman kami yang baru datang di Stasiun Babakan, Kak Weni, Kak Fitri, Kak Tika dan Kak Ica. Hampir jam lima sore ketika  Mbak Irma, Kak Isti dan Kak Apip sampai dengan selamat. Alhamdulilah, meski dengan penuh drama, kami semua sampai dengan selamat di halaman belakngnya kak Fikri. Eh, masih ada satu orang lagi yang belum sampai, Monik! Monik berangkat jam lima sore dariJakarta dan sampai di Cirebon pukul delapan malam. Dan untuk Monik sendiri, saya meminta tolongMas Dhani untuk menjemput di Prujakan dan diantarkan ke Dompyong Wetan. Tepat jam sembilan malam, Monik dan Mas Dhani sampai di Halaman Belakang.

Untuk kegiatannya, bersambung lagilah, besok (kalau rajin, tapi)

Kak Jeni, Kaken, Kanopi dan Kadiaz
Kawili, Kak Jaka, Kak Salman dan Kalike
Indah ^_^
Kak Iwan dan Kak Dewi, sepasang suami istri ^_^
Alhamdulilah, kami sampai :)

Quin tidur sepanjang jalan

Mienya saya kebagian segini doang, itu pun hasil ngerampok yang lagi dimakan Salman hahahaha

Alhamdulilah, Mbak Irma, Kak Isti dan Kak Apip sampai dengan selamat ^_^


Alhamdulilah, sampai di halaman belakang :)




baca selengkapnya...
Diposting oleh Anazkia Aja | 6 komentar

Jual Barang Bekas Bisa Berbagi Dengan Sesama

Amrit Gurbani sedang memberikan contoh cara menjual barang di iSiaga


Kalau kita berkunjung ke Rumah Dunia milik Mas Gol A Gong kita akan menemukan pohon yang isinya bergelantungan bekas alat-alat elektronik. Dari mulai komputer dan segala perangkatnya, televisi, piano dan banyak lagi. Lupa pula isinya apa aja, karena saat berkunjung ke Rumah Dunia kok yah nggak motret. Kalau ingat sampah elekronik yang bergelantungan itu kelihatan unik. Karena jadi semacam pohon yang berbuah segala bentuk elektronik, tapi sudah tidak terpakai lagi. 

Kakak saya pernah menjual mesin cuci bekas di tukang rongsokan langganannya. Beruntungnya, ibu-ibu tukang rongsokan langganan itu mau berbaik hati menerima rongsokan mesin cuci bekas kami. Dengan gerobaknya, Ibu rongsokan mengalihkan mesin cuci yang sudah tidak terpakai ke rumahnya sebelum dibawa ke pul barang bekas.

Kemajuan zaman saat ini yang dipenuhi dengan segala macam barang elektronik baik handphone, kamera digital, AC, komputer, laptop, mesin cuci, kulkas dan banyak lagi tentunya menambah deretan sampah yang ada di atas muka bumi. Nah, masalahnya sampah elektronik ini tak serupa macam sampah basah yang mudah terurai, tak juga macam sampah kertas yang bisa diolah lagi. Lantas, ke manakah sampah ini harus dibuang?

Nah, ngomongin sampah elektronik, Senin 16 Maret 2015 bersama dengan teman-teman dari Komunitas Warung Blogger saya menghadiri launching iSiaga ecocash bertempat di Pong Me Lounge, Jl. Gunawarman No. 37. Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Apa, sih, ISiaga itu? iSiaga adalah sebuah situs solusi digital yang belum lama ini telah merilis layanan baru, namanya EcoCash. Pelayanan EcoCash memudahkan kita untuk menjual barang elektronik yang sudah tidak dipakai lagi. Saat menjual barang elektronik yang sudah tidak terpakai lagi, harganya akan beragam tergantung kerusakan. Misalnya, handhpone yang masih bisa hidup atau sudah mati total, harganya akan berubah.

Bagaimana cara menjual barang-barang elektronik bekas ini dan apa saja yang bisa dijual di iSiaga? Apa kita perlu mengangkat sendiri barang elektronik ini ka kantor iSiaga? Owh, tentu saja tidak, karena caranya tentu sangat mudah, Pertama, tentunya kita bisa langsung menuju laman isiaga.com. Di situ dijelaskan mengenai apa saja yang bisa dijual dan bagaimana prosesnya. Macam-macam barang yang bisa dijual di iSiaga adalah, komputer, handphone dan tablet, printer, kamera, televisi, mesin cuci dan AC. Cara menjualnya gimana?

Ada perbedaan harga barang yang masih bisa dipakai dan yang sudah rusak total.

Menurut Amrit Gurbani, Co Founder Lighthouse Indonesia yang merupakan induk iSiaga, barang yang sudah dijual nanti akan diambil oleh tim dari iSiaga. Untuk pengambilan barang sendiri tidak ada cas biaya yang akan dikenakan untuk daerah Jakarta dan Tangerang. Bukti pembayaran kwitansi akan diserahkan kembali melalui email setelah barangnya diambil. Sementara untuk luar daerah, Depok, Bekasi, Bogor biaya akan dikenakan untuk pengambilan barang. 

Dikemanakan barang-barang yang sudah dibeli oleh iSiaga? Masih menurut Amrit Gubrani, sampai saat ini pihaknya sudah bekerja sama dengan para pengepul yang ada di Bekasi dan Jakarta. Menurutnya, iSiaga hanya sebagai perantara, selebihnya barang-barang akan dikirim ke pengepul.

Yang menarik dari iSiaga EcoCash adalah program sosial. Yah, kalau kita mau dari barang yang kita jual bisa disumbangkan langsung ke Yayasan Cinta Anak Bangsa  (YCAB) Ini adalah cara mudah berbagi tanpa harus merogoh kocek sendiri. Berbagi dengan barang bekas kita, tapi bisa membantu sesama. Di rumah Kakak saya banyak handhpone yang sudah rusak dan mangkrak tak terpakai, mungkin nanti lain kali bisa saya minta dan saya jual ke EcoCash, sekalian mencoba pelayanan EcoCash :)



Bareng teman-teman Warung Blogger, dokumentasi milik Mbak Evi (Eh, Mbak Avi atau Mbak Eva ini?) :D

Alhamdulilah, dapat door prize, dokumentasi milik Mbak Evi



baca selengkapnya...
Diposting oleh Anazkia Aja | 15 komentar

Sejuta Berkah Dari Ngeblog



Sejuta berkah dari ngeblog, judul di atas saya kutip semula dari tajuk di Tabloid Wanita Indonesia edisi 26 Februari lalu. Kenapa saya tiba-tiba muncul di Tabloid Wanita Indonesia? Eh, sebetulnya nggak tiba-tiba juga, karena sebelumnya pasti ada proses wawancara. Tapi, memang betul kalau reporternya tiba-tiba menghubungi saya. 

18 Februari lalu, ada nomor asing yang menyapa saya via whatsapp, "Siang Mbak Anaz, apa kabar? Saya Arimbi dari Tabloid Wanita Indonesia :) saya mau tulis profile tentang Mbak, bisa minta waktu untuk wawancara?"

Saya menanyakan ke Mbak Arimbi, apakah wawancara akan dilakukan melalui email atau langsung. Dan dengan cepatnya, Mbak Arimbi meminta ketemuan secara langsung. Baiklah, setelah Mbak Arimbi menanyakan domisili di mana, akhirnya dia sepakat kami akan ketemuan di Pejaten Village. Dua hari kemudian, kami bertemu di Pejaten Village. Menarik sore itu adalah ketika Mbak Arimbi mulai menanyakan masa kecil saya. Aih, itu istimewa. Lalu, tak lama setelah itu meluncurlah cerita masa kecil saya :)

Sore itu, di beranda cafe Pejaten Village mengalirlah macam-macam cerita dari mulut saya. Sementara Mbak Arimbi sibuk bertanya dan menyimak segala ucapan saya yang ia rekam di smartphonenya.

Di cafe itu juga, untuk kedua kalinya saya bertemu dengan wartawan dari media yang wawancara saya. Sebelumnya, saya pernah diwawancara oleh Mbak Aida dari majalah Ummi. Ceritanya bisa dibaca di tulisan ini. Dan alhamdulilah, majalah Ummi edisi bulan Maret sudah keluar. 

Sejatinya, dalam banyak hal apapun, saya sebagai manusia tak pernah bisa berdiri sendiri. Ada mereka,  Ibu saya yang tak pernah lelah mendoakan saya. Tak lupa adalah mereka teman-teman yang selalu mendukung serta mendoakan saya, merekalah perisai keberanian saya. Keberanian untuk melangkah, berbuat dan belajar banyak hal. rasa terima kasih saya telah saya tuliskan di Kompasiana, Terima Kasih Kepada Mereka dan Media

Masih di Tabloid Wanita Indonesia
Majalah Ummi

Berkah ngeblog, berkah silaturrahim. Terima kasih kepada semua teman-teman saya. Segala puji hanya milik Allah ^_^


baca selengkapnya...