[Serial Twitter] Nengokin Bayi

Ini postingan iseng, idenya setelah beberapa teman di twitter pada mention-mention gemblung berjam'ah. Dari pada di twitter dibatasi hanya 140 karakter, saya iseng menulis cerita serial ini. Sebelumnya, saya pernah ada serial blogger yang baru sekali ditulis (jiyah, jadi merasa bersalah belum melanjutkan ceritanya) Di multiply, saya juga ada serial, "Bukan Lenong Rumpi" tapi setting hanya untuk kontak doank dan sudah lama tak up-date. e'ini malah buat baru #nyengirrrr, semoga gak istiqomah juga :D

Suatu sore, di beranda rumah Pak Kuncen, berkumpul para mahasiswanya yang sore itu sengaja datang berkunjung ke rumah Pak Kuncen untuk menjenguk bayinya. Yah, Pak Kuncen baru saja mendapat kebahagiaan atas lahirnya seorang putra dari istri tercinta, Mak Kuncen. Meraka datang beramai-ramai langsung dari kampus, setelah sebelumnya singgah ke sebuah toko untuk membeli sedikit buah tangan untuk dihadiahkan kepada bayi lelaki Pak Kuncen. Owh ya, sebelum bicara lebih jauh tentang kunjungan mereka, ada baiknya kita mengenali dulu siapa saja yang berkunjung ke rumah Pak Kuncen.

Ada Almastice yang selalu terlihat antik dengan penampilan kelihatan unik. Sebenernya nggak unik-unik amat, sih. Yang paling menonjol dari keunikannya dia itu imut, alias item mutlak. Eh, enggak nding dia ini item manis, tinggi semampai enggak gemuk-gemuk banget juga nggak kurus-kurus banget. Karena keimutannya, juga karena ia berasal dari Ambon, ia dijuluki ambon manise oleh sahabat-sahabat dekatnya. Dia sih asyik-asyik aja, kata dia, "Selagi elo kagak nyenggol gue" #pletak!

Maztrie, apa yang kita bayangkan dari cowok ini? Apakah imut juga seperti Almastice, atau rupawan seperti briptu Norman? halagh, Mas Norman gak rupawan, ah. Eh, balik lagi ke Maztrie, dia ini lain dari pada yang lain di antara teman-temannya. Kalau ada yang gemuk, kalau ada yang agak gemuk dan kalau ada yang proporsional dia ini paling kurus di antara yang lain. Nggak tahu kenapa dia bisa kurus banget gitu. Cowok tulen asli Jogja, karena saking kurusnya, dia dipanggil ikanteri sama temen-temennya. Lagi-lagi, dia asyik-asyik aja. Katanya, "Selagi elo kagak nelen gue." #jiyahhh

Joddie yang rambutnya selalu awut-awutan kadang mirip brokoli, cowok pendiem yang nggak jelas. Lho, kok bisa nggak jelas? Iya, soale dia ini saking pendiemnya kalau ngomong kelihatan nggak jelas banget. Antara bergumam dan berucap itu nggak ada bedanya, butuh keahlian khusus untuk mendengar kalau dia bicara. Jadi, kalau sedang berkumpul Joddie kemudian berbicara suasana mendadak hening, hanya suara jangkrik yang terdengar. "krikkk... krikk... kriikkkk...

Jonkey, mahasiswa abadi yang jarang banget mandi. Heran, betul-betul heran dengan mahasiswa ini sejak belum menjadi mahasiswa sampailah ia sudah menjadi mahasiswa Jonkey jarang banget mandi. Jong itu rajin mandi kalau ada sebab, misale lihat-lihat dulu siapa yang masuk leas hari itu. Kalau dosen yang ia sukai, otomatis Jonkey akan mandi pagi, tapi kalau dosen yang ia benci? Fyuuuhhh.. jangan harap deh. Jadi, kalau mata kuliah tertentu kita deket-deket dia rada-rada burket githu. Beruntungnya, ada seseorang yang selalu setia membawakan Jonkey ini deodorant, siapakah orang itu? Kita tunggu setelah iklan ini #halagh

Else, penampilannya kece, keren, selalu kemas meski hanya pergi ke kuliah. Soale dia ini hobi njahit, jadi kalau pake baju selalu dipadu padankan sesuai atau enggaknya. Kerudung, baju, celana, tas, sendal, sepatu pokoknya kudu matcing. Kata dia, orang matching itu mirip kucing, eh, salah dia bilang matching itu penting. Yah, dia, sih enak bisa dengan mudahnya mendapatkan baju yang matching-matching itu, soale kan selain kuliah, dia juga membuka lapak jahitan. Karena membuka lapak jahitan juga, Else dikasih julukan "Perempuan berkalung gombal." Apa tanggapannya? "Selagi elo kagak gombalin gue" #gubraks

Fiko, wartawan kampus, pinter, supel, banyak temen dan banyak kenalan para pejabat. Maklumlah, ini juga imbas dia jadi wartawan kampus. Soale selain wartawan kampus, dia juga magang di salah satu surat kabar harian lokal. Hobi motret, selalu bawa kamera ke mana-mana juga selalu membawa catatan kecilnya. Temen-temennya segen ama dia, jadi gak ada julukan unik untuknya. Tak juga pernah didengarnya tentang hal buruknya. Tapi, kudu ati-ati juga dengan dia, soale kalau jalan ama dia tiba-tiba ketemu tikus di manapun, dia akan berteriak "e'copot.. e' copot.. tikusnya copot, eh, tikusnya lari, lariiii..." Dia akan terbirit-birit. Rupanya, dia takut tikus juga latah tentu saja #tepuk jidat

Yolis, cewek berambut panjang yang manis, lembut dan kalem. Kalau ngomong satu-satu, kayak putri solo. Kadang sering bikin bete temen-temennya, soale keburu Belanda dateng, dia belum abis juga ngomongnya. Makannya juga lelet banget, sering ditinggal di kantin sama yang lain, tapi masih ada yang selalu setia menemaninya. Nah, dia ini rajin banget bawa deodoran ke kampus, tahu donk untuk siapa? Iyah, bener, untuk si Jonkey yang jarang mandi dan temen yang selalu setia menemaninya di kantin, yah bisa ditebaklah. Jonkey ajaib itu. Owh ya, meskipun Yolis kalem dan lembut, tapi dia ini suka kentut sembarangan #geleng-geleng kepala

Ajeng, Kalau di atas ada Fiko yang pinter, supel banyak temen dan kenal banyak pejabat, Ajeng juga nggak beda jauh. Karena mereka ini adalah satu tim. Bedanya, Ajeng tidak suka memotret. Ajeng ini suka bikin puisi di buku diarinya, meluahkan rasa, menumpahkan kata juga menuliskan keluh kesahnya pada diari buluknya. Soale diari itu dah bertahun-tahun nggak ganti. Dia ini cewek hemat cermat dan bersahaja, jiwanya pramuka banget deh #eh satu kelemahan Ajeng, dia ini pelupa akut. Itulah kenapa ia selalu rajin menulis dalam diarinya. Meski tentu saja, ia tetap lupa #terlaluh

Pradna, menjuluki dirinya cowok paling atletis di kampus, paling imut nyaingin Almastice. Pembaca keadaan juga pembicara keadaan. Diam menyimak kalau ada yang lagi ngomong tanpa pernah menukasnya, kemudian ia akan berbicara panjang lebar setelah mendengarnya. Karena keunikan dia yang suka bercerita panjang lebar, ia dijuluki tukang cerita oleh teman-teman yang lainnya.
***
Ok, sekarang kembali ke rumah Pak Kuncen apa agaknya yang terjadi kalau mereka berkunjung ke rumah Pak dosennya? Yah, orang yang dipanggil Pak Kuncen itu adalah dosen mereka, dosen mata kuliah acak kadul. Mereka semua kuliah di Universitas Kehidupan, fakultas alam maya pada. Mereka semua sekelas, senasib sepenanggungan.

"Ayo, Nak, silakan masuk ke dalam rumah, duduk kat sini." Pelawa Mak Kuncen kepada mahasiswa suaminya. Mak Kuncen sama pak Kuncen ini orang Riau, jadi jangan heran kalau mereka ngomongnya rada-rada melayu sikit. Paham-paham jelah...

"Owh, iya, Mak, biar kami di luar saja." Ajeng membuka suara mewakili yang lain.

"Betul, Mak, di sini lebih adem." Almastice menambahkan sambil kipas-kipas.

"Di dalam juga ada kipas angin, Nak. AC juga bisa dinyalakan, sini..sini...," Mak Kuncen kembali mempelawa mahaiswa-mahasiswa suaminya. Sambil sibuk membawa minuman.

"Udah, Mak, kami lebih nyaman di luar. Bisa ndlosor dan ndeprok," Else berkata sambil membenahi kerudungnya yang baik-baik saja.

"Ho'oh, Mak, di luar lebih nyaman," Jong menambahkan sambil mengeluarkan sebungkus gorengan, kemudian meletakannya di pinggan yang sebelumnya dibawa oleh Mak Kuncen. Jonk terlihat segar sore itu, kabarnya, pagi sebelum ke kampus Jonk melakukan ritual yang jarang banget ia buat, mandi. yah, mandi adalah ritual khusus buat Jonkey ketika bertemu dengan Pak Kuncen. Jonkey memang menggemari Pak Kuncen. Hebatnya Jonk, meskipun ia mandi pagi hari, tapi kesegarannya terasa sampai sore hari #apa coba? kayak iklan aja, eh, lanjut, ah...

"Sudahlah, Mak, mereka tak nak duduk di dalam, biar di luar saja." Pak Kuncen keluar dari rumah, menggunakan kaos bolong, eh, oblong dipadankan dengan sarung gajah duduk. Jiyah, sampe merek-mereknya ditulis hihihi... (halagh, ngekek sendiri malahan) Pak Kuncen langsung membaur dengan mahasiswanya, duduk ndlosor dan ndeprok seperti yang lain. Mak Kuncen kembali keluar dengan membawa bayi yang diletakan di tempat khusus bayi (mosok mau ditao di baskom)

Mahasiswa-mahasiswa yang lebay itu langsung mengerumuni seleb facebook yang belum kenal facebook tersebut. Soale, sejak kelahirannya, Pak Kuncen sudah mengupload foto sang bayi di FB. Else, Ajeng, Yolis mereka bergantian menggendong sang bayi. Sampai Mak kuncen ribet dan rimas, akhirnya, dengan halus Mak Kuncen berujar

"Nak, sini Ibu mau susuin Fajar dulu. Kasihan, dia belum menyusu." Setelah bayi berada di tangannya, Mak Kuncen permisi meninggalkan mereka semua. Else, Ajeng dan Yolis merana karena sang bayi sudah dibawa empunya.

"elo, sih, megang anak orang kayak megang boneka," Fiko ngeledek

Mereka tak menghiraukan ledekan Fiko, akhirnya bergabung ngobrol dengan pak kuncen dan yang lainnya. Berhubung hari sudah senja, mereka akhirnya meminta diri untuk pamit. Setelah salama-salaman, Maztrie mengulurkan sebungkus plastik besar ke tangan pak kuncen.

"Pak, ini seperlunya dari kami, untuk Dek Fajar."

"Ah, kalian ini, menyusahkan saja. Mbok ya nggak usah repot-repotlah," Ujar Pak Kuncen memperhatikan bungkusan plastik yan terlihat berantakan.

"Kami nggak repot, Pak. Maaf tidak kami bungkus," Pradna menambahkan

"Ya sudah, nggak apa-apa. Terimakasih banyak."

"Ok, Pak, kami pulang dulu. Assalamu'alaikum..." Serempak mereka memberi salam.

"Waalikumussalam..." Jawab pak Kuncen sambil mengantarkan mereka sampai ke garasi. 

"Salam buat Mak Kuncen, Pak," Tambah Else balik badan

Mereka berjalan beriringan menuju jalan besar keluar dari perumahan Pak Kuncen. Menunggu angkot, yang nantinya akan mengantarkan mereka ke tempat kos masing-masing. Selama menunggu angkot, mereka kembali membuka obrolan.

"Eh, tadi kalian beli apa aja untuk anak Pak Kuncen?" Else membuka suara. Soale tadi dia nggak ikut belanja belanji, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Maztrie, Almastice, Joddie dan Pradna. Sementara dirinya, Yolis, Ajeng, Jonkey dan Fiko menyantap makanan siang.

"Nggak tahu, semua aku rawut aja," Maztrie merogoh kantongnya meneliti struk belanjaan. "Nah, lihat sendiri" Ia mengulurkan struk itu kepada Else

"Dasar anak-anak gila!" Else kelihatan emosi.

"Kenapa, El?" Yolis dan Ajeng mendekat. Yang lain penasaran ikut-ikutan ndeketin, tapi nggak bisa ngelihat.

"Apa-apaan ini? Mosok beli hadiah untuk bayi ada baut segala? Terus, ini ada lipstik juga? Buat apa beli lipstik, kan untuk bayi?!" Else bener-bener keki. "Siapa, sih ini yang belanja?"

Semua saling tunjuk, Maztrie menunjuk Almastice, Almastice menunjuk Joddie, Joddie menunjuk Pardna. Ndilalah, tiba-tiba pada senewen sendiri. kalau dipikir kok yah aneh, mosok beli kado untuk bayi ada baut sama lipstick segala. Masing-masing mendadak bungkam, angkot yang lewat dibiarkannya begitu saja. Usut punya usut, ternyata saat belanja masing-masing memang asal rawut aja, maksudnya apa yang dilihat, itulah yang dimasukan ke dalam trolly belanjaan. Beruntung mereka amsih membeli pampers juga beberapa helai baju bayi. Tertutuplah sedikit rasa malu kepada pak kuncen. Tapi, baut dengan lipstick untuk apa? Geleng-geleng kepala.

Apa agaknya yang akan diucapkan ketika bertemu dengan pak Kuncen esok hari di kampus...

#bersambung




36 komentar:

  1. Nyoba komen, udah gak pake moderasi lagi

    BalasHapus
  2. ndak bisa dikomentari =))

    jadi inget cerita sekuel para bajak laut =))

    BalasHapus
  3. Eh, ini salah format, kudunya bukan serial twitter, tapi cerbung twitter, soale bersambung, sih...

    kalau serial kan sekali tampil menyelesaikan sebuah cerita. haduhhhh...

    #ngomyang dewek

    BalasHapus
  4. Else, penampilannya kece, keren,<~ catat ini yach...catat!...*gak beda ma aslinya...#percayalah
    *sisiran

    BalasHapus
  5. Sungguh aku menyesal menuliskan karakter Mbak Elseh sungguh menyesallll

    BalasHapus
  6. huahuahhh....

    pak lipstiknya itu buat ibu biar cepat dapat adek lagi. nah looo
    lah klo bautnya itu buat, yo mbuh karepe bapak. :p

    BalasHapus
  7. Almastice yang selalu terlihat antik dengan penampilan kelihatan unik. <<<<<---


    *dengan bacaan Bismillah, besok saya berangkat ke Museum Maluku untuk mendaftar jadi pemeran Mummi :|


    *dan terpana pada comment else diatas*
    *masuk dibawah kasur*
    =))

    BalasHapus
  8. aduh sekarang emang belajar berdandan itu sejak bayi,heheh

    BalasHapus
  9. ya gak apa apa mbak bayi dikasih lipstik juga,sekarangkan jamannya bayi centil

    BalasHapus
  10. @almascatie, kalau menang bilang2, yahhhhh :P

    Komentarnya Mbak Else sungguh menghancurkan hatiku merusak mood :D

    @jantung :)

    @agen, hehehe, bayinya cowok kalee :)

    BalasHapus
  11. Blognya, keren...
    Ajarin dong,cara bikin cerita yang menarik dan bermanfaat, Mbak Anaz. ;)

    BalasHapus
  12. Iruullll, jiyahhhh, ini kan cerita iseng dari twitter, kalau mau bikin sendiri yah Mbak malah bingung jew hehehe

    BalasHapus
  13. Heh...
    Itu kenapa yang bawa-bawa bedak gak di ikutinn...????
    Pan pertamanya yang jualan bedak si @attayaya(bedak) ituhhh.....
    huftt.. #mecucu

    BalasHapus
  14. Sigh, lali aku, Mas. Padahal dah setting awal2 bawa bedak #hufffftttt

    BalasHapus
  15. jika kita membuat kata2 kita sedang iseng bisa menjadi kita lebih kta2 itu lebih indah merangkainya

    BalasHapus
  16. yooo... yg mau kompor... ayo beli ayo beli...
    mari bu
    mari pak
    3 seribu 3 seribu

    BalasHapus
  17. Jonkey..hehehe hampir mirip teman saya yang anti air hehehe alias jarang mandi hehehe

    BalasHapus
  18. wew, ditunggu kelanjutan ceritanya mba..
    hohoho :o

    BalasHapus
  19. lucu juga postingan nya..
    di tunggu artikel selanjut nya ya mbak.

    BalasHapus
  20. Tetep kereeen ;)

    Aku nggak punya twit Mbak, hari gini nggak punya, ya emang g punya, hehehhheee

    BalasHapus
  21. wow.. bener-bener bersambung nih. ditunggu ya

    BalasHapus
  22. Euh, latar belakang tokohnya oke, udah lengkap, ada semua. Saya bisa ngebayangin seperti apa mereka. Tapiiiiiii saya gak bisa bayangin setting tempatnya. Di mana dan kayak apa ruangan terjadinya semua percakapan di atas kurang ter-deskripsi. :(

    BalasHapus
  23. Saya terbiasa mbaca novel thriller-crime dan terbiasa membayangkan setting tempat. Semua saya bayangkan. :)

    BalasHapus
  24. hihihi.. ternyata udah banyak yang komen di sini... :D

    eh, mbak kok bilang2 sih kalo aku suka bawain deodoran untuk jonk.. ketauan deh aku suka jualan deodoran #eh :p

    BalasHapus
  25. Aku Hadir lagi buat nengokin bayi Eh nengokin posting ini

    BalasHapus
  26. mbak anaz mulai sibuk nih keliatannya... Jadi jarang jalan jalan... :D

    BalasHapus
  27. Eh, itu Almastice ya, bukan Almascatie? Beda dengan blogger yang dulu sering saya kunjungi blognya berarti.

    BalasHapus
  28. wkwkwkwwk konyol deng, masa baut sama lipstik dibikin kado buat dede bayi.
    hahahaa buat ibu=bapaknya kali..hehehe

    BalasHapus
  29. harusnya, kalo Joddie lagi bicara mesti pake speaker tu, biar kedengaran, hehheehe

    BalasHapus
  30. oalah, ini tho serialnya..bentar tak simpen ae, baca dirumah..#ngendon di warnet nih

    BalasHapus
  31. jahahahah ... sekarang udah rajin lho mba. mandinya. tapi .. bohong :(

    BalasHapus
  32. Else, penampilannya kece, keren, selalu kemas (menyesal sekali telah terbaca kalimat ini :P)

    Kerudung, baju, celana, tas, sendal, sepatu pokoknya kudu matcing. (ini kudu di ralat, soale wanita berkalung gombal itu selalu pake baju dan kerudung seperti kena tabrak lari) #percayalah :P

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P